Warga Temas Terbelah Sikapi Sumur Museum Satwa
Sedikitnya 140 warga kelurahan Temas terpaksa berhenti bekerja sebagai tenaga kasar (kuli bangunan) di proyek air bawah tanah (ABT) Museum Satwa atau Jatim Park 2 yang ditutup oleh pihak pengelola. Imbasnya, warga yang berada di kelurahan itu terpecah menjadi 2 kubu. Ada kubu yang pro pembangunan dan yang kontra pembangunan ABT.
Kubu yang pro ABT, meminta warga yang diberhentikan sebagai tenaga kasar (kuli bangunan) di museum satwa kembali ditarik bekerja lagi. Sebagai kompensasinya, mereka siap memberikan pasokan air himpunan pengguna air minum (HIPAM) wargaTemas untuk kebutuhan air di museum.
Ketua RW 10 Kelurahan Temas, M Rochman mengatakan, polemik yang terjadi atas proyek ABT sebenarnya harus dilihat lebih detail.
Jangan hanya melihat warga yang menolak pembangunan, tetapi juga melihat ada warga yang setuju. Salah satu pertimbangan utamanya adalah proyek Museum Satwa dengan ABTnya juga berimbas pada perekonomian warga sekitar.
“Tak semua warga menolak, ada juga yang menerima karena pertimbangan ekonomi. Kalau warga Temas akhirnya tidak bekerja gara-gara polemik ini, terus anak dan istrinya mau dikasih makan apa” ujar Rochman, Minggu (8/11).
Hal ini dibuktikan dengan kesediaan warga untuk menyisihkan kelebihan air dari HIPAM warga Temas untuk kebutuhan air di Museum Satwa. Toh air itu nantinya diperuntukkan menyirami pohon yang ada di komplek museum. Sehingga pohon-pohon itu diharapkan kelak bisa menjadi tempat cadangan penyimpanan air di wilayah Temas.
Ketua HIPAM Tirtomulyo, RW 10 Kelurahan Temas, Asmadi mengatakan pihaknya juga siap memberikan pasokan air kepada Museum Satwa sesuai kemampuan pengelola HIPAM. Maksudnya, kebutuhan air warga Temas akan tetap menjadi prioritas utama, bila masih ada sisa maka akan diberikan kepada museum asal tenaga kerja yang diberhentikan kembali dipekerjakan.
“Kebutuhan air warga tetap menjadi prioritas kita, kalau ada sisa baru kita berikan kepada museum untuk kebutuhan menyirami pohon. Yang penting masyarakat yang sebelumnya diberhentikan kembali dipekerjakan,” harap Asmadi.
HIPAM Tirtomulyo per harinya memiliki kapasitas 27 kubik air yang dipergunakan untuk sedikitnya 300 kepala keluarga (KK) di RW 10 di kelurahan Temas. Sisa air per hari setelah didistribusikan kepada warga ini lah yang akan diberikan kepada Museum Satwa.
Menanggapai keinginan warga untuk memberikan air kepada museum satwa dengan kompensasi mempekerjakan warga yang sebelumnya diberhentikan, juru bicara Museum Satwa, Sudaryono mengatakan siap melaksanakannya.
“Sebenarnya pemberian air dari warga itu jauh dari total kebutuhan kita, tapi niat baik mereka siap kita terima. Kami juga siap menarik warga yang sebelumnya diberhentikan dari pekerjaannya untuk bekerja lagi di sini,” ujarnya.
Sudaryono menambahkan, pihak Museum Satwa sendiri juga berupaya memrioritaskan warga sekitar untuk bekerja sesuai dengan kemampuannya. Dan faktor perekonomian itu seharusnya menjadi pertimbangan utama warga sekitar atas keberadaan museum.
(zar/surabayapost)
- Berita Lainnya :
- Dukung FFI, PHRI Diskon Tarif Hotel 50%
- Baru Dilantik, 12 Anggota Dewan Gadaikan SK
- Dispartabud Pastikan FFI di Batu Digelar 6 Desember
- Realisasi PJU 2009 Baru Bisa 10 Desa
- Tingkatkan Kualitas Lingkungan dengan Tanaman Tegakan
- Berkat Tukar Guling Pemkab-Perhutani, Aset Tanah Kota Batu Bertambah
- Dewan Rekomendasikan Penutupan Permanen Sumur Bor Museum Satwa

















semua hal itu ada pro dan kontranya…
Leave your response!