Home » Kota Batu

Energi Alternatif: Murah dan Bersahabat dengan Lingkungan

22 Agustus 2009 No Comment

KAYU bakar, minyak tanah dan gas yang saat ini masih banyak digunakan untuk memasak di dapur bakal ditinggalkan ibu-ibu rumah tangga. Sebab selain tidak bersahabat dengan pelestarian lingkungan, juga merepotkan.

Di kota wisata Batu, sosialisasi tentang penggunaan energi alternatif sebagai pengganti kayu bakar, minyak tanah dan gas mulai dilakukan. Kemarin giliran 20 ibu rumah tangga dari Desa Punten dan Tulungrejo yang diperkenalkan dengan energi alternatif untuk dapur. Dalam pelatihan di Hotel Filadelfia yang digelar Environmental Services Program USAID itu diikuti juga oleh 10 ibu rumah tangga dari Desa Kemiri, Mojokerto.

Ibu-ibu Dikenalkan Energi Biogas

Ibu-ibu Dikenalkan Energi Biogas

Koordinator Program Forum Kajian Air dan Lingkungan Menuju Selaras Alam (Fokal Mesra), M Irwan saat memaparkan energi alternatif langsung menarik perhatian peserta pelatihan itu.

Dipaparkan, energi alternatif mudah didapat dari lingkungan rumah. Salah satu contohnya, kotoran sapi yang bisa diolah menjadi energi biogas. Dengan menggunakan instalasi tertentu dan kotoran sapi yang diolah sederhana bisa menyala untuk memasak.

Instalasi untuk biogas bisa dibuat sendiri. Kalau pun membeli, bisa saja memilih harga yang terjangkau. Ada instalasi yang seharga Rp 1 juta. Tapi ada juga yang mencapai Rp 9 juta sampai Rp 45 juta.

Banyak keuntungan memasak menggunakan biogas. Selain harganya murah dan tak sulit mendapat bahan dasarnya yang berasal dari kotoran sapi, kambing hingga kelinci itu, biogas lebih bersahabat dengan lingkungan. Lebih dari itu, nyala apinya juga lebih stabil dan cepat membuat panas masakan.

Satu rumah tangga dengan empat anggota keluarga hanya membutuhkan 3 Kg bahan kotoran sapi untuk dijadikan bahan biogas. Sementara rata-rata seekor sapi menghasilkan kotoran sebanyak 20 Kg.
Menggunakan biogas berbahan kotoran sapi tentu jauh lebih untung dan bersahabat dengan lingkungan bila dibandingkan kayu bakar atau minyak tanah dan gas. Jika dibandingkan, kata Irwan, kayu bakar menghasilkan emisi 15 kali lebih tinggi dari standar WHO.

“Menurut WHO, karbonmonoksida kayu bakar sebesar 150 miligram per meter kubik. Padahal standar WHO, karbonmonoksida hanya cuma 10 miligram per meter kubik,” katanya. Sudah begitu, lebih lama memasak menggunakan kayu bakar.

Bila tidak lagi menggunakan kayu bakar untuk memasak, maka aktifitas penebangan pohon pun berkurang. Atau jika dibandingkan menggunakan minyak tanah atau elpiji, praktis tidak lagi merepotkan. Misalnya masalah kelangkaan minyak tanah dan elpiji atau harganya yang tak terjangkau tak lagi menjadi masalah. (vandri van battu/nug/malangpost)

Keywords: , , , , ,

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.