Jalur Bidikmisi Rawan Manipulasi Data
Tingginya pemalsuan data peserta Bidikmisi (beasiswa pendidikan bagi mahasiswa miskin) tahun lalu membuat tiga PTN Kota Malang waspada. Mereka mengimbau, peserta yang mengajukan Bidikmisi harus benarbenar jujur mengisi data. Karena, beasiswa tersebut hanya untuk mahasiswa yang benar-benar tidak mampu.
Tahun Lalu, UB-UM Coret 30 Persen Peserta karena Palsukan Data
Kabag informasi akademik Universitas Brawijaya (UB), Agus Yuliawan, mengatakan, tahun lalu UB mendiskualifikasi 30 persen lebih dari jumlah yang lolos seleksi administrasi jalur SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri) bidikmisi. Sebagian besar penyebabnya adalah memanipulasi data. “Beasiswa bidikmisi memang hanya untuk mahasiswa kurang beruntung dari segi ekonomi,” kata dia.
Angka 30 persen lebih itu menurut Agus, tercatat sekitar 2.000 peserta. Sedang yang diterima sebanyak 1.228 calon mahasiswa. “Mereka gugur saat verifikasi data, karena tidak layak untuk mendapatkan beasiswa ini,” tambahnya.
Namun, lanjut Agus, verifikasi data juga bukan penentu utama. Jumlah daya tampung setiap prodi juga sangat menentukan. “Kalau kuotanya hanya dua, tapi yang daftar ratusan, meskipun kurang mampu dari segi ekonomi, juga bisa gagal,” ucapnya.
Contohnya, tahun lalu, kuota di fakultas kedok teran (FK) UB hanya dua. Sedang yang mendaftar ratusan. “Kalau sudah seperti ini prestasi yang berbicara, karena sebagian besar pelamar kurang mampu dari segi ekonomi,” ujar dia.
Hampir sama dengan UB, tahun lalu Universitas Negeri Malang (UM) mendiskualifikasi 30 persen dari jumlah yang lolos seleksi administrasi dari jalur SNMPTN bidikmisi. Penyebabnya juga sama, manipulasi data.
“Beasiswa bidikmisi itu khusus untuk peserta tidak mampu, sehingga kalau anaknya PNS atau pejabat pemerintah, jangan ikut-ikutan, kan masih ada beasiswa lainnya,” kata Aminarti Siti Wahyuni, kabag informasi akademik UM.
Tahun lalu, kata Yuni-sapaan akrab Aminarti Siti Wahyuni, yang diterima di UM melalui SNMPTN bidikmisi 530 mahasiswa. Namun, yang lolos seleksi administrasi sekitar 750 peserta. “Yang 30 persen gugur saat dilakukan home visit, karena tidak layak mendapatkan beasiswa,” ujarnya.
Menurutnya, tahun ini kuota bidikmisi juga tidak beda jauh dengan tahun kemarin. “Perlu diingat, yang sangat menentukan adalah home visit,” imbuh dia.
Bagaimana dengan UIN Maliki Malang? SNMPTN bidikmisi di UIN Maliki Malang tahun lalu tergolong aman. “Bidikmisi di UIN tidak mengikuti jalur SNMPTN, tetapi SPMB-PTAIN (seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi agama Islam negeri),” kata Yahya, kahumas UIN. Menurutnya, yang diterima jalur bidikmisi di UIN tahun lalu sebanyak 165 orang. (im/nen/radarmalang)
Keywords: beasiswa, BIDIKMISI, miskin, SNMPTN, UB, UIN, UM















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar