Pupuk Kimia No, Pupuk Organik Yes
Para petani hortikultura di wilayah Batu, kini mulai mengubah cara bertaninya. Jika dulu mengandalkan pupuk kimia, kini mulai banyak yang beralih ke pupuk organik. Mereka yang sudah mencoba ”cara baru” itu, mulai merasakan manfaatnya.
JIKA dihitung, lahan di wilayah Kota Batu bisa mencapai 19.908 hektar. Dari luasan itu, 9.500 hektar lebih dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura. Sedangkan sekitar 2.500 hektar untuk tanaman palawija. Sisanya, yang masih berupa hutan, juga dimanfaatkan oleh warga untuk dijadikan lahan pertanian. Ada yang dikelola Tahura (Taman hutan rakyat) maupun pihak Perhutani. Biasanya, mereka ini memanfaatkan lahan kosong di sela-sela pohon pinus maupun cemara yang masih banyak dijumpai di Kota Batu.

Wali Kota Batu Eddy Rumpoko (kiri) bersama istri, Dewanti Ruparin Diah, melakukan panen daun prei saat launching Batu Go Organic
”Dengan menggunakan pupuk kimia, biaya produksinya juga lebih tinggi. Sehingga, kalau pun kami untung, nilainya tidak besar,” kata Frans Soetrisno, salah seorang petani yang kini mulai beralih cara bertani dengan menggunakan pupuk organik. Tidak hanya para petani wortel yang terus menurun hasil panennya. Petani kubis juga merasakan hal yang sama, akibat rusaknya struktur tanah.
Misalnya, petani kubis di Desa Sumberbrantas Kecamatan Bumiaji, Batu. Mereka pun mulai banyak yang melakukan tindakan ekstrim. Yakni membunuh kubis yang siap panen. Alasannya, biaya untuk panen tidak sebanding dengan harga jual di pasaran saat panen.
Setelah membunuh kubis-kubis yang sebenarnya siap panen itu, selanjutnya kubis-kubis itu dibiarkan mengendap di dalam tanah. Tujuannya, jika membusuk di tanah, bakal menjadi pupuk. Dan diharapkan tanah akan menjadi lebih subur, lalu ditanami lagi.
Cara bertani dengan menggunakan sistem organik ini sekarang mulai banyak dilakukan para petani di Batu. Misalnya yang dilakukan kelompok tani Vigori.
Frans, salah satu anggota dalam kelompok tani itu mengatakan, dari 14,5 hektar lahan miliknya, 1,7 hektar sudah menggunakan sistem organik dari tumbuhan maupun kotoran ternak. Frans mengakui, awalnya memang tidak mudah untuk menggunakan sistem organik.
Tapi, setelah dijalani selama lebih dari enam tahun, hasilnya kini mulai menunjukkan hasil memuaskan. Tanah kembali subur, dan hasil panen berangsur mulai meningkat. ”Biaya produksi juga lebih murah. Dulu, kalau menggunakan pupuk kimia, saya bisa mengeluarkan uang Rp 1 juta. Sekarang, dengan pupuk organik, hanya Rp 300 ribu. Perbandingannya kurang lebih seperti itu,” katanya.
Kini, lahan 1,7 hektar milik Frans itu sudah mendapatkan sertifikat organic dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur. Karena itu Frans bersama kelompok tani Vigori secara bertahap mengembangkan tanaman organik.
Frans mengatakan, saat ini dia sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah pengusaha yang mulai banyak yang tertarik dengan sistem bertani organik. ”Tahun ini, kami akan mentargetkan hasil pertanian kami diekspor. Sayang, lahan organik kami masih terbatas,” katanya.
Soal keterbatasan lahan ini, direspon Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Dia gencar mengkampanyekan cara bertani dengan menggunakan sistem organik. Bahkan, melalui Dinas Kehutanan dan Pertanian Pemkot Batu, Eddy telah mencanangkan program Batu Go Organic.
Dengan gerakan ini, Kota Batu siap menjadi lumbung untuk tanaman organik. Mulai dari buah, sayur maupun tanaman palawija. ”Kebutuhan tanaman organic meningkat. Dan waktunya petani Kota Batu Go Organic. Kembali ke tanaman yang bebas dari bahan kimia,” tandas Eddy kemarin di sela acara launching Batu Go Organic di Dusun Klerek, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo.
Untuk mewujudkan gerakan itu, memang tidak mudah. Tapi, Eddy mengatakan, semua pihak harus optimistis. ”Kami akan libatkan Disperindag Pemkot Batu untuk ikut memikirkan pemasarannya,” tambahnya.
Dengan demikian, para petani tidak lagi kesulitan untuk memasarkan hasil pertaniannya. Yang lebih penting lagi, harga setap stabil dan masih berpihak kepada petani. (bb/kum/radarmalang)
Keywords: Eddy Rumpoko, Junrejo, pertanian, pertanian organik, pupuk, pupuk organik- Berita Lainnya :
- Diknas Janji 2014 Tak Ada Lagi Kelas Rusak
- Ruwetnya Penataan Reklame di Kota Malang
- Fraksi DPRD Telusuri Piutang Pemkot, BNS Juga Nunggak Pajak Rp 1,1 Miliar
- Tunggu Verifikasi, Tunjangan Sertifikasi 1.351 Guru Ditahan
- Pemkot Batu Siap Hadapi Gugatan Th e Rayja
- Telusuri Kantung Air, Pemkot Siapkan Rp 100 Juta
- Dua Siswa SMAN 10 Malang Raih Medali Emas IYIPO di Georgia















Leave your response!