Home » Kota Malang

Supiturang Siap Jalankan Lab Gas Metan

6 Oktober 2009 2 Comments

Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang sudah siap untuk menjadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supiturang Kota Malang, sebagai ladang gas metan yang akan dijadikan industri gas metan hasil kerjasama Pemkot Malang dengan negeri kincir angin, Belanda.

Kepala DKP Kota Malang, Wasto mengatakan, TPA Supiturang sangat potensial untuk diambil gas metannya. Sebagian besar lahan TPA sudah ditutup dengan tanah, sehingga gas metan ada yang di bawah tumpukan sampah dapat langsung dimanfaatkan.

“Kapan pun pelaksanaan pembangunan industri gas metan di TPA Supiturang dilaksanakan, kami sudah siap,” kata Wasto kepada Malang Post, kemarin.

Sebelum dibangun industri gas metan yang memanfaatkan tumpukan sampah, di TPA Supiturang sudah dibangun laboratorium gas metan yang menangkap gas metan dalam skala kecil. Laboratorium itu hasil kerjasama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Belanda. Lab itu berasal dari dana hibah BGP engineering Belanda.

Bedanya, gas metan yang ditangkap melalui alat penangkap gas metan (Flaring) dibakar dan menghasilkan C02. Sehingga dapat mencegah kerusakan alam dan pemanasan global. Pasalnya, gas metan merupakan salah satu gas berbahaya yang memiliki daya rusak 21 kali lipat ketimbang C02. Gas ini juga merusak lapisan ozon. Bedanya, industri gas metan yang akan dibangun nantinya akan disalurkan menjadi energi alternatif untuk kebutuhan rumah tangga, seperti elpiji dan kebutuhan listrik.
“Lab gas metan yang ada skalanya masih kecil dan hanya untuk kebutuhan penelitian saja, tapi itu sudah dapat dirasakan manfaatnya,” ungkap mantan Kabag Hukum Pemkot Malang itu.

Seperti diketahui, dari hasil kunjungan wali kota ke Belanda beberapa waktu lalu, Pemkot Malang bersama Pemerintah Belanda akan menandatangani MoU kerjasama pemanfaatan gas metan di TPA Supiturang untuk menjadi industri.

Nantinya, pemerintah Belanda akan menunjuk perusahaan swasta yang akan membangun industri gas metan di TPA Supiturang. Awalnya, bahkan pihak Belanda ingin sekaligus mengelola TPA. Karena pengelolaan sampah di Belanda sudah bagus. TPA tidak lagi terlihat sampahnya, TPA disulap menjadi lapangan golf. Pengangkutan sampah pun menggunakan truk tertutup.

“Kalau sampai mengelola TPA, artinya akan menghilangkan aset milik Pemkot Malang. Hal itu sulit dipenuhi. Karena itu, kami ada beberapa strategi untuk kerjasama pengelolaan gas metan itu nantinya, seperti pembagian prosentase hasil,” terang Wali Kota Malang, Peni Suparto. (aim/malangpost)

Keywords: , , ,

2 Comments »

  • musik.um.ac.id said:

    seharusnya dari dulu kita bisa memanfaatkan sampah ini, tapi tidak apa2 yg penting ini bisa terlaksana.

  • fajarbxpx said:

    semakin cepat semakin baik

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.