Kurang Pasokan, Apel Tembus 20 ribu/Kg
Harga apel produksi Kota Batu menempati posisi tertinggi sepanjang 10 tahun terakhir. Di pertengahan kemarau ini, harga buah khas Batu itu telah menembus Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram di tingkat konsumen. Sedangkan harga di tingkat petani terkerek di angka Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogramnya.
Dalam kondisi normal, harga apel Batu Rp 6.000 hingga Rp 8.000 di tingkat konsumen. Sementara di tingkat petani hanya Rp 4.000 per kilogramnya. Harga apel menembus angka yang sama terjadi saat krisis moneter 1998 silam. Saat itu harga Rp 20 ribu per kilogram bertahan lebih dari tiga bulan. “Harga saat ini menyamai krisis moneter sepuluh tahun lalu. Kami sebagai petani cukup gembira dengan kenaikan harga panenan periode ini,” ungkap Muhammad Toha, Sekretaris gabungan kelompok tani (Gapoktan) apel Kota Batu
Toha memaparkan, kenaikan harga terjadi di semua varietas apel yang ditanam oleh petani. Mulai apel Rome Beauty (apel Batu), apel Manalagi, dan apel Ana. Rata-rata ketiganya punya harga yang sama. Ada perbedaan tetapi tidak banyak. Perbedaan itu tergantung dari sedikit atau banyak barang yang dipanen saat itu. “Secara umum, harganya sama. Naik semua,” kata Toha.
Kenaikan harga secara drastis itu, lanjutnya, telah terjadi dalam dua minggu belakangan. Angka terus naik seiring dengan terus meningkatnya permintaan apel dari pasaran. “Tiap hari naik. Ya kami sebagai petani senang saja,” katanya.
Apa penyebab tren kenaikan harga apel?Toha memperkirakan penyebabnya karena peningkatan permintaan dan sedikitnya pasokan. Sebagai petani apel, dia melihat saat ini adalah bulan-bulan sepi panenan. Akibatnya di tingkat petani jarang ada yang punya apel siap jual. Apel masih kecil dan belum bisa dipanen.
Dalam kondisi sepi pasokan itu, permintaan apel terus melonjak. Salah satunya karena meningkatnya konsumsi menjelang Lebaran. Selain itu, di pasar juga tidak terlalu banjir buah. Sebab buah lainnya, misalnya mangga, masih banyak yang belum panen. “Apalagi ini menjelang Lebaran, banyak yang membeli dalam jumlah banyak,” katanya.
Harga, lanjut Toha, diperkirakan akan turun pada Oktober nanti. Selain karena permintaan sudah turun, juga karena banyak petani mulai panen. “Kami prediksi Oktober stabil,” katanya. (yos/abm/radarmalang)
Keywords: apel, Gapoktan, kemarau, pertanian















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar