Usai Santap Mi, 133 Siswa Kelenger
Acara istighotsah untuk ujian nasional (UN) dan memperingati Hari Kartini di SDN 2 Gadang, kemarin (14/4) berakhir dengan kepanikan. Sebanyak 133 siswa keracunan mi goreng yang dimasak guru dan wali murid. Dari semua siswa yang keracunan, hanya 25 anak sempat menjalani perawatan petugas kesehatan dari Puskesmas Ciptomulyo. Keracunan masal itu tak hanya dialami siswa. Namun guru kelas, bahkan Kepala Sekolah (Kasek) SDN 2 Gadang Iswahyudi juga mengalami nasib yang sama. Hingga sore kemarin, semua siswa yang menjalani perawatan sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya dinyatakan membaik
Acara makan bersama di SDN 2 Gadang tersebut sudah direncanakan satu bulan sebelumnya. Pihak sekolah mengagendakan jadwal kegiatan istighotsah untuk persiapan UN siswa kelas VI dan rangkaian peringatan Hari Kartini. Terlebih pihak sekolah juga menyebar pengumuman kepada siswa bahwa mereka akan mendapatkan makanan gratis pada Sabtu (14/4). Siswa hanya diminta membawa perlengkapan makan dan minum dari rumah. Karena itu, sebagian besar siswa tidak sarapan. Mereka memilih menunggu mendapatkan makanan dari sekolah. Sambil mengikuti pelajaran, para siswa menunggu makanan selesai dimasak.

Polisi memeriksa mi goreng yang masih belum sempat dimakan oleh siswa SDN 2 Gadang.
Setelah makanan masak sekitar pukul 09.30, siswa pun langsung mendapat jatah mi goreng satu per satu. Hanya kelas I hingga V saja yang mendapatkan jatah makan terlebih dahulu. Sedangkan kelas VI masih menggelar acara istighotsah. â€Kami diminta berdoa dahulu sebelum makan,†kata Gabriela Risky, 11, siswa kelas V yang juga salah satu korban keracunan. Selesai berdoa bersama, mereka pun langsung menyantap mi goreng yang sudah berada di piring. Baru dua hingga tiga suapan, mereka sudah merasakan ada yang aneh pada makanan tersebut. Selain terasa getir, pada tenggorokan terasa serak dan terasa banyak minyaknya. Hingga sejumlah siswa mulai banyak yang merasakan mual dan muntah.
Hal yang sama juga dialami para guru yang menyantap mi goreng. Seketika para guru kelas langsung meminta siswa menghentikan makan mi goreng. Bagi mereka yang terasa mual segera dimuntahkan. Selain itu, juga diminta minum air putih yang banyak. â€Hanya dua hingga tiga sendok saja sudah terasa tidak enak dan mau muntah,†urai Gabriela. Satu per satu siswa mulai ambruk mengeluhkan perutnya perih. Selain itu, juga mulai merasakan pusing. Ada 13 siswa yang dianggap parah. Mereka pun dibawa ke puskesmas terdekat untuk menjalani pe rawatan. Sedangkan 12 lainnya diminta untuk menunggu di sekolah. Mengingat petugas medis dari puskesmas ada yang datang ke sekolah untuk memeriksa kondisi siswa yang keracunan.
Para siswa yang dianggap parah langsung menjalani perawatan dan mendapatkan obat. Setelah mulai membaik, mereka pun dipersilakan untuk pulang. â€Ini kali pertama saya keracunan. Perut terasa perih dan kepala pusing. Saya masih belum mendapatkan obat karena kehabisan,†ungkap Rahma May Syaroh, 11, siswa kelas V. Setelah mulai membaik, para siswa diperbolehkan pulang ke rumah. Sedangkan keracunan bukan hanya menimpa siswa dan guru. Kepala Sekolah SDN 2 Gadang Iswahyudi juga ikut keracunan. Baru satu suapan, makanan terasa aneh. Karena itu Iswahyudi mencoba dua hingga tiga suapan. Saat itulah tenggorokannya terasa serak dan berlendir. Kontan dia meminta agar para guru tidak memberikan makanan itu lagi kepada siswa.
Saat itu juga dia berusaha memuntahkan makanan tersebut. Namun usahanya selalu gagal. Hingga Iswahyudi merasakan perutnya perih dan kepalanya pusing. â€Saya minum air putih yang banyak. Namun tetap saja terasa perih dan pusing,†kata Iswahyudi. Belum sempat mengobati dirinya sendiri, pria yang sudah menjabat sebagai Kasek SDN 2 Gadang selama 9 tahun ini pun melayani banyak tamu yang datang. Mulai wali murid hingga petugas dari Polsek Sukun. Semua informasi yang diketahui dia disampaikan semua tanpa ada yang ditutupi. Begitu juga asal bahan makanan dan siapa saja yang memasak makanan tersebut. â€Lha, saya sendiri juga penasaran apa penyebabnya,†ungkap Iswahyudi.
Lucia Tjahja Darmawati, koordinator memasak me ngatakan bahwa mie yang diberikan tersebut hasil masakan guru dan sejumlah wali murid. Bahan berupa mie dibeli dari pabrik di sekitar sekolah. Sedangkan dia kebagian membeli bumbu serta sayur untuk mi goreng. Setelah bahan siap, acara memasak dimulai pukul 07.00 dan dikerjakan tiga wali murid. Mereka memasak di dapur sekolah yang berada di sekitar ruang guru. â€Yang membantu memasak ada tiga wali murid. Di antaranya Bu Sujianto, Bu Susianto dan Bu Ponidi,†urai Lucia.
Menurut dia, alat memasak dan cara memasaknya juga tidak ada yang aneh-aneh. Seperti menggoreng biasa. Bahkan, para juru masak tersebut juga berkalikali mencicipi makanan tersebut. Setelah selesai, makanan langsung dihidangkan. Saat itulah baru tahu makanan tersebut membuat siswa keracunan. Sementara itu, Kapolsek Sukun Kompol Sulistyo Nugoroho menjelaskan, pihaknya meminta anggotanya melakukan penyelidikan. Di antaranya, meminta keterangan korban, kordinator memasak hingga kepala sekolah. Selain itu juga memeriksa bahan makanan yang digunakan berikut mi goreng yang dimintahkan siswa maupun yang belum sempat dimakan. Semuanya â€Jujur, kami bisa tenang jika kesepakatan soal reposisi site plan ini sudah dibuatkan adendum,†ujar Koordinator Pedagang Pasar Blimbing Subardi, kemarin. Untuk membuat adendum itu, kata dia, tidak hanya terkait reposisi site plan. Akan tetapi, juga masalah relokasi pedagang Pasar Blimbing dan proses pembangunan pasar. Mengingat sampai saat ini pedagang masih menolak rencana pemkot memindahkan pedagang ke pasar relokasi yang berada di Kelurahan Pandanwangi. Terkait pentingnya adendum, kata Subardi, pihaknya belajar dari proses pembangunan Pasar Dinoyo. Dalam prosesnya, ternyata banyak fakta di lapangan yang tidak sesuai dengan PKS. Akibatnya pedagang menjadi korban. Misalnya, terkait perubahan site plan Pasar Dinoyo. Awalnya pasar tradisional menghadap ke barat, namun pedagang Dinoyo menolak. Setelah persoalan ini dimediasi Komnas HAM, muncul kesepakatan pasar tradisional menghadap ke selatan. Hanya saja, praktik di lapangan, pengembang PT Citra Gading Asritama (CGA) harus membebaskan ruko yang ternyata lahannya milik perorangan. â€Padahal semua orang awalnya mengira lahan tersebut milik pemkot,†katanya. Dampaknya muncul masalah dan berlarutlarutnya proses pembangunan. Padahal Pedagang Dinoyo sudah terlanjur dipindah ke pasar relokasi di Kelurahan Merjosari. â€Pengalaman itulah yang tidak ingin kami alami. Makanya, sebelum semuanya dituangkan di adendum PKS, kami tidak akan mau direlokasi,†tegas dia. Bahkan, terkait relokasi, proses mediasi antara pemkot dengan paguyuban pedagang diperkirakan tetap berjalan alot. Meski PT KIS sudah terlanjur membangun dua pasar relokasi yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 3 miliar. Alasannya, tempat relokasi tidak strategis karena jauh dari pemukiman. Belum lagi akses jalannya juga sempit. Kondisi ini dikhawatirkan membuat orang malas datang ke pasar relokasi Blimbing. â€Itu kesalahan mereka sendiri (pemkot, Red). Kenapa mereka membangun pasar relokasi tanpa ada komunikasi dengan pedagang? Jadi jangan salahkan kami jika tidak mau menempati. Sangat konyol jika kami tempati, karena dagangan kami bisa sepi,†terang Subardi. Untuk itu, pedagang menyarankan agar pasar relokasi tidak terlalu jauh dengan pasar yang ada sekarang. Di sisi lain, akses jalannya juga mudah dijangkau dari berbagai daerah. Sehingga stan pedagang di pasar relokasi nantinya tetap ramai dikunjungi pembeli. Ketua Tim Pemkot Malang Bambang Priyo Utomo optimistis ada jalan keluar terkait relokasi pedagang ke Pandanwangi. Solusi itu bisa muncul setelah ada komunikasi dari hati ke hati yang dilakukan pemkot dengan pedagang. â€Mereka belum kami ajak berbicara soal tempat relokasi. Jadi tunggu saja waktunya,†kata pria yang juga wakil wali Kota Malang ini. Sedangkan Wakil Ketua DPRD Kota Malang Priyatmoko Oetomo bisa memaklumi keinginan pedagang Pasar Blimbing soal adendum di PKS. Sebab, setiap ada perubahan keputusan harusnya dituangkan dengan pembuatan adendum. Ini semua dilakukan untuk memberikan kepastian hukum soal pembangunan Pasar Blimbing. â€Kami sepakat dengan pedagang. Harus dibuatkan adendum untuk kepastian pelaksanaan pembangunan,†tandas mantan ketua DPRD Kota Malang ini. Seperti diketahui, setelah terkatungkatung hampir setahun, akhirnya site plan pembangunan Pasar Blimbing menemui titik temu. Pemkot dengan investor PT Karya Indah Sukses (KIS) serta pedagang menyepakati adanya reposisi site plan pasar. Adapun reposisi site plan yang disetujui, keberadaan pasar modern dan pasar tradisional berdampingan. Sisi timur disiapkan untuk pembangunan pasar tradisional dengan bangunan dua lantai, sedangkan untuk sisi barat dibangun pasar modern yang dilengkapi dengan apartemen. (gus/ziz) Polisi ini akan mengawasi sejumlah titik kerawanan kebocoran soal UN. Kapolres Malang AKBP Rinto Djatmono melalui Kasatbinmas Polres Malang AKP Soepary menuturkan, secara teknis akan ada dua anggota kepolisian yang mengawal naskah UN dari polsek ke sekolah-sekolah. Mereka akan didampingi tim pengawas independen. Kewenangan dua petugas tersebut hanya sampai mengantarkan naskah UN ke sekolah-sekolah. Mereka harus memastikan naskah tersebut aman di jalan dari gangguan. â€Kewenangan kami hanya sampai mengantarkan. Ketika naskah sudah di dalam sekolah, itu sudah menjadi kewenangan tim pengawas independen dan pihak sekolah,†kata dia. Bukan hanya menerjunkan pengamanan terbuka untuk helatan UN. Mereka juga menerjunkan sejumlah polisi berpakaian preman yang akan mengawasi sejumlah tempat strategis yang memiliki peluang untuk kecurangan UN. Salah satu yang menjadi atensinya adalah tempat fotokopi. â€Kami mengawasi segala kemungkinan yang ada. Paling tidak, kami mengantisipasi kecurangan yang bisa dilakukan semua pihak. Benar, salah satu atensi kami adalah tempat fotokopi. Sangat bahaya jika ada soal yang digandakan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,†bebernya. Bukan hanya tempat fotokopi, Soepary juga mengatakan keberadaan joki-joki ujian juga menjadi pengawasan kepolisian. Pihak kepolisian sudah memiliki antisipasi khusus untuk mengetahui keberadaan joki ini. â€Paling penting, kami melakukan deteksi dini jangan sampai ada joki yang bisa bebas berkeliaran,†katanya. Di sisi lain, kemarin siang, Polres Malang mendistribusikan 276 kardus naskah ujian nasional ke semua jajaran polsek yang ada di wilayah hukum Kabupaten Malang. Naskah tersebut akan menjadi penentu nasib kelulusan bagi setidaknya 5.836 siswa SMA di Kabupaten Malang. Sesampai di Polsek, naskahnaskah tersebut dimasukkan ke ruangan khusus. Ruangan itu disegel dan digembok untuk menghindari kemungkinan kecurangan. â€Secara teknis ada dua gembok yang ada di ruangan. Satu gembok dipegang Kapolsek, satu gembok dipegang tim pengawas independen. Jadi satu gembok saja tidak akan bisa untuk membuka ruangan,†kata dia. Pantauan Radar Polsek Pakisaji sudah menerima naskah tersebut. Naskah untuk lima sekolah di Pakisaji tersebut disimpan di ruang Bhayangkari yang disulap menjadi ruang penyimpanan naskah UN. Lima sekolah yang ada di Pakisaji adalah SMK PGRI, SMK Budi Multa, SMK Assfiyah, SMK Hasyim Ashari, dan SMK Trimurti. Kapolsek Pakisaji AKP Ni Nyoman Sri Efliandani me nutur kan, ada empat kardus yang disimpan di ruangan penyimpanan tersebut. Nantinya, naskah tersebut akan didisbustrikan tepat pukul 06.00 ke sekolahsekolah dengan pengawalan dua polisi. Proses distribusi dari Polres Malang ke Polsek Pakisaji sendiri berjalan lancar. â€Tadi disaksikan perwakilan sekolah, pengawas, tim independen, mahasiswa dan jajaran Polsek. Kami akan pastikan semuanya aman,†ucap dia. Abaikan Kunci Jawaban via SMS Sementara itu, antisipasi terjadinya kecurangan pada pelaksanaan UN terus ditingkatkan. Siang kemarin, Dinas Pendidikan Pemkot Batu merapatkan barisan dengan Dewan Pendidikan Kota Batu. Salah satunya mengantisipasi penyebaran kunci jawaban soal ujian melalui SMS atau pesan singkat. Antisipasi yang dilakukan adalah dengan memberikan penyadaran kepada peserta ujian supaya tidak mudah percaya dengan kunci-kunci jawaban lewat SMS atau lewat media lainnya. â€Nggak usah dipercaya. Bisa jadi itu (jawaban lewat SMS, Red) malah menyesatkan,†kata Mohammad Zakaria, kepala Dinas Pendidikan Pemkot Batu, siang kemarin. Sebaliknya, Zakaria mengimbau kepada para siswa untuk lebih percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Apalagi, jauh-jauh hari juga sudah melakukan persiapan yang matang. Dengan begitu, juga tidak akan menyesal telah mempercayai hal-hal yang tidak diketahui sumbernya. Dia juga mengatakan, persoalan itu sudah dibicarakan dengan Dewan Pendidikan Kota Batu. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, sejauh ini belum ditemukan adanya kabar penyebaran jawaban lewat SMS. â€Sampai saat ini kami memang belum menemukan. Kami berharap mudah-mudahan tidak ada,†kata mantan kepala bagian umum ini. Sementara itu, persiapan pelaksanaan ujian yang akan diikuti 1.914 siswa tingkat SMA dan SMK terus dimatangkan. Pemasangan nomor ujian untuk peserta juga telah dilakukan. Hal itu seperti halnya di SMAN I Kota Batu. Panitia ujian tengah menyelesaikan pemasangan nomor ujian di bangku-bangku yang akan ditempati siswa. Sedangkan di Kota Malang juga mulai dilakukan pe nempelan nomor ujian di sekolah penyelenggara. â€Hari ini sudah 95 persen persiapan kami. Tinggal naskah UN sama pengawasnya yang belum ada,†kata Achmad Zaini, panitia ujian di SMA 4 Malang. Menurutnya, pola tempat duduk UN sekarang lebih baik dibandingkan dengan se be lumnya. Sebab, kata dia, jarak antar peserta yang punya kode sama sangat jauh. Sehingga kejujuran siswa dalam mengerjakan soal lebih terjamin. Apalagi, imbuh dia, siswa nanti masuk kelas hanya boleh membawa alat tulis. â€Kalau UN sebelumnya dengan kode huruf abjad, tapi sekarang dengan angka dan jaraknya lebih jauh,†jelasnya. Tak hanya itu, Zaini juga mengajak Radar ke dalam ruangan yang sudah ditempeli nomor. Dia menunjuk kode soal P 12. Kode soal itu ada di meja paling depan dan satunya lagi berada di pojok paling belakang. (did/yak/cw2/ziz) Dia pun mencari teman yang memiliki hobi sama. Dia kemudian mengenal Subkhan Ramadhani, 27, backpacker asal Tajinan, Kabupaten Malang. Keduanya merencanakan perjalanan Malang ke Sumbawa dengan metode hitchhike (menumpang kendaraan orang lain). Mereka bersepakat memulai perjalanan pada 28 Desember. â€Kami ingin merasakan tahun baru di Sumbawa. Kami hanya membawa bekal Rp 1 juta masing-masing orang,†ucap Martha yang alumnus SMAK Santa Maria tersebut. Perjalanan lancar dari Malang ke Banyuwangi menggunakan bus. Dilanjutkan dari Banyuwangi ke Bali menggunakan kapal penyeberangan. Sesampai di Bali mereka memulai misinya; mencari tumpangan. â€Kami sampai pukul 00.00, kami mencari truk tronton,†ujar Dani, panggilan Subkhan Ramadhani. Karena tempat di belakang sopir cukup besar, Dani bersama kenek duduk di belakang sopir. Sementara Martha berada di depan bersama sopir. Tujuan awal mereka adalah Denpasar. Tapi keduanya diturunkan di jembatan timbang. Di Malang, seperti yang ada di Singosari. Kehadiran keduanya tentu membuat sopir lain kaget. â€Kami disangka pasangan kawin lari. Mau ngapain dinihari begini,†kenang Dani sambil tersenyum. Keduanya beristirahat di jembatan timbang tersebut. Pagi harinya mereka me lanjutkan perjalan ke Denpasar. Kali ini mereka mendapatkan tumpangan pikap yang me ngangkut kepiting. Dani harus duduk di belakang dan ber campur aneka seafood itu. â€Saya duduk di sebelah sopir. Tugas saya salah satunya melemparakan uang ke pos pemeriksaan,†kata Martha. Dari Denpasar mereka melanjutkan perjalanan ke Padangbay (Lombok). Mereka me mutuskan naik angkutan minibus seharga Rp 15 ribu dan beristirahat di Padangbat. â€Selama istirahat tersebut, saya sakit demam,†kenang Martha. Tepat 31 Desember mereka menyeberang ke Mataram dan mau menikmati tahun baru di Pantai Senggigi. Namun, kaena mereka sampai di Mataram hampir malam hari, sudah tidak ada lagi angkutan. Apalagi jalan ke Senggigi sangat padat. â€Bagaimana kalau kita jalan kaki saja?†kata Dani saat itu. Di tengah perjalanan, keduanya disapa penduduk. â€Jaraknya cukup jauh. Tidak mungkin kami jalan kaki berdua di tengah malam,†ujarnya. Impian tahun baruan di Senggigi kandas. Namun mereka mendapat hikmah. Mereka diajak tahun baruan Sumardi, orang kampung di jalan yang mereka lewati di Kotatua, Ampenang. â€Kami diajak keliling Lombok. Bakar ikan bersama. Cukup menyenangkan sih. Apalagi kami juga boleh beristirahat di rumah mereka,†kata Dani. Masih di sana, mereka me lanjutkan perjalan tersebut ke Giliayer. Mereka melakukan snorkling, jalan-jalan di pulau dan sebagainya. â€Kami juga ketemu couple (pasangan) dari Pran cis yang juga backpacker. Kami memutuskan segera merapat ke Sumbawa,†ucap dia. Di Mataram, mereka menginap di sekretariat UKM di Universitas Mataram. Mereka juga sempat diajak keliling-keliling Mataram menggunakan sepeda motor. â€Kami sempat mampir ke privat island di Gili Komodo dan melakukan snorkling. Kami d imarahi karena privat island itu dimiliki salah satu travel tertentu,†ungkapnya. Sesampai di Sumbawa, mereka mulai kehilangan opsi. Ingin pergi ke Maluk, salah satu pantai yang dikenal eksotis, namun sudah malam. Apalagi mereka juga mendapatkan informasi jika perjalanan ke Maluk masih sekitar 80 km melalui jalanan sepi dan gelap. â€Kami kemudian istirahat di gubuk milik bapakbapak yang kerja di tambang emas,†kata Martha. Esok harinya, mereka bepergian ke pantai Bennetee. Keduanya melanjutkan perjalanan ke Sumbawa Besar dan berada di sana selama dua hari. Di sana mereka me ngunjungi pantai dan bendungan yang memasok persediaan listrik di Sumbawa Besar. Di sana keduanya dinasehari warga agar jangan melanjutkan ke Dompu. Perjalanan masih 200 km lagi. Karena perbekalan makin menipis, mereka kembali ke Mataram dan mengambil uang di ATM. Di Mataram, mereka kembali menginap di UKM Universitas Mataram. Destinasi mereka selanjutnya adalah Denpasar Bali. Pada 11 Januari 2011 mereka berada di Denpasar dan langsung merapat ke Kuta. Di Bali, mereka melakukan traveling ke sejumlah tempat wisata. Tiga hari tiga malam di Bali, me reka memutuskan segera kembali ke Malang. Apa alasan nya? â€Ponsel saya sibuk dengan telepon dan SMS dari orang tua. Intinya, mereka menyuruh saya segera pulang,†kata Martha sembari tersenyum. Sesampai di Pelabuhan Ke tapang, Banyuwangi, mereka mendapat rezeki nomplok, â€Saat itu kami di salah satu minimarket. Ada yang menawari barengan sampai di Pasuruan menggunakan mobil Vios, lumayan mewah. Kami hanya disuruh membeli bahan bakar seharga Rp 80 ribu. Wah senangnya,†ujar Martha diamini Dani. Sesampai di Pasuruan, mereka naik bus jurusan Trenggalek dan sampai di terminal Gadang pada 17 Januari 2012. â€Total saya hanya habis Rp 1,5 juta,†kata Dani. â€Saya habis Rp 2 juta. Maklum cewek, belanjanya banyak,†sambung Martha lalu tertawa. Mereka membagi tips kepada para backpacker. Salah satu tips penting adalah peta, ponsel, dan kontak teman yang bisa dihubungi di tempat tujuan. â€Rencana perjalanan pasti ada. Namun seringkali tidak sesuai planning. Di Bali, kami sempat ke warnet untuk mencari kontak temanteman,†ucap Dani yang merupakan mahasiswa Pas casarjana Fakultas Ekonomi UB tersebut. Apa yang mereka dapatkan selama menaklukkan rute Malang- Bali-Sumbawa? â€Kami merasa Sumbawa salah satu bagian unik di Indonesia. Kami belajar banyak tentang budaya. Satu lagi, keamanan di sana sangat terjamin. Sapi atau sepeda diletakkan di jalan, tidak akan ada yang mengambil,†kata Martha. Bukan hanya itu, mereka menyebut perjalanan mereka sangat menantang. â€Ya, kami mencari tantangan di jalan. Banyak yang bilang backpacker itu nekat. Kami ingin mencari sesuatu yang out of the book,†kata Martha. â€Kami juga belajar berkomunikasi dengan baik dengan orang yang baru kami kenal,†kata Dani. Dani sendiri, sebelum be per gian ke Bali dan Sumbawa sudah malang melintang di dunia backpacker Malang. Dia sudah bepergian ke Malaysia, Vietnam, dan Laos pada Oktober 2011 selama sembilan hari. â€Di Malaysia, selalu ditanyai kamu mau jadi TKI ya. Padahal hanya sebagai tempatt transit,†kenang Dani sembari tersenyum kecut. (*/ziz) diambil contohnya untuk di uji ke laboratorium. â€Kami masih menyelidikinya. Yang jelas dugaan keracunan dari masakan mie, tapi apakah itu dari mie atau bumbunya, itu yang masih kami selidiki,†urai Sulistiyo.
Sementara itu, diknas meminta keracunan makanan diselesaikan secara kekeluargaan. Mengingat dalam kasus tersebut tidak ada kesengajaan dari sekolah. â€Ya, kalau dalam pengecekan nanti tidak ada unsur kesengajaan, sebaiknya diselesaikan melalui musyawarah kekeluargaan†ujar Zubaidah, sekretaris Dinas Pendidikan Kota Malang saat dikonfirmasi kemarin. Sebenarnya dia juga baru mendengar laporan tersebut ketika dihubungi Radar. Namun, dia mengungkapkan jika yang terjadi itu keracunan karena makanan dari dalam sekolah, apalagi masakan dari wali murid, sebaiknya diselesaikan secara kekeluargaan. â€Penyelesaiaan secara musyawarah kekeluargaan memang harus diutamakan terlebih dahulu jika memang itu tidak ada unsur kesengajaan,†terang dia.
Sementara itu, Kadiknas Kota Malang Sri Wahyuningtyas juga menyatakan hal yang serupa. Dia meminta kejadian itu disikapi secara kekeluargaan, karena makanan yang membuat para siswa keracunan itu dari wali murid. â€Kalau makanan dari luar yang tidak layak sudah kami imbau agar tidak dimasukkan. Tapi kalau makanannya dari wali murid, lha yo piye?,†tuturnya. Sementara itu, Ka din kes Kota Malang Enny Sekarengganingati masih belum bisa dikonfirmasi soal kasus ini. Beberapa kali handphone-nya dihubungi tidak diangkat. (bb/cw1/ziz)
Sumber: Radar Malang
Keywords: keracunan, makanan, pangan, SD, Sekolah Dasar, un- Berita Lainnya :
- Oneng Sugiarta, Menjadi Langganan Artis Terkenal
- Minim Variasi Serangan, Arema Gagal Raih Kemenangan
- SBMPTN Lengkap dengan Metal Detector
- Club Lamborghini Ikut Ramaikan “Malang AutoFest 2013”
- Terkikis Air, Rumah Ambruk
- Mobil RC Jadi Tren dan Hobi Semua Kalangan
- Pisah Sambut Kapolresta Undang Artis Ibukota
















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar