Home » Tak Berkategori

Torso Chairil Anwar di Kayutangan, dan Kota yang Terbentuk Kembali oleh Puisi

15 September 2014 No Comment

SETIAP bertandang ke Malang, saya menyambanginya. Ia adalah patung dada Chairil Anwar, penyair yang kesohor dengan sajak Aku dan harum namanya sebagai Si Binatang Jalang di lidah dan hati penikmat dan penghayat sastra di republik ini.

Ada yang mencengangkan, ada yang mengenaskan, ketika saya menyambangi torso berbahan semen dan bercat tembaga yang dipajang di Jalan Kayutangan itu pada kali terakhir, Kamis, 7 Agustus lalu. Ia masih sendiri dan tetap diam, tapi semakin muram dan tambah terasing di antara deru campur debu pelalu lintas di jalan itu.

Sudah 59 tahun lamanya ia di sana. Setua itu, tak tahu berapa lama lagi ia mampu bertahan dalam bising di siang bolong dan sunyi di malam sepi. Jalan itu sendiri sudah berubah, berganti nama dan rupa. Sejak zaman Orde Baru, orang lebih mengenal jalur itu sebagai Jalan Letjen Basuki Rachmat. Trem dan dokar tak lagi melewati jalan tersebut. Kecuali angkot yang ngotot, becak pun malu-malu melintas.

Memang, hanya sepelemparan batu dari patung dada Chairil Anwar, terdapat Gereja Katolik Hati Kudus Yesus atau Gereja Kayutangan (didirikan pada 1905) dan Toko Oen (buka sejak 1930) yang memungkinkan orang mengenang lalu waktu serta melakoni masa kini dalam doa dan ria yang bukan milik mereka. Apalagi milik Si Binatang Jalang yang “tidak minta ampun atas segala dosa”, atau para pelancong berkantong bolong yang dikutuk-sumpahi Dionisos.

Tapi, Gedung Rakjat sudah tidak ada lagi, bersalin rupa menjadi Plaza Sarinah, pusat perbelanjaan dan pelesiran dari zaman Orde Lama. Kita ingat, bekas Gedung Societeit Concordia di zaman Belanda itu pernah menjadi tempat para pendiri bangsa (founding fathers) ini menggelar Sidang Pleno Ke-5 Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), cikal bakal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, pada 25 Februari hingga 6 Maret 1947.

Di kisaran waktu itulah Chairil Anwar berada di Malang dan menggubah puisi berjudul Sorga (bertanggal 25 Februari 1947), Sajak buat Basuki Resobowo (bertanggal 28 Februari 1947), dan/ atau Dua Sajak buat Basuki Resobowo (bertanggal 28 Februari 1947).

Nahasnya, sekira empat bulan setelah Chairil Anwar menganggit ketiga puisi itu dan Sidang Pleno Ke-5 KNIP rampung, Malang menjelma menjadi kota pendudukan nan runtuh rantah oleh aksi anarkisme gerombolan liar “Ja mino dan Joliteng” –pinjam sebutan Kwee Thiam Tjing alias Tjamboek Berdoeri dalam Indonesia dalem Api dan Bara (Malang, November 1947; terbit ulang Jakarta, Juni 2004), yang mendaku laskar rakyat yang berjuang mem pertahankan Malang dari Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947; kemudian Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948 yang meng akibatkan Malang semakin luluh lantak dalam aksi bumi hangus bukan hanya atas bangunan penting dalam kota, tetapi juga rumah-rumah penduduk, terutama milik warga Tionghoa, yang sebelumnya dijarah dan dirampok, serta banyak di antara penghuninya yang dianiaya, diperkosa, dan dibunuh oleh gerombolan liar yang dipersenjatai itu.

Betapa mahalnya harga revolusi. Selepas itu, Malang tampak sebagai sebuah kota remuk rasa, penuh luka, dan rasa bersalah karena revolusi yang terus menghantui dengan pesimisme tragis, seperti tersurat dalam larik sajak Chairil Anwar, Derai- Derai Cemara (1949): “hidup hanya menunda kekalahan/…/sebelum pada akhirnya kita menyerah.”

Karena itulah, tanpa bermaksud mengagung-agungkan, sungguh beruntung Malang memiliki M. Sardjono Wiryohardjono dan Achmad Hudan Dardiri. Yang pertama adalah wali kota keenam Malang (1945–1958). Yang kedua adalah tokoh pemuda, intelektual, dan pejuang dari Tentara Republik Indonesia Pemuda yang tidak hanya mencintai bedil, tapi juga puisi. Dialah yang kelak menjadi wali kota Pasuruan (1969–1975) dan bupati Jombang (1978–1983), menggagas pembuatan patung dada Si Binatang Jalang itu.

Saya bayangkan mereka di Malang pada sejumlah hari sebelum torso itu diciptakan. Mereka bertemu dan bertukar pikiran tentang Malang setelah revolusi tak ada lagi, ketika “bedil sudah disimpan”: bagaimana membangun kota ini dengan elan vital baru yang memampukan warganya bergerak maju dan hidup secara intens, koeksistensial, penuh gelora hati menuju masa depan penuh khidmat kebijaksanaan dari kumpulan orang optimistis nan tulus.

Saya bayangkan Hudan Dardiri ketika itu membacakan sajak Aku Chairil Anwar di hadapan Sardjono Wiryohardjono. Kemudian, mereka mendiskusikan puisi tersebut, memburu artinya dengan saksama, dan selanjutnya bersetuju mengukuhkannya sebagai visi kebudayaan yang mendasar-terangi elan vital baru Malang pascarevolusi: kota yang terbentuk kembali oleh puisi, bukan oleh rasa takut, kecewa, amarah, dan sikap brutal.

Demikianlah, torso Chairil Anwar pun dibuat oleh perupa Widagdo di atas pedestal yang bertulisan sajak Aku yang termasyhur itu, dan kemudian diresmikan oleh sang wali kota di Jalan Kayutangan yang dipercaya sebagai titik temu semua arah, massa, dan kepentingan pada 28 April 1955.

Ada selembar foto hitam putih yang mengabadikan peresmian tersebut. Kini foto tersebut disimpan Dwi Cahyono, mantan ketua Dewan Kesenian Malang, sebagai bagian dari koleksi Museum Malang Tempoe Doeloe.

Yang mengejutkan, sosok Widadgo tak tampak di situ. Pertanyaannya: pada pagi ketika patung dada Chairil Anwar diresmikan, di manakah sang pematung berada? Pertanyaan itu melempar saya ke sejumlah pertanyaan yang lain lagi: benarkah dia yang membuat patung itu sonder menanda tanganinya? Siapakah dia?

Pertanyaan-pertanyaan itu memaksa saya melakukan perjalanan mencari ingatan sekira lebih dari satu tahun belakangan. Hasilnya, tak ada ingatan yang meyakinkan di mana sang pematung berada ketika itu. Kecuali sejumlah, konon, dari lisan ke lisan, ingatan otentik tertulis nihil tentang kebenarannya sebagai pencipta torso itu. Konon, dia adalah pendiri Pelukis Muda Malang pada 1950-an. Konon, dialah salah seorang seniman yang membidani kelahiran Sekolah Seni Rupa Malang (1956–1964). Konon, dia merupakan sosok pematung dalam iklan sebuah produk rokok pada 1980-an.

Saya pun harus mafhum, perjalanan mencari ingatan sekira lebih dari satu tahun itu belum apa-apa, belum rampung, belum bisa memperhitungkan arti patung yang tampangnya lebih mirip seorang Pemimpin Revolusi Kebudayaan dari Tiongkok ketimbang seorang penyair yang berkalang tanah di Jakarta pada 28 April 1949.

Barangkali itu sebabnya banyak orang yang tak mengenal atau susah mengira patung siapa. Tapi, itu bukan alasan untuk menelantarkannya, membiarkannya terbengkalai, berantakan, suram, dan kumuh sehingga pantas digusur-gantikan dengan patung atau monumen lain.

Dengan begitu, betapapun patung dada itu tidak mirip dengan tokoh yang dipatungdadakan, kita tak bisa semena-mena mengabaikannya kecuali jika kita ingin memberangus sesuatu yang membikin Kota Malang unik atau menghapus masa silam dalam ingatan tentang kehidupan kota ini yang luar biasa dengan ciri dan semangat yang khas. (*)

WAHYUDIN
Kurator seni rupa,
tinggal di Jogjakarta

Tulisan dimuat di JawaPos, 15 September 2014

Keywords:
    Berita Lainnya : no matches

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.