Mengurai Sumber Macet dari Terminal Bayangan
Terminal bayangan merupakan salah satu penyebab keruwetan lalu lintas di Malang Raya. Hanya saja, selama ini pemerintah daerah (pemda) di Malang Raya sepertinya “takut” untuk melakukan penertiban. Padahal, jika pemerintah tegas, masyarakat pasti banyak yang mendukung.
RUWETNYA arus lalu lintas akibat terminal bayangan tak hanya terjadi di Kota Malang. Di Kabupaten Malang, beberapa jalur utama dirusuhi dengan terminal bayangan. Di Kecamatan Singosari misalnya, ada dua titik terminal bayangan. Yakni di depan Pusat Studi Kendedes dan depan Pasar Singosari.
Alasan sopir angkota mangkal di terminal bayangan di Kendedes, karena kawasan itu menjadi jujugan pedagang dan pembeli dari Pasar Singosari. “Tak berani lama mangkal. Kebetulan ada penumpang, makanya berhenti,” ujar Supeno, sopir angkota jurusan Singosari-Lawang.
Pemandangan serupa juga terlihat di depan Pasar Singosari yang berseberangan dengan Kendedes. Angkota dari arah Lawang menyempatkan berhenti dan mencari penumpang di depan pasar.
Akibatnya, kawasan itu menjadi langganan kemacetan. Apalagi saat jam kerja. Berdsarkan pengamatan Radar, ada beberapa angkota yang patuh aturan dengan mencari penumpang di dalam terminal.
Tapi jumlahnya sangat sedikit. Sekitar 2-3 angkota jurusan Karangploso– Singosari. Di Lawang, lokasi terminal bayangan tepat di depan Pasar Lawang. Arus ken da raan dari luar kota menuju ke Malang terhambat. Demikian juga terminal ba ya ngan di sisi barat jalan menghambat arus kendaraan dari Malang menuju Pasuruan.
Sedangkan di Kecamatan Kepanjen, terminal banyangan di depan pasar dan kantor kecamatan. Titik lain yang kerap terjadi kemacetan yakni Jalan Sultan Agung, tepatnya di depan Masjid Agung Baiturrahman, Kepanjen.
Kepala dinas perhubungan, komunikasi dan informasi (Kadishubkominfo) Naza rudin Selian sudah menyiapkan langkah khusus untuk menertibkan terminal bayangan. Yakni dibangunkannya celukan (jalan menjorok ke belakang untuk parkir angkot yang mencari penumpang).
Rencananya, pembangunan celukan diawali dari kawasan depan Pasar Singosari. Alasannya, jalur utama Surabaya– Malang itu kondisinya paling parah. Jika pembangunan celukan di Singosari berhasil menertibkan terminal bayangan, dis hubkominfo akan menerapkan di Ke camatan Lawang dan Kepanjen. Di ke dua kecamatan tersebut juga terdapat terminal bayangan.
Lantaran sebagian besar terminal bayangan berada di depan pasar, dishubkominfo akan mengambil sebagian lahan pasar untuk celukan. Namun, dia akan berkoordinasi dengan satpol PP dan linmas serta disperindag dan pasar.
Satpol PP diminta menertibkan PKL yang berada di depan pasar, sedangkan disperindag diajak koordinasi terkait kondisi pasar. “Selama ini problemnya di pasar. Jadi ya harus libatkan dis perindag,” tuturnya. (dan/fir/radarmalang)
Keywords: angkot, macet, pasar, PKL, terminal, transportasi
















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar