Heru Widijoto, Dosen UM yang Kembangkan Ilmu Terapi Pijat ala Eropa
Tak banyak akademisi atau praktisi di perguruan tinggi, terutama di bidang keolahragaan yang mau menggeluti profesi sebagai terapis pijat. Dari yang tak banyak itu, ada nama Heru Widijoto, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (UM). Dia tak hanya menyembuhkan cedera atlet, tangan terampil Heru bahkan sering menyembuhkan pasien sroke.
Siang kemarin (8/4), berlokasi di kediamannya di daerah Mayjend Panjaitan, Kota Malang, Heru terlihat sedang melayani seorang pasiennya. Sepintas memang tak ada yang berbeda antara metode terapi pijat yang digunakan oleh Heru dengan terapis pijat lainnya. Tapi bila dicermati dan dirasakan langsung, ternyata ada banyak hal baru yang diterapkan oleh pria yang masih terlihat bugar di usia 61 tahun itu.

PERNAH DAMPINGI ATLET GULAT: Heru memijat pasien di rumahnya, kemarin.
Jika pada umumnya, ketika pasien merasakan sakit di daerah tertentu, pemijat pasti menambah tekanan pijatannya. Tapi, tidak demikian halnya dengan Heru. â€Kalau sakit, saya pasti turunkan tekanan,†ujar dia sambil terus mengurut punggung pasiennya. Selain itu, untuk meningkatkan keberhasilan penyembuhan, dia terlebih dulu mencari otot yang bermasalah.
Ia mengatakan, otot yang bermasalah itu mudah dikenali. â€Otot yang tidak bermasalah itu mulus. Tapi kalau sudah ada kontur seperti butiran pasir, hingga seperti butiran jagung, itu sudah bermasalah,†ujar pria kelahiran Madiun, 15 Oktober 1950 itu’
Selain itu, bila diraba, otot yang bermasalah cenderung hangat. â€Ada pula yang langsung berwarna kemerahan ketika dipijat,†sambung suami Siti Awaliyah itu. Pada penanganan cedera atlet, seperti engkel, ia juga menerapkan metode yang berbeda ketimbang sport massage (terapis pijat olahraga) kebanyakan. Umumnya, jika engkel yang sakit, para pemijat langsung menyentuh engkel pasien. â€Kalau saya, betisnya yang saya tangani. Ini karena betis menjadi penyebab cedera engkel karena betis tidak bisa menyangga engkel dengan baik,†ujar bapak tiga orang putra itu.
Selain itu, ada salah satu metodenya yang spesial, yakni apa yang dikatakannya metode vibrasi (getaran). Yang dilakukannya adalah menyentuhkan salah satu jarinya ke otot pasien, lantas jarinya digetarkan sedemikian rupa. Pasien akan merasakan efek seperti tersetrum ketika â€menikmati†pijatan seperti ini. Heru mengatakan, dengan penanganan yang tepat, cedera seseorang bisa pulih dalam waktu singkat. Tak hanya soal cedera, terapinya bahkan acapkali mampu menyembuhkan pasien stroke. â€Pernah ada pasien saya yang kena stroke sampai dia tidak bisa apa-apa. Hanya bisa berbaring. Tapi setelah rutin saya terapi, dalam enam bulan dia sudah bisa normal, bahkan bisa berangkat haji,†kata dia sembari tersenyum
Tak hanya bagi penderita sakit atau cedera, orang yang secara kasat mata tidak bermasalah dengan ototnya sering menjadi pasiennya. â€Terlihat tidak bermasalah juga bukan berarti tidak ada masalah. Mencegah jelas lebih baik ketimbang mengobati,†ujar dia. Melihat apa yang dilakukan oleh Heru, dari mana ia mempelajari ilmu terapis ini? Bisa dibilang, awal dari keseriusan Heru di bidang ini adalah faktor ketidaksengajaan. Sekitar 1987, ia membawa kontingen gulat untuk SEA Games XIV/1987 ke Kwangju, Korea Selatan. â€Di sana kami berlatih di sebuah camp khusus untuk atlet gulat. Fasilitasnya sangat lengkap,†ujar dia.
Tapi yang membuatnya tertarik adalah metode yang digunakan oleh pelatih dan terapis yang ada di sana. Pada suatu kesempatan, ia melihat seorang terapis yang memberi kartu berobat bagi seorang atlet setelah melihat atlet yang bersangkutan berjalan asimetris. â€Setelah dapat kartu, atlet itu langsung ditangani di sebuah ruangan,†ujar dia. Tak butuh waktu lama, atlet gulat itu bisa pulih seperti sediakala. Penasaran dengan itu, ia belajar pada salah seorang terapis di sana, yakni Mr Kim. â€Saya dua bulan belajar. Pagi-siang saya tangani pemusatan latihan tim saya. Malamnya saya belajar terapi kepada Mr Kim,†ujarnya.
Berkat ketelatenannya, Heru bisa menyerap semua ilmu yang diberikan Mr Kim. Bahkan, dia langsung mempraktikkannya kepada atlet gulat Korea Selatan. â€Atlet sana bahkan lebih suka diterapi oleh saya ketimbang terapisnya sendiri,†ujar dia. Meski belajar di Korea Selatan, Heru menyebut terapi pijat semacam itu berasal dari Eropa. Meski tugas utama Heru kala itu adalah pelatih kontingen Gulat, namun ilmu terapis sangat membantu tugas kepelatihannya. Dengan ilmu yang dimiliki, ia lebih paham bagaimana memperlakukan seorang atlet, terutama mereka yang masih pemula.
Sebelum melatih seorang atlet, Heru lebih dulu â€memperbaiki†otot atlet yang bersangkutan, sekalipun secara kasat mata memang tidak ada masalah. Ia bahkan mewanti-wanti agar atlet baru tidak boleh latihan dulu sebelum diterapi. Heru mengatakan, terapi yang ia lakukan mampu meminimalisir risiko terjadinya cedera. â€Alhamdulillah, selama puluhan tahun saya melatih, tidak ada atlet saya yang cedera,†kata dia. Prestasi terbaik Heru adalah ketika membawa tim gulat Indonesia menyapu bersih 20 emas di SEA Games XIV Jakarta 1987. Pun demikian ketika Heru banting setir ke olahraga judo sejak 1994, ia tetap mampu menelurkan atlet berbakat. Sebut saja Yoga Hayu Bramantyo yang kini menjadi langganan juara even judo tingkat nasional
Menariknya, sebagai seorang terapis, dia tidak pernah menarik biaya. â€Saya tidak pernah menyerah, bagaimanapun sakit itu kan musibah. Kesembuhan juga bukan karena saya saja,†kata pria yang kini menjadi Ketua Harian Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Kota Malang dan Ketua Litbang PJSI Jawa Timur itu. Apalagi, di masa tuanya, materi bukanlah sesuatu yang mesti ia kejar. â€Yang penting saya berkecukupan saja. Tidak perlu berlebihan,†katanya. Sekalipun tidak menarik biaya, terkadang para pasien juga merasa harus membayar Heru dengan sesuatu.
Pernah ada, seorang penjual sayur yang menjadi pasiennya. Kemudian memberinya beras sebagai upah untuk terapi pijat. â€Ketika melihat pasien saya bisa beribadah, seperti salat tanpa ada gangguan penyakit, itu sudah kepuasan yang tidak ternilai,†kata dia. Bahkan, Heru juga tak pelit untuk membagi ilmunya kepada orang lain. Sebagian besar â€murid†untuk ilmu terapi adalah mahasiswanya di UM.
Terkait dengan pandangan miring orang yang menganggap rendah profesi terapis pijat, apalagi Heru sendiri merupakan seorang dosen, dia tidak mempedulikannya. â€Banyak orang menganggap rendah. Seperti tukang tambal ban, orang pasti anggap rendah. Tapi kan banyak orang membutuhkan jasa tukang tambal ban. Yang terjadi saat ini, banyak orang tidak menyadari hal itu,†ujar dia.
Karena itulah, Heru akan terus menekuni profesi ini, terutama ketika ia akan pensiun dari tugasnya sebagai dosen UM. Bahkan ia berencana membuka klinik di daerah Landungsari. Tapi tetap, dia tidak ingin menarget materi sepeser pun dari profesinya sebagai terapis. (*/ziz)
Keywords: dosen, terapi, UM- Berita Lainnya :
- Bintang Bimasakti Pulang Kampung Sebelum Ikuti Seleknas
- Tingkat Kelulusan SMA tak Masuk 10 Besar
- Tak Hanya Manusia, Hewan juga Periksa Kesehatan
- Kredit Perbankan Rp 50 Miliar, salurkan ke 531 UMKM
- TPS Unik Berbahan Daur Ulang
- Pembekalan Siswa Menuju Dunia Kerja
- Menang Quick Count, Anton Pesta Rakyat
















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar