Home » Archive

Artikel mengenai: pertanian

Kota Batu, Sorotan »

[12 Jan 2012 | No Comment | ]
Pupuk Kimia No, Pupuk Organik Yes

Para petani hortikultura di wilayah Batu, kini mulai mengubah cara bertaninya. Jika dulu mengandalkan pupuk kimia, kini mulai banyak yang beralih ke pupuk organik. Mereka yang sudah mencoba ”cara baru” itu, mulai merasakan manfaatnya.
JIKA dihitung, lahan di wilayah Kota Batu bisa mencapai 19.908 hektar. Dari luasan itu, 9.500 hektar lebih dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura. Sedangkan sekitar 2.500 hektar untuk tanaman palawija. Sisanya, yang masih berupa hutan, juga dimanfaatkan oleh warga untuk dijadikan lahan pertanian. Ada yang dikelola Tahura (Taman hutan rakyat) maupun pihak Perhutani. Biasanya, mereka ini memanfaatkan lahan kosong …

Kota Batu, Pendidikan, Utama »

[24 Des 2011 | No Comment | ]
Program Kewirausahaan SMK dengan “Ijazah” Kambing

Membagi waktu belajar dan bekerja memang tidak mudah. Butuh ketekunan dan tanggung jawab agar keduanya bisa berjalan beriringan. Seperti yang dilakukan sejumlah siswa SMKN 2 Kota Batu. Selain belajar, mereka belajar wirausaha yang berbasis peternakan dan pertanian.

WAJAH ceria tampak dari raut siswa SMKN 2 Kota Batu. Setelah satu minggu mengikuti ujian semester, kemarin mereka melakukan berbagai kegiatan hiburan sekolah. Di antaranya, pementasan musik maupun kegiatan ekstrakurikuler lainnya.
Sambil menunggu penerimaan rapor yang rencananya dibagi hari ini, para siswa memanfaatkan kegiatan di luar sekolah.
Maklum, siswa di sekolah berbasis pertanian ini memiliki segudang …

Kota Malang, Utama »

[10 Okt 2009 | 7 Comments | ]
Kembangkan Metode SRI Pada Petani

Satu lagi metode penanaman padi yang efektif dan efisien dikembangkan di Indonesia. Dengan menggunakan sistem intensifikasi padi atau system of rice intensification (SRI) padi yang dihasilkan dapat lebih banyak dengan jangka waktu yang lebih cepat daripada menggunakan metode konvensional.
PT. HM. Sampoerna Tbk melalui payung program “Sampoerna Untuk Indonesia”, ikut mengembangkan metode SRI kepada para petani. Seperti yang dilakukan kemarin, dengan mendatangkan langsung Prof. Dr. Noman Uphoff, CIIFAD dari Cornell University, USA, penemu budidaya padi metode SRI, dalam semiloka kedua pertanian yang digelar bersama Universitas Brawijaya Malang di Guest House UB …

Kota Batu, Sorotan »

[10 Okt 2009 | 6 Comments | ]
Harga Naik, Senyum Petani Apel Terkembang

Siang itu di sebuah rumah yang berukuran besar, terlihat beberapa pekerja sibuk melakukan aktivitasnya. Bunyi mesin sortir yang menderu pelan menjadi musik yang mengiringi aktivitas para pekerja.

Kota Batu »

[6 Okt 2009 | 3 Comments | ]
Batu Ditawari Sister City Oleh Jerman

Kota wisata Batu ternyata cukup dikenal di Eropa, tidak tanggung-tanggung sebanyak 40 wisatawan dari Jerman mendatangi Pemkot Batu, Senin (5/10). Tentu saja kedatangan para turis ini sempat menarik perhatian para pegawai termasuk Walikota Batu, Eddy Rumpoko.
“Sebuah apresiasi bagi Pemkot Batu hingga ada tamu dari Jerman ini. Tentu saja kesempatan ini kita gunakan untuk promosi lebih jauh mengenai potensi kota wisata Batu,” kata Walikota Batu Eddy Rumpoko disela menemui para tamu.
Para tamu itu merupakan kelompok yang disebut dengan Frienship Post, yang bisa berkunjung ke beberapa negara. “Kita diajak kerjasama oleh para …

Kota Batu »

[6 Okt 2009 | No Comment | ]
Singapura Minati Kentang dan Cabai asal Batu

Potensi pertanian Kota Batu terus mengundang perhatian investor. Pekan lalu, giliran investor asal Singapura jajaki peluang penanaman modal dan ekspor sejumlah hasil pertanian dari Kota Batu.
“Importir asal Singapura itu sudah bertemu Pak Wali untuk menyampaikan rencana mereka dalam memasarkan beberapa hasil pertanian,” jelas Kabag Humas dan Protokoler Eko Suhartono. Ditambahkan, importir asal Singapura sudah melakukan survei di sejumlah kawasan pertanian. Dalam survei itu, hasil pertanian Kota Batu memungkinkan untuk dipasarkan ke Singapura.
Komoditi pertanian yang dilirik untuk diekspor ke Singapura itu diantaranya kentang dan cabai. Dua komoditi …

Kota Batu »

[26 Sep 2009 | 6 Comments | ]
Batu Alokasikan Rp 10,8 M untuk Agrobisnis

Sokongan dana Pemkot Batu pada keberlangsungan hidup petani tak hanya dalam berbentuk bibit tanaman, tapi juga dalam pembangunan infrastruktur. Bahkan, untuk perbaikan infrastruktur tersebut, Pemkot mengucurkan cukup banyak anggaran. Tahun anggaran ini, pemkot telah mengalokasikan dana sebesar Rp 10,8 miliar.
“Kucuran dana ini untuk pengembangan agrobisnis dan agroindustri,” kata Hendro Prasetyo, kepala Dinas Pertanian dan Perkebuan Pemkot Batu, siang kemarin.
Hendro menyebutkan, kucuran dana perbaikan infrastruktur itu untuk pembangunan tiga jaringan. Di antaranya, terbangunnya sarana Jitut (jaringan irigasi tingkat usaha tani), Jides (jaringan usaha tani desa) dan Jud (jalan usaha desa).

Kota Batu »

[16 Sep 2009 | No Comment | ]
Pembagian Bibit Kopi Arabika Tunggu Pengesahan Gubernur

Penantian panjang kelompok tani mendapatkan bantuan bibit kopi segera terjawab. Sekitar 10 ribu bibit kopi Arabika senilai Rp 150 juta bakal dibagikan kepada para petani. Itu menyusul tuntasnya revisi pengadaan bibit kopi yang ada di Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemkot Batu pada perubahan anggaran keuangan (PAK).
“Insya Allah saat musim hujan, bibit sudah dapat kami bagikan. Sekarang, kami masih menunggu pengesahan dari gubernur,” kata A. Hendro Prasetyo, kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemkot Batu, di pendopo, siang kemarin.
Hendro mengakui, pengadaan bibit bagi para petani itu sedikit mengalami keterlambatan.

Kota Batu, Sorotan »

[7 Sep 2009 | No Comment | ]
Kurang Pasokan, Apel  Tembus 20 ribu/Kg

Harga apel produksi Kota Batu menempati posisi tertinggi sepanjang 10 tahun terakhir. Di pertengahan kemarau ini, harga buah khas Batu itu telah menembus Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram di tingkat konsumen. Sedangkan harga di tingkat petani terkerek di angka Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogramnya.

Kabupaten Malang »

[6 Sep 2009 | No Comment | ]
KPP Awasi Distribusi Pupuk di Kabupaten Malang

Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KPP) Kab. Malang memiliki solusi mengantisipasi keruwetan pendistribusian pupuk bersubsidi di tingkat pengecer hingga petani. Yakni, memberikan kartu tanda anggota bagi petani sekaligus melakukan pencatatan transaksi di tingkat pengecer resmi berjumlah 272 unit.
“Dengan langkah itu mudah-mudahan persoalan pupuk selama ini bisa teratasi, karena semua terpantau dengan jelas,” kata Syakur Kullu, Wakil Ketua I KPP Kabupaten Malang, Sabtu (5/9) siang.