Dodik Iskandar, Musikus Malang Kenalkan Alat Musik Baru Bernama Gethuk
Kota Malang menyimpan potensi besar di bidang musik. Banyak orang jenius dalam bidang musik yang berasal dan tinggal di Malang. Salah satunya Dodik Iskandar Dinata. Tak hanya sekadar bermusik, Dodik juga menciptakan alat musik yang diberi nama gethuk.
DITEMUI di studio mininya di daerah Kedawung, Kota Malang, penampilan Dodik Ikandar Dinata tidak berbeda dengan musisi umumnya. Kaus oblong berpadu dengan celana pendek serta rambut gondrong acak-acakan membuat pria 38 tahun itu benar-benar “musisi banget”.
Ketika berbicara soal musik, pe mikirannya jauh dari mainstream musik yang ada saat ini. Semangatnya jelas menunjukkan idealisme pria yang juga dikenal dengan nama Dodik Ide ini. Salah satu buah dari idealisme Dodik adalah alat musik gethuk yang dia ciptakan.
Dari namanya saja, gethuk sudah membuat orang penasaran dan bertanya-tanya. Berbentuk prisma segitiga, alat musik tersebut memiliki lima sisi. Pada empat sisi alat musik yang sebagian besar dibuat dari kayu itu terpasang enam instrumen. “Ada siter, harpa, kalimba, rebana, perkusi, dan bas,” ujar pria yang sempat mengenyam pendidikan di Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) namun tidak sampai lulus itu. Dengan kata lain, gethuk adalah kombinasi dari enam alat musik yang sudah ada tersebut.

Dodik Iskandar Dinata membawa alat musik gethuk yang diciptakannya.
Siter seperti diketahui merupakan alat musik petik di dalam gamelan Jawa yang memiliki 12 senar. Sama halnya dengan Siter, harpa juga merupakan alat musik petik yang sudah ditemukan sejak zaman Mesir kuno.
Kemudian ada bas, alat musik petik mirip gitar serta dua alat musik tetabuhan, rebana dan perkusi. Sementara kalimba merupakan alat musik dari Afrika yang terdiri atas sebuah kotak suara dengan tuts-tuts logam yang menempel di bagian atas. Kalimba juga biasa disebut thumb piano atau piano jempol.
Terkait pemilihan enam instrumen itu pada gethuk-nya, Dodik jelas tidak asal comot. “Kombinasinya lebih pada alat musik denting dan ketukan,” ungkap dia. Namun yang jelas, kombinasi tersebut adalah buah dari konsep yang matang. “Bukan sekedar tumpuk,” ujar Dodik.
Tentang bagaimana cara bermainnya, biasanya Dodik bisa memainkan dua instrumen sekaligus dari gethuk. “Tapi kalau dikombinasikan dengan synthesizer, kami bisa mainkan seluruhnya,” jelas Dodik yang mengaku butuh sebulan untuk merampungkan gethuk.
Dodik mengatakan, gethuk dia buat sekitar tiga bulan yang lalu. Berawal dari kejenuhannya memainkan alat musik yang sudah ada, dia ingin menciptakan sesuatu yang baru. “Sudah banyak orang yang memainkan pop, jazz, klasik. Nggak mungkin main gitu terus. Jenuh. Saya ingin bikin musik yang benar-benar dari diri sendiri,” tutur dia.
Pria yang sudah malang melintang di dunia musik Malang itu berusaha untuk menyelami genre musik lain, etnoworld atau musik-musik etnik. Karena itulah, tidak mengherankan bila gethuk merupakan kombinasi dari alat musik tradisional yang biasa digunakan untuk memainkan genre musik seperti itu. Memang, Dodik mengakui genre musik seperti itu sangat segmented. Tidak banyak orang yang mengerti dan menggemari musik itu layaknya musik pop. Banyak yang menyebut musik etnik tidak menjual alias tidak komersial.
Mengenai anggapan seperti itu, Dodik memiliki jawaban sendiri. “Kalau soal komersial, musisi mana pun pasti tetap berpikir untuk jualan atau agar karyanya diapresiasi. Tapi salah jika saya menganggap bahwa komersial harus menjiplak nada-nada yang sudah umum atau mainstream,” kata dia.
Ia pun mengatakan, di luar negeri, musik-musik yang bukan mainstream lebih mendapatkan pengakuan. Dodik menyebut sosok pianis kenamaan asal Indonesia Ananda Sukarlan misalnya. “Di Indonesia, dia sepi job. Tapi di luar negeri, dia keliling terus, nggak pernah berhenti. Sebetulnya, orang Indonesia bukan tidak menerima musik seperti itu. Yang terjadi saat ini, tidak banyak pihak yang memfasilitasi musisi dengan genre musik seperti itu,” ung kap nya. Karena itu, jelas dibu tuh kan promotor atau produser musik yang benar-benar “gila” untuk mau mengangkat musik-musik etnik.
Dodik sendiri mengatakan, bukan tanpa alasan bila dia memilih musik etnik. Faktor usia dia sebut yang menjadi salah satu pendorong dirinya me nyelami musik jenis itu. “Perjalanan musik seorang musisi biasanya begitu. Waktu muda, senang musik dengan beat energik,” ujar dia. Namun, seiring ber tambahnya usia, musisi akan mencari sesuatu yang baru, yang lebih idealis. “Sekarang saya lebih ke nuansa. Mencari wilayah ke tenangan, perenungan,” ucapnya.
Dengan idealisme kuat seperti itulah, mengapa Dodik memberi nama gethuk pada alat musik ciptaannya. Gethuk tidak diambil dari salah satu jenis makanan tradisional yang terbuat dari singkong. Gethuk adalah kependekan dari dua kosakata ba hasa Jawa, Nggeget (diam) dan Kepethuk (bertemu). “Maksudnya adalah kita kembali ke asal, yakni diam. Manusia ketika berbicara, semua energi nya keluar. Tapi ketika diam, semua energi akan masuk dalam di rinya,” ujar dia mencoba ber filosofi. “Kalau sudah diam, dia akan tahu sejarah cerita manusia,” lanjut pria yang berencana mematenkan gethuk ciptaannya itu.
Karena masih baru, alat musik itu baru dua kali ia pertontonkan di depan publik. Salah satunya dalam festival puisi internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) pada 7 April silam. Tidak sendi rian, melainkan bersama band-nya: Semiotic. Terdekat, ia be ren cana tampil di ajang jazz bergengsi, yakni Jazz Bromo, Juni mendatang. “Saya juga tengah menyiapkan lagu untuk bikin album bersama Semiotic,” kata dia.
Impian besarnya jelas bukan hanya memperkenalkan gethuk dan musik kreasinya di dalam negeri. Go international juga menjadi suatu hal yang bukan tidak mungkin untuk diwujudkan. Sebab, pasar musik seperti ini cukup menggiurkan di luar negeri. “Dan yang paling penting, kami punya misi untuk menjadikan Malang jadi kiblat musik seperti Jakarta atau Bandung,” tandasnya.
INDRA MUFARENDRA
(*/yn/radarmalang)
- Berita Lainnya :
- Konser Afgan Bikin Histeris Penonton
- Judika Dipeluk dan Dicium Penonton
- Hip-Hop Bahasa Walikan, Supaya Terasa Nyeleneh
- Maestro Jazz Tampil Total di Tengah Ribuan Penonton Jazz Gunung 2012
- Gwen Priscilla - Duo Mahadewi, Sudah Mandiri sejak SMA
- Grup Rock Elpamas Ikut Ngamen di MTD
- Wukir Suryadi, Nyanyian Merdu dari Sebilah Bambu
















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar