Di Pujon, Ada Listrik Tenaga Hampa
Kabar bahwa di Pujon, Kabupaten Malang ada “orang hebat†yang mampu menciptakan energi listrik dari tenaga hampa, membuat penasaran Bupati Rendra Kresna. Kemarin, ditemani beberapa stafnya, dia langsung mendatangi Slamet Harianto (51) si “orang hebat†itu, yang ternyata hanya lulusan SD. Rendra mendatangi rumah Slamet sekitar pukul 13.20 di Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Rumah itu sangat sederhana, hanya berdinding bambu, berukuran sekitar 3 meter x 6 meter
Ketika tahu bahwa yang datang bupati, semula Slamet ketakutan dan terlihat gugup Tapi setelah dijelaskan oleh staf bupati, Slamet tampak lebih tenang. Selama sekitar 1,5 jam, Rendra mengajak ngobrol Slamet. Rendra juga dipameri peralatan yang diciptakan bapak tiga anak itu

Slamet (kiri) menunjukkan cara kerja PLTH hasil karyanya di depan Bupati Malang Rendra Kresna, kemarin.
Siapakah Slamet? Di kampungnya, Slamet awalnya dikenal sebagai tukang dinamo. Kalau pun dia faham dengan seluk beluk kelistrikan, itu karena belajar sendiri dari ayahnya yang juga tukang dinamo. Awalnya, Slamet tak menyangka bakal mampu menciptakan alat yang disebutnya sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Hampa (PLTH).
Ceritanya, saat itu (1997), dia dimintai tolong tetangganya untuk membuat kincir angin untuk menghasilkan tenaga listrik. Tapi setelah diutak-atik, alat yang berhasil dibuat Slamet bukan kincir angin. Tapi sebuah generator yang waktu itu hanya berkapasitas 2000 watt. Dari karya kecilnya itu, dia terus mengutak-atiknya, sehingga tahun 2008 menghasilkan PLTH. Namun waktu itu kapasitasnya rendah. Sekitar 1.000 sampai 2000 watt. Dia terus mengembangkan alat itu hingga mampu bertegangan 220 volt dan daya maksimal 6000 watt. Kini, Slamet sudah mempu membuat PLTH dengan daya maksimal 15.000 watt.
Bagaimana cara kerja PLTH temuan Slamet ini? Alat itu dilengkapi dengan panelpanel yang dipasang di bagian atas. Fungsi awalnya untuk menyimpan daya. Selanjutnya, satu panel yang berbahan kaca dan berukuran 3 milimeter itu bisa menghasilkan daya 1.500 watt - 2.000 watt. Besaran daya yang dihasilkan, tergantung berapa banyak panel yang dipasang.
Jika ingin menghasilkan daya 10.000 watt, cukup dipasang 5 unit panel. Darimana daya ke panel itu didapatkan? Setiap satu unit panel membutuhkan 3 kilogram karbon yang di padatkan. Slamet menggunakan arang batok kelapa yang dibelinya dari petani. â€Sebenarnya pakai batubara juga bisa. Tapi limbahnya berbahaya,†ujar Slamet kemarin. Tentunya, panel membutuhkan energi awal untuk disimpan. Slamet menggunakan Aki berkapasitas 6 volt untuk me nyalurkan energi awal ke panel. Setelah itu, energi yang disimpan panel diolah trafo, mesin, relai dan kapasitor. Kapasitor ber fungsi mengembalikan daya ke panel, sehingga menjadi energi listrik.
Lantaran belum dipatenkan, Slamet tak melayani pesanan secara terbuka. Sejak 2008, ayah tiga anak itu sudah menjual karyanya. Tapi untuk saat ini baru ke luar pulau jawa. Alasanya, dia tak ingin keahliannya membuat PLTH diketahui warga.
Selain hanya melayani konsumen dari luar pulau jawa, Slamet harus mengetahui alasan pembelian. Selama digunakan untuk kepentingan umum seperti penerangan di daerah terpencil, Slamet melayani. â€Kebanyakan pembelinya dari luar pulau,†kata dia.
Harga yang dipatok relatif murah. Untuk PLTH yang ber kapasitas 1.000 watt yang menghabiskan biaya sekitar Rp 4 juta untuk pembuatanya, Slamet menjual sekitar Rp 5 juta. Dia untung Rp 1 juta dengan masa penggarapan alat sekitar 3 hari. Penjualan melalui sistem getok tular itu terus menyebar, sehingga perusahaan besar ikut memesan PLTH pada Slamet. Di antaranya, PLN memesan 1000 unit alat PLTH, badan penanggulangan lumpur Sidoarjo (BPLS) pesan 5 unit alat berkapasitas 48 ribu watt, dan juga beberapa perusahaan asing.
Bahkan, Menteri BUMN Dahlan Iskan yang mendengar kehebatan Slamet tertarik untuk membeli. â€Kemarin, Pak Dahlan telpon saya. Katanya mau ke sini,†katanya. Dia menambahkan, sebenarnya dia ingin mem produksi alatnya itu secara massal. Tapi, terkendala biaya. â€Sehingga saya saat ini belum bisa melayani permintaan pembeli dalam jumlah besar. Saya bingung dengan biayanya,†lanjutnya.
Menanggapi kesulitan Slamet ini, Rendra kemarin langsung memberikan bantuan uang tunai Rp 15 juta. Ini sesuai dengan penjelasan Slamet, yang mengatakan bahwa biaya untuk membuat satu unit PLTH berkapasitas 13 ribu watt, butuh biaya sebesar Rp 15 juta. Kepada wartawan, Rendra berjanji akan memberdayakan kemampuan Slamet untuk mengatasi masih minimnya jangkauan listrik di Kabupaten Malang. Termasuk menerangi puluhan dusun yang masih gelap. â€Ke depan kami akan gunakan untuk penerangan di dusun yang masih gelap,†kata Rendra.
Orang nomor satu di lingkungan pemkab itu memesan satu alat. Rencananya, alat itu akan dipajang dalam setiap pameran karya unggulan Kabupaten Malang. â€Karya Slamet ini jadi harapan listrik masa depan,†kata dia.
Agar bisa diproduksi massal, Rendra berjanji akan membantu Slamet untuk mematenkan karyanya. Dia akan berkoordinasi dengan Universitas Brawijaya (UB) terkait rencana pengajuan paten karya Slamet. â€Kami bantu uruskan pematenan,†kata Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Malang itu.
Menurutnya, jika alat tersebut diproduksi massal, harganya akan murah. Sedangkan kebutuhan listrik di Kabupaten Malang juga tercukupi. Pengguna karya Slamet diuntungkan dengan efisiennya biaya listrik. â€Keunggulan alat ini pada efisien dan kecanggihan,†kata dia.(dan/ziz)
Sumber:Radar Malang
Keywords: Kabupaten Malang, listrik, Pujon















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar