Home » Kota Malang, Pendidikan

Fiksimini Malang, Komunitas Penulis Cerita Fiksi Mini

15 April 2012 No Comment

RT @-Denshu: JODOH DI TANGAN TUHAN. Pantas saja aku bujang, Tuhan selalu menggandengnya. Itulah petikan salah satu cerita fiksi. Tulisan fiksi kerap ditemukan dalam sebuah novel dengan rangkaian kalimat yang panjang. Namun, bagaimana jadinya jika cerita fiksi hadir dalam bentuk mini? Ya, sekumpulan anak muda yang tergabung dalam komunitas Fiksimini Malang ini mampu merangkai cerita indah hanya dengan 140 karakter.

Berkembangnya situs jejaring sosial tidak hanya membantu seseorang bertemu kembali dengan teman lama atau kerabat. Jejaring sosial juga dapat membantu seseorang memiliki temanteman baru, bahkan membentuk komunitas yang memiliki kesamaan hobi. Beragam komunitas terbentuk dari jejaring sosial dan kebanyakan tanpa disengaja. Karena mempunyai hobi yang sama itulah, komunitas pun berkembang. Hal tersebut yang juga dirasakan komunitas Fiksimini Malang. ”Fiksimini merupakan sebuah akun di twitter sebagai wadah untuk menulis certia fiksi,” kata Jatrifia Ongga, koordinator Fiksimini Malang.

Komunitas Fiksimini Malang berkumpul di Teysa’s Café kemarin. Mereka aktif menulis karya fiksi dengan maksimal 140 karakter di twitter.

Komunitas Fiksimini Malang berkumpul di Teysa’s Café kemarin. Mereka aktif menulis karya fiksi dengan maksimal 140 karakter di twitter.

Komunitas itu membuktikan, 140 karakter tidak membatasi kreativitas dalam berkarya. Terlahir dari twitter, komunitas ini berkembang menjadi sebuah komunitas yang nyata dalam menumbuhkan semangat membaca, menulis, serta mencintai budaya dan bahasa Indonesia dalam suasana penuh kehangatan dan persaudaraan. Berawal dari tweet-tweet dengan hastag #Fiksimini di twitter, Fiksimini mulai menjadi buah bibir saat dimuat di kolom budaya dan sastra sebuah surat kabar pada 11 April 2010 dengan Judul Mengunyah Fiksimini Sepanjang Hari. Seminggu selanjutnya, tiga orang penulis menggagas untuk membuat akun resmi fiksimini. Kemudian mereka berlanjut menjadi moderator akun twitter @fiksimini tersebut. Yakni Agus Noor, Clara Ng., dan Eka Kurniawan.

Kehadiran fiksimini di Jakarta lantas memunculkan berbagai komunitas serupa di beberapa kota di Indonesia. Termasuk di Malang. Awalnya Jatrifia Ongga dan Jatrifia Ramadhani mengikuti class creative yang diselenggarakan Fiksimini Surabaya. Karena di Malang belum ada, akhinya dua perempuan bersaudara itu mencetuskan pendirian Fiksimini Malang. Dengan bantuan moderator dari fiksimini, akhirnya terkumpul sepuluh anak muda Malang yang memiliki gairah (passion) di bidang menulis fiksi. Pada 19 Desember 2010 lalu, mereka saling bertemu dan mulai aktif mengembangkan kegiatan Fiksimini Malang

Sejak kemunculannya di jejaring sosial sampai sekarang, @fiksiminiMLG telah menulis ribuan tweet serta memiliki 500 followers (pengikut). ”Ini merupakan something new di dunia sastra karena tidak semua orang bisa menulis cerita hanya dengan 140 kakrakter,” kata Ongga. Menurut dia, yang membuat fiksimini berbeda dan sedikit rumit adalah bagaimana menyusun unsur cerita dalam satu tweet. Setiap harinya, ada tema yang diajukan moderator. Jadi, fiksimini yang dibuat bisa terarah dan tidak melebar. Tiap anggota lalu meneruskan tema tersebut menjadi suatu cerita. Tentunya setiap anak memiliki ceritanya masing-masing. Satu kata bisa memiliki bermacam-macam arti bagi tiap orang.

Di twitter inilah kreativitas dan imajinasi mereka terasah. Para anak muda ini terpacu untuk membuat tulisan fiksi secara bagus dan pesannya bisa tersampaikan kepada pembaca. Ketekunan fiksiminiers (sebutan penulis fiksimini itu) dalam mengolah kata itu terilhami filosofi logo fiksimini. Logo dengan gambar jamur tersebut mengartikan tinggal di kehidupan yang mini. ”Tahu tokoh kartun Smurf kan? Dia itu liliput yang tinggal di sebuah jamur. Walaupun tinggal di kehidupan yang kecil, mereka mampu mengeksplorasi banyak hal. Sikap Smurf yang kreatif itu menjadi filosofi fiksiminiers dalam berkarya,” ungkap Ongga. (cw3/yn/RadarMalang)

Keywords: , , ,

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar