4 Tahun Didanai Rp 272 M, Masih Banyak Ruang Kelas Rusak
Sarana dan prasarana pendidikan di Kabupaten Malang, khususnya SD dan SMP, masih perlu banyak dibenahilagi. Tercatat di kabupaten ada 2.222 ruang kelas yang rusak. Dengan rincian, 1.600 ruang kelas rusak di tingkat SD dan 600 ruang kelas rusak di tingkat SMP. Tahun ini alokasi anggaran untuk perbaikan mencapai Rp 80,2 miliar dengan mencakup 1.434 ruang kelas.
Bahkan, akibat kerusakan itu, sejumlah sekolah terpaksa mengungsikan siswanya agar proses belajar mengajar tetap berjalan.
Di SDN Kendalpayak, Pakisaji misalnya. Sekolah re-grouping (merger) dari SDN Kendalpayak 1, 2 dan 3 itu sudah bertahuntahun mengajukan rehabilitasi gedung ke kantor dinas pendidikan (diknas).
Tapi, keinginan sekolah untuk memberi pelayanan kepada anak didiknya belum mendapat perhatian. Tentu saja, sekolah kesulitan. Mau meminta bantuan komite sekolah juga sangat terbatas. “Kami sudah meminta diknas, tapi kemungkinan diknas masih memprioritaskan sekolah lain yang membutuhkan,” ujar Kasek SDN Kendalpayak Mohammad Zaini, kemarin.

Salah satu ruang kelas di SDN Kendalpayak I, Kecamatan Pakisaji, yang rusak parah
Dari 12 ruang kelas di SDN Kendalpayak, tiga di antaranya rusak berat. Selain dinding usang, plafon jebol dan kayu kerangka bangunan sudah lapuk. Kondisi bangunan fisik di SDN Kendalpayak memang rawan roboh saat musim penghujan. Genting tua yang sudah rontok memicu kebocoran ruangan. Jendela berbahan kawat juga sudah patah.
Zaini tak tahu kapan sekolahnya menda pat jatah rehabilitasi gedung dari diknas. Namun, lokasi sekolah yang tertutup tembok lapangan desa bisa jadi faktor tak diresponsnya pengajuan dana perbaikan. Untuk menuju ke sekolah harus memutar lewat gang perkampungan. Tapi ada sebagian siswa yang lewat pintu keluar Lapangan Kendalpayak.
Dengan kerusakan tersebut, Zaini tak berani menggunakan ketiga ruang kelas tersebut untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Sejak satu tahun lalu, dia mengungsikan siswanya ke ruang guru. Lantaran ruang guru hanya cukup menampung dua rombongan belajar (rombel), siswa lain diungsikan ke ruang perpustakaan.
Sedangkan para guru berkantor di aula sekolah. Sebagian ruang disekat untuk perpustakaan karena gedungnya disulap jadi ruang kelas. “Mau gimana lagi? Gedungnya ndak cukup,” ujar Zaini.
Namun kerusakan ruang kelas tersebut tak dirasakan siswa. Para siswa SDN Kendalpayak tampak enjoy mengikuti proses belajar me ngajar di kelas. “Saya lagi belajar mate matika,” ujar Deco, siswa kelas I SDN Kendalpayak saat ditemui Radar, kemarin pagi.
Kondisi serupa juga terlihat di SDN Sengguruh, Kepanjen. Nyaris seluruh ruang kelas di SD tersebut rusak. Dari 11 ruang kelas, tujuh di antaranya rusak. Parahnya, SDN Sengguruh tak punya gedung lain, sehingga proses belajar mengajar dilakukan di ruang kelas yang rusak tersebut.
Kasek SDN Sengguruh Suprapto mengaku sekolahnya sudah mengajukan anggaran perbaikan sejak 2010 lalu. Namun baru direspons diknas pada 2012. Itu pun tak semuanya, melainkan hanya 5 ruang kelas. “Kami mengajukan tujuh ruang kelas, tapi disetujui lima,” aku Suprapto.
Untuk dua ruang kelas lain, Suprapto mengaku pasrah. Meski plafon sudah keropos dan genting bocor, pihaknya hanya terima nasib. Menggunakan ruang kelas lain juga tak mungkin. Sebab, seluruh ruang sudah terpakai. Selama ini, proses belajar mengajar dilakukan dengan fasilitas seadanya.
Bangku tua yang sudah lapuk, lantai warna hitam yang sudah usang seolah membuat suasana ruang kelas tampak kumuh. “Ini memang bangunan lama. Kayunya saja sudah usang,” kata Suprapto yang mengaku tak tahu kapan SDN Sengguruh itu didirikan.
Kerusakan ruang kelas itu tak hanya terjadi di sekolah yang berlokasi jauh dari perkotaan. SDN Ardirejo 1 Kepanjen yang berada di pusat Kota Kepanjan dan lokasinya berada di pinggir jalan raya juga demikian. Empat ruang kelas rusak dan dibiarkan sejak 2010 lalu.
Lantaran tak ada ruang lain, pihak sekolah terpaksa menggunakan ruang kelas rusak tersebut. Mau tidak mau, siswa harus belajar di ruangan yang kayunya sudah keropos dan asbes bocor. Genting tua juga banyak yang pecah. “Dibanding sekolah lain di pusat perkotaan, mungkin sekolah saya ini paling parah,” kata Kasek SDN Ardirejo 1 Sumardi sambil menunjukkan ruang kelas rusak.
Untuk menjaga keselamatan siswa, sekolah harus pakai tambal sulam. Tiga bulan lalu Sumardi membetulkan plafon yang hampir roboh. Terpaksa dia menggalang dana bantuan dari komite. “Saya ajak komite ke sini (sekolah, Red), lalu saya tunjukkan kondisi ruang kelas,” tambah Sumardi.
Di Kabupaten Malang, ada ribuan ruang kelas rusak dan belum dibenahi. Untuk jenjang SD dan SMP saja, diknas mendata ada 2.222 ruang kelas rusak. Lokasinya menyebar di 33 kecamatan. Rinciannya, 1.600 ruang kelas SD di 315 lembaga. Sedangkan untuk jenjang SMP, kerusakan terjadi di 622 ruang kelas dengan 86 lembaga.
Untuk jenjang SMA/SMK, diknas belum mengumpulkan data. Pantauan Radar, kondisi sekolah SMA dan SMK lebih bagus dibanding SD dan SMP. Kebanyakan bangunan gedung masih baru. Tapi di mungkinkan masih ada yang rusak. Dengan de mikian, jumlah ruang kelas rusak di Kabupaten Malang bisa bertambah jika digabung dengan SMA dan SMK.
Meski sudah mendata kerusakan ruang kelas, namun tak semua direhabilitasi. Tahun ini diknas hanya membangun 1.165 ruang kelas SD dan 269 ruang kelas SMP. Anggaran rehabilitasi gedung SD bersumber dari dana blockgrant dan DAK. Untuk bloc krant SD, diknas dijatah Rp 26 miliar. “Dana blockgrant ini dari APBN. Digunakan mere habilitasi 401 ruang kelas,” ujar Kabid TK dan SD Diknas Wahyudi beberapa hari lalu.
Sedangkan untuk dana DAK dijatah Rp 53 miliar. Rencananya, dana tersebut digunakan merehabilitasi 764 ruang kelas. Mengenai lokasinya mana saja, diknas masih menerjunkan tim untuk menyurveinya.
Demikian juga dengan SMP. Dari 622 ruang kelas, hanya 269 ruang yang direhabilitasi. Dana yang dialokasikan sekitar Rp 9,2 miliar bersumber dari DAK 2012. Jika dikalkulasi sejak 2009 lalu, total dana rehabilitasi ruang kelas yang diterima diknas mencapai ratusan miliar.
Informasi dari dewan, tahun 2009 lalu diknas dikucuri dana Rp 55 miliar, tahun 2010 dikucuri dana DAK Rp 66 miliar dan tahun 2011 sekitar Rp 71 miliar dan tahun ini Rp 80,2 miliar. Atau empat tahun terakhir kucuran dana mencapai Rp 272 miliar. (dan/ziz/radarmalang)
Keywords: DAK, infrastruktur, Pakisaji, proyek, sekolah rusak















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar