Parade Topeng Malangan
Pelestarian Topeng Malangan tak hanya dilakukan seniman dari Malang Raya. Kalangan pelajar dan mahasiswa pun turut ambil bagian dalam mengenalkan potensi lokal tersebut. Seperti kemarin (30/4), sekitar 700 peserta yang berasal dari pelajar tingkat SMP, SMA dan mahasiswa mengadakan kirab budaya dari Jalan Veteran sampai Jalan Ijen.
Acara yang digelar Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang (UM) dengan diknas dan dinas pariwisata itu untuk merayakan Hari Tari Sedunia, Hari Musik Indonesia serta HUT Ke-98 Kota Malang Kegiatan bertajuk parade Topeng Malangan itu berlangsung semarak.
Acara dibuka dengan tari Topeng Gerebeg Sabrang yang dilanjutkan penampilan tari dari tiap peserta. Seluruh peserta beraksi dengan kostum unik serta mengenakan topeng. Tari yang dibawakan tiap kelompok berbeda antara satu dengan yang lain. “Budaya topeng harus dilestarikan agar tetap eksis di era globalisasi,” kata Endang Wara Suprihatin, ketua pelaksana kegiatan.
Pukul 15.00 seluruh peserta mulai berjalan menuju kawasan Jalan Ijen. Sambil melangkah keluar mereka menunjukkan kepiawaiannya dalam menari. Warna-warni kostum dengan aneka corak menambah ke ceriaan acara tersebut.
Firdausyia, siswi SMK Negeri 4 Malang bersama 26 temannya berpartisipasi dalam parade ini. Dia dan kawan-kawannya menampilkan tari Kethek Ogleng.
Gadis 16 tahun ini mengenakan kebaya putih dipadu jarit batik dan selendang kuning serta tak ketinggalan topeng.
Tarian tersebut menceritakan tentang seekor monyet yang menyukai permaisuri. “Nanti monyet akan memilih salah satu dari penari (permaisuri, Red),” kata Firda. Dia mengaku senang bisa menunjukkan kebolehannya. Namun dia juga grogi karena pengalaman pertamanya tampil di depan banyak orang.
Penampilan nyentrik dibawakan Roheem dan timnya. Maha siswa jurusan seni tari semester VIII ini menggunakan bahan bekas berupa koran sebagai kostum. “Kami ingin menun jukkan barang bekas tidak hanya jadi sampah,” katanya. Koran dibuat menjadi topi, baju dan rok rumbai-rumbai.
Dengan make up ala badut, Roheem bersama temannya tampak berbeda dibandingkan dengan peserta lainnya. Dia membawakan tarian improvisasi di sepanjang jalan. Sambil membawa papan bertuliskan “Hari Tari Sedunia”, dia tampak percaya diri walau banyak pasang mata yang menatapnya.
Kegiatan yang diadakan sejak tiga tahun lalu ini baru diseleng garakan di depan masyarakat. Sebelumnya hanya digelar di kampus saja. “Kami bisa menyosialisasikan pada civitas akademika dan warga bahwa ada hari tari yang dirayakan sedunia,” sambung Endang.
Endang berharap parade tersebut dapat memper tahankan keberadaan tari dan musik di masyarakat. “Menanamkan rasa cinta terhadap seni itu butuh perjuangan, masyarakat dan instansi pemerintahan harus memberi dukungan. Tidak cukup jika dunia pendidikan yang bergerak,” kata perempuan yang mengajar tari sejak 1988 ini.
Rencananya, dalam waktu dekat dia akan membuat gebrakan baru melalui kerja sama dengan seniman dan pemerintah. (vic/ziz/radarmalang)
Keywords: jalan Ijen, mahasiswa, parade, seni tari, SMA, SMP, topeng, UM















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar