Home » Pendidikan

Mutasi Guru Prioritaskan yang Senior

10 September 2009 No Comment

Rencana adanya pemerataan kualitas sekolah, tidak membuat Dinas Pendidikan (diknas) Kota Malang serta merta melakukan mutasi guru. Mutasi akan dilakukan dengan melihat kebutuhan guru di suatu sekolah. “Tidak mungkin diknas memutasi guru yang kualitasnya rendah ke sekolah RSBI,” ujar Sugiharto, Kabid Dikmen Diknas Kota Malang kemarin.

Untuk itu, sekolah-sekolah RSBI tidak perlu khawatir akan kedatangan guru yang kurang berkualitas. Menurut dia, perpindahan ini akan melihat kualifikasi guru dan akan menempatkan sesuai dengan kebutuhan dan keahlian guru itu. Jadi, mutasi nanti tidak dipukul rata, bahwa di semua sekolah harus merata antara guru yang pandai dengan guru yang kurang pandai. Karena, jika hal semacam itu yang dilakukan, maka bisa menimbulkan masalah baru.

Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang Drs Sugiharto (avi/malangpost)

Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang Drs Sugiharto (avi/malangpost)

Dengan sistem tersebut, menurut Sugiharto, yang berpeluang akan digeser adalah guru-guru senior di sekolah favorit yang kelebihan tenaga guru. Diknas akan memindah mereka ke sekolah yang dinilai masih membutuhkan sentuhan guru-guru senior itu. Dengan demikian, diharapkan sekolah yang belum favorit itu bisa terangkat menjadi lebih baik kualitasnya.

Karena selama ini diknas masih melihat kesenjangan kualitas sekolah di Kota Malang. Ada yang sangat baik ada yang rendah. Idealnya, kualitasnya bisa diseimbangkan.

Bagaimana jika guru yang senior itu tidak nyaman di tempat yang baru? Sugiharto mengatakan hal semacam ini tidak boleh terjadi. Para guru harus siap ditempatkan dimana pun dan mengajar siswa model apapun, baik yang pandai atau yang kurang pandai. Tidak ada alasan bagi PNS untuk menolak ditugaskan di suatu tempat. “Toh hanya di dalam Kota Malang, tidak seperti dulu, kalau dipindah itu hingga di luar pulau, sekarang ini lebih enak,” ujar Sugiharto yang mengaku pernah ditugaskan di Timor-Timur (kini Timor Leste) ini.

Sugiharto jua mengatakan, jika seorang guru senior mengajar di sekolah yang input siswanya anak-anak pandai, maka wajar saja bisa lulusan di sekolah itu baik. Tetapi jika dengan input yang sedang-sedang tetapi lulusannya baik, sesungguhnya itulah yang dinilai lebih berhasil.

Diknas berharap, sekolah-sekolah yang inputnya biasa bisa menghasilkan lulusan yang baik. Terutama untuk sekolah SMA, karena proyeksi lulusan SMA adalah kuliah, sehingga mereka harus baik akademiknya.

Seperti diberitakan, diknas segera menerapkan kebijakan pemetaan guru. Tujuannya adalah untuk memeratakan kualitas sekolah dengan memindah beberapa guru yang bermutu. Artinya guru-guru yang berkualitas tidak sampai menumpuk dalam satu sekolah. Agar tidak terjadi kesenjangan kualitas sekolah, guru yang pandai disebar ke beberapa sekolah yang mutunya kurang bagus. Atas kebijakan tersebut, pengamat pendidikan Kamilun Muhtadin kurang sependapat. Kamilun lebih setuju ada semacam pelatihan bagi guru yang kurang mampu, sehingga tidak sampai ada mutasi yang justru menambah masalah baru. (lid/abm/radarmalang)

Keywords: , , , ,

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.