Hanya Pesan Nasi Putih di Restoran Mewah Kamboja
MENU wajib yang harus disantap tentu saja roti dan air mineral. Bagaimana tidak. Saya termasuk backpacker yang harus mencari makanan halal sesuai agama saya. Di luar negeri, cukup sulit menemukan menu halal yang bervariasi seperti di Indonesia,†kata perempuan berjilbab itu. Namanya Mega Tri Ambarwati, 29. Mega menuturkan, dari kecil dia sudah senang melakukan perjalanan. Tujuannya simple: senang melihat sesuatu yang baru. Namun, perjalanan jauh pertamanya baru dilakukan 2009 lalu, yakni ke Bali. Itu pun masih perjalanan normal karena naik travel. â€Saat itu di pelabuhan saya bisa melihat betapa khusyuknya umat Hindu di Bali melakukan ritual keagamaan mereka. Hal baru seperti itulah yang membuat saya nyaman melakukan perjalanan,†ujar alumnus Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang (UM) tersebut. Tantangan besar bagi Mega kemudian datang dari teman-temannya. Setelah pemesanan tiket dan sebagainya, Gigih Devy Rosalinda menantang mereka bagaimana caranya bisa berkumpul di Bangkok, Thailand. â€Kami seperti blind date. Hanya diberi nama hotel dan nomor kamar. Itu juga penerbangan pertama saya menggunakan pesawat,†ucapnya disambut tawa Devy.

DI VIETNAM: Mega (tengah) bersama Devy di Ho Chi Min City 11 Januari lalu.
Berbanding terbalik dengan Mega, Devy sudah cukup malang melintang di dunia backpacker. Staf hubungan internasional Universitas Ma Chung tersebut sudah bepergian ke Singapura dan Malaysia sebelum melakukan perjalanan bersama tiga teman perempuannya tersebut. Mereka pun bisa bertemu di Bangkok dan mulai melakukan perjalanan mengelilingi Negeri Gajah Putih tersebut. Relatif tidak ada hambatan yang mewarnai perjalanan mereka di Thailand. Sehari di Thailand, mereka memutuskan segera bergeser ke Vietnam. Selama dua hari mereka mengitari negeri yang terkenal dengan Sungai Mekong tersebut. Selanjutnya, mereka bergeser ke Kamboja. Di sana mereka bertemu dengan sembilan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tengah melaksanakan tugas kampus. Di Kamboja, mereka menmendapatkan pengalaman menarik. Yaitu cara orang Kam boja menghemat pengeluaran dari segi makanan. â€Di restoran mewah, ternyata mayoritas hanya memesan nasi putih,†kata Devy. â€Mereka lalu mengeluarkan abon dari saku celana. Jadinya, cukup nasi putih dan abon. Kami pun lalu ikut-ikutan hanya pesan nasi putih,†tambah Mega lantas tersenyum.
Mega mengaku juga tidak bisa melupakan pengalaman di salah satu kafe saat berada di Vietnam. Perempuan yang merasa dikaruniai indera keenam tersebut mengatakan, saat berfoto bersama temannya, ada sekelebat bayangan yang mengikuti. â€Benar ketika saya pindah ke laptop, wajah saya tertutup bayangan tersebut.†ungkapnya. Di sisi lain, seperti yang diceri takan Mega sebelumnya, cukup sulit menemukan makanan halal secara Islam di Kamboja. Sebagai pengganjal perut, dia hanya mengonsumsi roti dan air mineral. â€Tapi setelah membeli roti, mi instant, dan air mineral di minimarket, kami menemukan restoran India yang berlabel halal,†kenangnya. Apa pengalaman yang paling menarik bagi mereka selama bepergian ke luar negeri? Devi dan Mega serentak menjawab hal-hal yang tidak mereka temui di sini. â€Dari segi lalu lintas. Kami masih bersyukur dan sa ngat bersyukur tinggal di Indonesia dibandingkan Viet nam,†ucap Devi.
â€Di Vietnam, traffic kendaraan sangat mengerikan. Tidak ada tempat bagi pejalan kaki menyeberang. Lampu merah pun, mereka masih menerobos. Jadi, penyeberang jalan harus menoleh kanan dan kiri sembari berkelit untuk menghindari risiko tertabrak,†tambah warga Polehan tersebut. Namun, Mega menambahkan dia cukup iri dengan tata kota di Thailand. Di sana ruang terbuka publik seperti taman kota tersedia cukup banyak. â€Saya sampai mempunyai pikiran, kapan Malang bisa senyaman di Thailand. Pasti asyik jika banyak taman yang ada di Malang,†kata warga Simpang Grajakan itu. Apa saja barang wajib yang harus dibawa menjadi backpacker ke luar negeri? â€Paling jelas tentu identitas. Terpenting lagi paspor,†kata Mega yang diamini Devi. â€Kamera, ponsel, dan backpack yang tidak lebih dari tujuh kilogram. Sebab, selain memberatkan, tentu juga akan kena biaya tambahan di pesawat,†sambung Devi.
Menaklukkan sejumlah negara di Asia Tenggara, kedua penggila backpacker tersebut belum berhenti berkeinginan kembali mengelilingi negara lainnya. â€Saya pecinta drama Korea. Saya ingin berpetualang ke Korea dan Jepang,†ujar Mega. â€Oktober mendatang, doakan saya bisa ke Filipina. Paling pasti harus beli tiket penerbangan murah dulu. Juga, semoga saya bisa mendapat cuti dari kampus,†sambung Devi. Belum terealisasi mimpi mengunjungi negara yang belum disinggahi, mereka memendam keinginan lebih besar. Mega mengaku ingin bisa keliling dunia. (*/yn)
Keywords: backpacking, komunitas, kota-malang















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar