Home » Kota Malang

Bersih-Bersih Area MTD, Sampah Capai 20 Truk

29 Mei 2012 No Comment

Perhelatan Malang Tempo Doeloe (MTD) VII resmi ditutup Wali Kota Peni Suparto Minggu (27/5) malam kemarin. Namun, MTD menyisakan pekerjaan berat bagi pasukan kuning (paskun) dan pasukan ijo (pasjo) Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang. Sebab, paskun harus kerja ektra melakukan pembersihan sampah di sepanjang Jalan Ijen. Total sampah yang terangkut dari kawasan Jalan Ijen diperkirakan mencapai 20 truk. Hingga kemarin pembersihan sampah masih belum selesai

Selain persoalan sampah, pasjo juga harus melakukan perbaikan taman. Sebab, rumput di sepanjang Jalan Ijen juga banyak yang rusak karena terinjak pengunjung. ”Untuk pembersihan MTD, kami kerahkan 100 personel,” ujar Kepala DKP Pemkot Malang Wasto kepada Radar Malang, kemarin. Sejak pagi kemarin, paskun sudah bergerak membersihkan sampah. Baik sampah yang masih berbentuk tenda maupun sampah yang berserakan di jalan dan taman. Namun petugas DKP kemarin cukup kaget, karena sampah yang dibersihkan selama satu hari itu tidak kunjung selesai.

Paskun bersihkan sampah di Jl Ijen.

Paskun bersihkan sampah di Jl Ijen.

Ini terjadi lantaran sampahnya sangat banyak. ”Kalkulasi kami sampahnya mencapai 20 truk. Hari ini (kemarin) tidak bisa selesai sehingga akan dilanjutkan besok (hari ini),” ungkap Wasto. Sedangkan untuk taman, lanjut Was to, yang rusak hanyalah rumputnya saja. Sebab, taman di sepanjang Jalan Ijen ini terinjak kaki pengunjung. Sedangkan taman yang berada di tengah tidak ada yang rusak, lantaran selama pelaksanaan MTD sudah diberi penghalang berupa pagar dari bambu.

Dengan demikian, taman ini hanya butuh perawatan dan penyiraman air secara maksimal untuk bisa kembali menumbuhkan rumput. ”Kerusakan rumput tidak jadi soal, karena akarnya masih hidup. Jadi cuma butuh perawatan saja. Mungkin satu minggu sudah bisa tumbuh kembali,” kata mantan kabag hukum ini. Sementara itu, Ketua Yayasan Inggil Dwi Cahyono me nyayangkan maraknya PKL yang mendirikan tenda di luar area MTD. Misalnya di Jalan Simpang Balapan, Jalan Semeru dan Jalan Kawi. Padahal PKL ini di luar kendali panitia MTD

Padahal keberadaan mereka memberikan dampak buruk bagi pelaksanaan MTD yang sengaja dibuat sebagai media pembelajaran sejarah. ”Kesan orang luar kota, mereka itu (PKL di luar area MTD, Red) menjadi bagian dari MTD. Padahal itu di luar konsep kami,” kata Dwi. Tak hanya itu, panitia MTD juga tidak berbuat banyak dengan maraknya PKL yang berjualan keliling di area MTD. Padahal itu harusnya tidak diperbolehkan. Sebab yang boleh berjualan adalah mereka yang menyewa stan. Namun kenyatannya, ratusan PKL juga sempat menyerbu di dalam area MTD.

Dwi menegaskan, PKL keliling ini sangat cerdik. Mereka masuk bersama kerumunan massa ke area MTD. Setelah di dalam mereka mengeluarkan barang dagangannya dari tasnya masingmasing. Padahal panitia sendiri sudah mengerahkan sekitar 400 personel keamanan, akan tetapi tetap saja tidak maksimal dalam menghalau PKL. Untuk itu, kata Dwi, pe lak sanaan MTD VII ini dinilai sudah tidak sehat. Artinya, banyak beberapa pihak yang sengaja mencari keuntungan sendiri dengan memanfaatkan MTD. Solusinya, MTD ini harus dihentikan pada tahun depan dan dilakukan evaluasi secara total. ”Sekali lagi, MTD ini digelar untuk pembelajaran sejarah. Bukan untuk kepentingan komersiil segelintir orang,” kata Dwi dengan nada geram

Dwi menegaskan, pihaknya berharap Wali Kota Peni Suparto dan DPRD Kota Malang bisa memahami keinginan panitia MTD. Sehingga pelaksanaan MTD bisa digelar dua tahun sekali. ”Kuncinya memang harus dibuat dua tahun sekali. Sehingga pelaksanaan MTD pada tahun depan lebih baik dan sesuai misi dan visi adanya MTD sebagai pembelajaran sejarah,” ucap dia. Terpisah, Kadis Pariwisata Pemkot Malang, Ida Ayu Made Wahyuni menegaskan, pihaknya juga menyoroti banyaknya PKL yang masuk ke area MTD. Padahal mereka harusnya tidak boleh masuk ke area MTD.

Apalagi pengunjung yang masuk juga tidak patuh untuk menggunakan pakaian tradisional. Setiap tahun, panitia MTD selalu memberikan informasi pengunjung yang masuk MTD menggunakan pakaian tradisional. Hal ini membuat banyak orang beranggapan MTD seperti pasar malam. Padahal tujuan MTD ini sebagai media pembelajaran sejarah. ”Memang butuh evaluasi total agar pelaksanaan MTD pada masa mendatang jauh lebih baik,” kata perempuan asal Bali ini. (gus/ziz)

Sumber:Radar Malang

Keywords: , , , , ,

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar