Turki sedang membentuk tim pengkaji hadits-hadits
Umat Islam yang susah khusyuk dalam salat tidak perlu putus asa. Karena, memang tidak mudah bisa khusyuk dalam salat itu. Mantan ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafi’i Ma’arif, dalam ceramah pengajian Itikaf Ramadan di UMM, Sabtu (12/9) malam lalu mengatakan, wajar jika seseorang itu susah khusyuk dalam salat. Karena yang dipikirkan terlalu banyak.
Tetapi, bukan berarti jika tidak khusyuk kemudian tidak salat. Umat Islam harus tetap salat seperti apapun kondisinya. “Saya pernah bertanya kepada Hamka soal khusyuk ini. Menurut beliau, dalam sepuluh salat satu kali khusyuk saja sudah sangat bagus,” terang dia menirukan ucapan Hamka.

(foto:matanews.com)
Lalu pria yang akrab disapa Buya Syafi,i ini memberikan tips yang mungkin bisa dijadikan sarana menuju salat yang khusyuk. Salah satunya memahami arti bacaan-bacaan salat. Lalu mencoba melupakan perkara-perkara duniawi yang membelanggu. Meskipun, hal ini juga tidak bisa menjadi jaminan karena kekhusyukan itu adanya dalam hati.
Selain soal salat khusyuk, dalam acara yang digelar di masjid Ar Fachruddin UMM ini, Buya juga membahas soal gender. Karena, saat ini masih banyak umat Islam yang kurang menghargai wanita dengan dalih hadits yang kurang menguntungkan wanita. Untuk itu, dia mengajak para ulama untuk mengkaji kembali hadits-hadits yang bias gender. Misalnya soal hadits yang melarang wanita bepergian tanpa didampingi suami. Saat ini dinilai sudah tidak seperti itu. Karena situasinya sudah aman.
“Kalau bertentangan dengan Alquran dan akal sehat harus kita tolak,” ujar dia.
Menurut dia, saat ini pemerintah Turki juga sedang membentuk tim pengkaji hadits-hadits. Hadits yang dinilai tidak sesuai dengan Alquran dan akal sehat akan disingkirkan. Kabarnya, kata Syafi’i, akan ada ribuan hadits “Muhammadiyah nanti harus punya bukunya,” kata Syafii.
Apa Muhammadiyah juga disarankan untuk melakukan yang serupa Turki ? Untuk ini, Buya mengakui jika SDM di Muhammadiyah belum mampu. Tetapi upaya ke sana perlu disiapkan.
Sementara, ketua Gema Ramadhan in Campus Akhsanul In’am Ph D, mengatakan, selain pangkajian Itikaf, Ramadhan in Campus juga mengadakan bakti sosial di Donomulyo Kabupaten Malang, madrasah ramadan serta pelayanan konsultasi zakat. “Khusus untuk pengkajian itikaf ini diikuti oleh para dosen dan karyawan,” ujar dia. (lid/abm/radarmalang)
Keywords: islam, muhammadiyah, Ramadhan, Syafi'i Ma'arif, UMM- Berita Lainnya :
- Pasar Batu Akik di Jalan Majapahit Tetap Eksis Puluhan Tahun
- Lima Reklame Besar Dibongkar Satpol PP
- Tingkat Persaingan CPNS Teknis 1:41, Guru 1:15
- KPPU Sinyalir Malang Berpotensi Pelanggaran Tender
- Kisah 'Kiamat' 2012 Difilmkan, Raup Penghasilan Rp 2 Triliun
- Penghuni Wisma Tumapel Resah, Rektor Buka Komunikasi
- Developmentalisme itu Bohong Besar

















Leave your response!