Home » Malang Raya, Utama

Kurangi Kemacetan, Malang Raya Butuh Transportasi Masal

17 April 2012 No Comment

Penyebab utama kemacetan di Kota Malang dan kota lain-lainnya adalah terus bertambahnya kendaraan. Sedangkan di satu sisi, luas jalan tak bertambah. Guna mengurangi kemacetan, logikanya pemerintah menambah luas jalan atau mengurangi jumlah kendaraan. Akan menjadi masalah jika pemerintah daerah belum bisa menambah luas jalan dan juga belum bisa mengurangi jumlah kendaraan.

DI kota-kota lainnya, untuk mengurangi kemacetan ada beberapa trik yang dilakukan. Untuk perluasan jalan bisanya membuat jalan lingkar atau jalan alternatif. Untuk Kota Malang, dalam sepuluh tahun ini sudah membuat jembatan layang di Arjosari dan Kotalama. Kemacetan terurai, tapi areanya hanya lokal di sekitar jembatan saja. Di kota lainnya yang sudah terkena dampak kemacetan, mereka berlomba-lomba membuat trans portasi masal. Tentu saja tujuannya agar masyarakat menggunakan angkutan masal dan tidak meng gunakan kendaraan pribadinya. Di Jakarta misalnya, julah kendaraan dikurangi dengan adanya busway. Sedangkan di Kota Malang, transportasi masal masih menjadi wacana yang usianya kini sudah mencapai lebih satu dekade

Beberapa tahun lalu Pemkot Malang ingin mempunyai bus kota untuk memecah kemacetan di wilayahnya. Bus tranmaya ini direncanakan berjurusan Malang-Batu dan Malang-Kepanjen. Namun, rencana ini tak pernah terealisasi hingga kini. Padahal keberadaan bus transmaya ini dinilai cukup efektif mengurangi keruwetan.

Beberapa tahun lalu Pemkot Malang ingin mempunyai bus kota untuk memecah kemacetan di wilayahnya. Bus tranmaya ini direncanakan berjurusan Malang-Batu dan Malang-Kepanjen. Namun, rencana ini tak pernah terealisasi hingga kini. Padahal keberadaan bus transmaya ini dinilai cukup efektif mengurangi keruwetan.

Sejak sekitar sepuluh tahun lalu sebenarnya sudah dilempar wacana untuk membuat komuter Lawang-Kepanjen. Atau ada juga bus trans Batu-Malang, Ba tu-Surabaya, atau Batukepanjen. Namun, hingga saat ini faktanya belum ada satu pun yang terealisasi. Selama ini transportasi masal yang digunakan adalah angkutan kota. Beberapa tahun belakangan ini angkutan kota kurang di minati warga. Indikatornya, dari total 2.025 unit angkota, yang beroperasi kini hanya sekitar 70 persen. Sisanya tidak ber operasi lantaran pen dapatan tidak se banding dengan biaya operasional.

Kurang berminatnya warga terhadap angkota karena jenis tarnsportasi ini tidak disiplin waktu. Misalnya kalau berhenti mencari penumpang harus menunggu sampai penuh. Parahnya, antri dalam mencari penumpang ini sampai berjamjam. Akibatnya, membuat penumpang jenuh. Angkota tak bisa digunakan untuk warga yang diburu waktu karena jadwal kebrangkatan dan kedatangannya tak jelas. Belum lagi, ketika angkot sudah berjalan jalannya juga lamban. Sehingga tidak ada kepastian kapan angkot tersebut harusnya berhenti pada halte-halte yang selama ini menjadi jujugan warga untuk menunggu angkot. ”Malas naik angkota. Antrenya terlalu lama,” ujar Suhartini, warga Sukun.

Suhartini lebih senang menggunakan sepeda motor. Begitu pula dengan warga lainnya. Kondisi ini diperparah dengan gaya hidup warga Malang yang lebih senang menggunakan mobil untuk ajang gengsi semata. Itu terlihat dari banyaknya mahasiswa yang menggunakan mobil ke kampus padahal lokasi kosnya dekat dengan kampus. Begitu pula para karyawan yang lebih percaya diri menggunakan mobil bila ke lokasi kerjanya. Kadishub Kota Malang M. Yusuf tidak menampik bahwa angkota saat ini kurang diminati penumpang. Penyebab utamanya, angkota kurang disiplin waktu. Sebab penumpang saat ini kebanyakan sangat memper timbangkan waktu ketika naik angkot. ”Mungkin bagi warga yang waktunya longgar tidak ada masalah. Tapi bagi mereka yang pekerja kantoran dan butuh waktu cepat, tentunya mereka khawatir telat masuk kantor. Sebab jam tiba angkot di suatu titik tertentu tidak pasti. Terkadang lebih awal, terkadang molor,” ucap Yusuf.

Berkaca dari realitas ini, kata Yusuf, solusi yang efektif dan efisien harusnya ada angkutan masal seperti bus kota. Dishub sendiri sebenarnya sudah menggagas adanya bus transmaya. Bus ini nantinya beroperasi di wilayah Malang Raya. Yakni Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. Bahkan, program ini disambut antusias oleh Kementerian Perhubungan RI. Buktinya, program angkutan masal ini akan dibantu sebanyak 60 unit bus. Akan tetapi, program ini batal, lantaran Kota Batu mencabut dukungan terkait pelaksanaan bus transmaya. ”Seandainya program ini jalan, mungkin Februari lalu bus transmaya ini sudah beroperasi,” tambah mantan kabag humas itu.

Namun demikian, Yusuf, masih sangat berharap bus kota ini bisa terealisasi. Sebab ini menjadi kebutuhan dalam rangka mengu rangi kemacetan kota. Akan tetapi, manajemen bus kota ini harus profesional. Khususnya dalam hal disiplin waktu, termasuk juga kenyamanan penumpang. Tidak hanya kemacetan yang bisa terkurangi dengan angkutan masal, polusi juga bisa dikurangi karena asap kendaraan bermotor juga berkurang. (gus/fir)

Sumber:Radar Malang

Keywords: , ,

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar