Banjir Mengancam 22 Desa di Kabupaten
Musim hujan di penghujung tahun ini, sangat tidak menguntungkan bagi wilayah Kabupaten Malang. Dinas PU Pengairan Jatim memprediksi delapan kecamatan dari 34 kecamatan di Kabupaten Malang bakal ‘tenggelam’ akibat banjir. ‘’Sulit untuk dicegah. Paling tidak, warga di delapan kecamatan itu harus waspada,’’ kata Mustofa Chamal Basya, Kadinas PU Dinas Pengairan Jatim di kantornya, kemarin.
Mustofa, yang juga Ketua Harian Tim Kondisi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) tidak merinci secara pasti, mana saja delapan kecamatan dimaksudkan. Tetapi, hanya menggambarkan, kecamatan rawan banjir itu rata-rata di lalui sungai besar. ‘’Banjir terjadi karena luapan sungai-sungai itu,’’ ujarnya.
Dari catatan DPU Pengairan menunjukkan, delapan kecamatan itu ‘berisi’ 22 desa, yang di dalamnya terdapat lima sungai besar. ‘’Sekarang kami masih terus mendata tentang apa saja yang diperlukan untuk mengurangi terjadinya banjir tadi. Jika memang diperlukan, bisa saja dibangun waduk,’’ tambahnya.
Dibanding dari 20 daerah, posisi Kabupaten Malang dengan daerah lain rawan banjir di Jatim lainnya tergolong sedang. Pasalnya, di Kabupaten Pasuruan 43 desa di 12 kecamatan dipastikan akan mengalami banjir. Kondisi ini disebabkan melintasnya enam sungai di wilayah ini. Sedangkan di Mojokerto kondisinya lebih runyam lagi. Meski hanya dilewati dua sungai, tetapi 37 desa di 10 kecamatan akan tenggelam karena luapan air sungai. Sebab, di kota ini memang terdapat sungai besar yaitu Brantas dan Bengawan Solo. ‘’Yang paling ringan Banyuwangi. Hanya dua sungai melintas di dua kecamatan dan hanya memiliki dua desa saja,’’ paparnya.
Di sisi lain, Mustofa menyebutkan, pihaknya bekerjasama dengan Pemprov Jatim kini tengah menyelesaikan pembangunan waduk Jipang dengan kapasitas tampung 920 juta m2. ‘’Proyek ini menjadi solusi mengatasi banjir akibat luapan air Bengawan Solo mulai hulu sampai hilir ini,’’ tuturnya.
Menurutnya, jika musin hujan tiba wilayah Jateng, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik selalu terendam banjir. Akibat kondisi ini, kerugian yang ditimbulkan mencapai Rp 5 triliun per tahun.
Karena itu, Pemprov Jatim, Jateng dan pemerintah pusat kini berusaha keras menyelesaikan waduk Jipang, yang biayanya mencapai Rp 17,3 triliun. Mega proyek Jipang ini membutuhkan lahan sedikitnya 13 ribu hektar. ‘’Nantinya 60 persen wilayah Jatim dan 40 persen wilayah Jateng yang terkena banjir Bengawan Solo, bisa dikurangi,’’ tandasnya.
Secara rinci, 20 daerah di Jatim rawan banjir adalah Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. (has/udi/malangpost)
Keywords: banjir- Berita Lainnya :
- Potensi Wisata Pemandian Sumberringin di Tumpang
- 300 Penambang Tak Berijin
- Baru Dilantik, 12 Anggota Dewan Gadaikan SK
- Diusir Pemilik Lahan Sekolahan, 195 siswa SDN Sumberkerto 1 telantar
- Berkat Tukar Guling Pemkab-Perhutani, Aset Tanah Kota Batu Bertambah
- Kembangkan Metode SRI Pada Petani
- Aspal Runway 17 Bolong, Jadwal Penerbangan Terganggu













Ada sebuah teknologi baru yang kita kenal dengan teknologi biopori. Teknologi Biopori ini ditemukan oleh Ir. Kamir R Brata MS Dosen Ilmu Tanah, Air, dan Konservasi Lahan Fakultas Pertanian IPB. Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat aktifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.
Prinsip dari teknologi ini adalah menghindari air hujan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan membiarkannya terserap ke dalam tanah melalui lubang resapan tersebut. Teknologi ini bisa diterapkan di kawasan perumahan yang 100% kedap air, di saluran air, di rumah-rumah yang memiliki lahan terbuka bahkan untuk kawasan persawahan di lahan miring.
Cara pembuatan lubang ini ternyata cukup sederhana. Diawali dengan pembuatan lubang sedalam 80 cm dan diameter 10 cm. Langkah selanjutnya adalah memasukkan sampah lapuk dua hingga tiga kilogram, tergantung jenis sampah, ke dalam lubang tersebut. Sampah-sampah ini kemudian diurai oleh organisma pengurai sehingga terbentuk pori-pori. Dengan cara ini, air hujan yang turun tidak membentuk aliran permukaan, melainkan meresap ke dalam tanah melalui pori-pori. Tak perlu khawatir tanah akan menjadi lunak, karena air yang terserap akan tersimpan menjadi cadangan air di bawah tanah. Begitu pun tidak ada bau yang ditimbulkan dari sampah karena terjadi proses pembusukan secara organik.
Tempatku juga suka banjir tp nga tinggi. thanks.
Leave your response!
Advertorial
Kurs Dollar-Rupiah BI
Harga Emas US$ per-gram
Ads
Blogroll
Berita Teranyar
Tanggapan