Sri Sultan Ajak Pemimpin Belajar dari Candi
Sri Sultan Hamengkubuwono X mengajak kepala daerah di Malang Raya belajar dari candi. Sebab, candi yang menjadi situs peninggalan kerajaan dianggap menyimpan ajaran penuh keluhuran dan keagungan.
Ajakan itu disampaikan Sri Sultan saat berkunjung ke Candi Jago, Dusun Jago, Tumpang, kemarin (12/5). “Candi itu punya nilai, tak hanya keluhuran tapi juga keagungan. Ini menggambarkan bagaimana pemimpin berhubungan dengan rakyat,” ujar Sri Sultan, kemarin.
Sri Sultan bersama rombongan tiba di Candi Jago sekitar pukul 11.30. Bupati Rendra Kresna bersama anggota Komisi B DPRD Kabupaten Malang Ahmad Sutoko Bisri serta camat dan kades yang tiba lebih dulu langsung mengajak Sri Sultan menyusuri relief di setiap sudut Candi Jago.

Sril Sultan Hamengkubuwono X (kiri) mendengar paparan sejarah dan makna yang terkandung dalam relief Candi Jago.
Selama satu jam, Sri Sultan bersama rombongan mendapat pemaparan kisah pewayangan dari cerita yang tertulis dalam relief candi. Melalui relief tersebut, Sri Sultan menemukan ajaran keluhuran dan keagungan. Di antaranya, cerita pewayangan Arjuna menikah dengan Sumbadra.
Usai menerima pemaparan kisah pewahyangan dari relief-relief candi, Sri Sultan disambut tarian baskelan dari seniman asal Kabupaten Malang. Selain itu, gerak dan tari topeng dengan tema Arjuna Wiwaha ikut melengkapi penyambutan Sri Sultan.
Sri Sultan menambahkan, di antara kisah pewayangan yang bisa dipetik para pemimpin untuk menyejahterakan rakyatknya, yakni kisah Arjuna. Menurutnya, nama Arjuna menggambarkan proses pemimpin menuju keagungan. “Asma Arjuna itu artinya air. Air itu menjadi pusat regenerasi,” tambah Sri Sultan.
Menurutnya, manusia yang menjadi pemimpin harus mampu mengejawantahkan sikap berbudi luhur. Dengan sifat luhur dan agung, Sri Sultan menyakini pemimpin tersebut mampu menyelesaikan persoalan bangsa.
“Kalau kita dekat dengan Allah SWT, menyelesaikan masalah itu kok kayaknya gampang. Kepemimpinan itu kan bagaimana membangun rakyat,” tuturnya.
Untuk itu, Sri Sultan menyarankan agar ada perhatian terhadap relief candi-candi. Sebab, melalui relief tersebut, wisatawan akan terinspirasi dari ajaran luhur dan agung dengan cerita yang ditulis melalui relief tersebut.”Dengan demikian, orang yang datang ke sini (Candi Jago, Red) tak hanya melihat artefak saja. Tapi ada nilai ruh yang bisa dipetik,” tambahnya.
Sementara itu, Rendra Kresna mengatakan bahwa pemkab akan terus melestarikan dan menjadikan candi sebagai bagian dari tempat wisata di kabupaten. Dalam kesempatan tersebut, Rendra juga banyak mendengar paparan tentang sejarah candi dari Sri Sultan. (dan/ziz/radarmalang)
Keywords: candi Jago, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Tumpang, wayang- Berita Lainnya :
- Polisi Tidur Tambah Bikin Celaka
- Geng Motor Bacok Empat Pemuda Sawojajar
- Arema Cronous Semakin Sulit Kejar Juara
- Warga Kabupaten, Ubah Kotoran Sapi Jadi Biogas dan Pupuk Organik
- Wisuda SMKN 1 Turen Ditaburi Prestasi Membanggakan
- Warga Kabupaten Malang, Terima Penghargaan dari Presiden
- Truk Terguling, Jalur Malang-Surabaya Lumpuh
















Sri Sultan Ajak Pemimpin Belajar dari Candi Jago…
Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak bupati dan wali kota Malang belajar dari candi. “Candi itu punya nilai, tak hanya keluhuran, tapi juga keagungan. Ini menggambarkan bagaimana pemimpin berhubungan……
Lacak balik oleh SHANNYbookmark — 13 Mei 2012 @ 20:02