Home » Kota Malang

Lebih Dekat dengan Kod’we (Komunitas Drummer Wedok)

16 Juli 2012 No Comment

Posisi penabuh drum atau drummer sebuah band kini tak selalu dipegang laki-laki. Banyak grup band yang drummer-nya seorang perempuan. Itu tercermin pada beberapa band tanah air yang memilih sosok perempuan di posisi drummer, seperti Setia, She, dan Dot.

Kegandrungan kaum hawa terhadap posisi drummer juga mewabah di Malang. Salah satu nya adalah band Girl Fight. Dulu, di grup tersebut ada nama Della Rusita Devi di posisi drummer. Namun, perempuan kelahiran 8 De sember 1992 itu kini sudah keluar dari band tersebut. Selain itu, masih banyak band indie asal Malang yang memiliki drummer cewek.

Karena banyaknya perempuan yang memiliki keahlian menjadi penggebuk drum, pada 2007 di Malang terbentuklah sebuah komunitas drummer yang ang gotanya khusus perempuan. Tujuannya jelas: untuk me ngumpul kan para perempuan yang jadi drummer band. Nama komunitas itu adalah Kod’we yang me rupa kan kependekan dari Ko munitas Drummer Wedok.

Setiap Minggu, Kod’we rutin latihan bareng. Banyak anggota baru yang bergabung.

Setiap Minggu, Kod’we rutin latihan bareng. Banyak anggota baru yang bergabung.

Komunitas ini awalnya didirikan tiga drummer perempuan. Satu di antaranya adalah Della Rusita yang tak lain adalah mantan drummer Girl Fight. “Dulu kami pilih nama Kod’we karena ada kata wedok (perempuan) untuk menandakan bahwa komunitas ini berasal dari Malang,” ungkap Della.

Ketika ditanya lebih lanjut alasan sebenarnya membentuk sebuah komunitas drummer cewek, Della mengaku ingin memperkuat solidaritas antar-drummer band yang satu dengan band yang lain. Sebab sejak tahun 2000-an, jarang sekali para drummer cewek berkumpul atau sekadar nongkrong bersama. Padahal antarvokalis atau antar-keyboardist cewek sejumlah band biasanya sering mengadakan pertemuan bersama. “Image-nya, drummer cewek waktu itu seperti masih jaim (jaga image). Bahkan antara drummer satu dengan lainnya sepertinya nggak mau kalah gitu. Susah kalau diajak ngumpul. Intinya kurang solidaritas-lah,” ucap perempuan yang kini tengah kuliah di Jakarta ini.

Dan berdirinya komunitas ini ternyata sukses meruntuhkan ego para drummer cewek yang sebelumnya cukup tinggi. Bahkan, lebih dari 30 cewek bergabung di komunitas ini pada tahun pertama terbentuk. “Awalnya ya susah waktu ngumpulin temen-temen drummer cewek. Tapi setelah kami jelaskan ada komunitas ini, mereka langsung gabung,” ujar Della, yang tak lain putri Dwi Cahyono –konseptor Festival Malang Kembali dan pemilik RM Inggil.

Sebagian besar anggota pun kian rajin tiap satu minggu sekali berkumpul untuk sekadar membahas perkembangan musik di Malang maupun nasional. Tak hanya itu. Coaching clinic (klinik pelatihan) menabuh drum juga sering diagendakan untuk meningkatkan skill dan performa anggota kala menggebuk drum. “Waktu itu udah jalan rutin. Tapi belum banyak bikin kegiatan bareng di luar. Soalnya, anggotanya kan punya band sendiri-sendiri,” jelas perempuan cantik ini.

Seiring berjalannya waktu dan satu tahun berlalu, Kod’we lebih sering menggadakan coaching clinic di base camp yang ada di Jalan Soekarno-Hatta 18. Base camp itu tak lain rumah Della yang hingga saat ini didapuk sebagai ketua Kod’we. “Komunitas ini lama-lama jadi ajang untuk meningkatkan skill nge-drum karena lebih banyak ngadain coaching clinic. Yang ngajari ya drummer Kod’we yang sudah senior. Kadang datangin drummer yang punya tempat kursus drum,” tutur cucu mantan Wali Kota Malang Soesamto itu.

Mengarahnya komunitas ini sebagai ajang menambah pengetahuan tentang seluk beluk nge-drum membuat ang gotanya jadi lebih banyak. Sebab, cewek yang belum bisa nge-drum juga ikut bergabung lantaran tertarik untuk bisa ngedrum. “Mulai dari cara megang stik sampai ngrawat drum akhir nya jadi bahan coaching clinic juga. Tapi kami seneng juga bisa ngajari cewek-cewek biar bisa ngedrum,” ungkap Della.

Ketika anggota komunitas ini terus bertambah, mayoritas mahasiswa dan siswi SMA mendominasi. Sedangkan beberapa pentolan Kod’we kian habis lantaran sebagian sudah menikah. Puncaknya, pada 2009, pendiri sekaligus ketua komunitas Della Rusita berpindah ke Jakarta karena me lan jutkan studi ke salah satu per gu ruan tinggi di ibu kota. Karena ditinggal ketua, anggota Kod’we mulai menemui masalah. Sebab, tempat ber kumpul anggota biasanya di rumah sang ketua.

Karena faktor itu, akhirnya komunitas ini sempat vakum pada 2010. Namun, kevakuman itu tak lama berlangsung. Tahun 2011 komunitas ini mulai aktif lagi meski Della tetap di Jakarta. Setiap Minggu, anggota komunitas ini rutin melakukan latihan di Studio Scorpio di Jalan Bengawan Solo. (iw/yn/radarmalang)

Keywords: , ,

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar