Wayang Topeng, yang Tersisa dari Seni Tradisi Masyarakat Tengger
TERIK matahari di tengah hari seakan tak mampu menembus tanah berbukit-bukit di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut di Desa Wonokerso, Kec. Sumber, Kab. Probolinggo. Hawa sejuk sekitar 18 derajat Celcius yang dibungkus kabut, yang mulai turun sejak matahari sepenggalah, menjadikan waktu seakan berhenti di desa terpencil, di perbatasan Probolinggo-Lumajang itu.
Akhir pekan lalu, selama tiga hari, Jumat-Minggu (14-16/8), ribuan warga Tengger menggelar Festival Tengger di Balai Desa Wonokerso. Mereka pun mendatangi balai desa berukuran megah, 50 x 25 meter, yang letaknya sekitar 50 meter lebih tinggi dibandingkan permukiman warga di bawahnya.
Hari itu desa berpenduduk sekitar 2.000 jiwa itu larut dalam Festival Tengger. Upacara adat dan beksan (tarian) ala Tengger menjadi sajian utama festival yang kali pertama digelar.
Diawali dengan pembacaan mantera yang dipandu Dukun Pandhita Tengger, Mbah Mudjono di Pura. Bersamaan dengan lenyapnya asap kemenyan yang naik ke langit, ratusan warga kemudian beralih ke Balai Desa Wonokerso.
Pesta seni warga Tengger itu dibuka dengan Tari Gunungsari, yang diperagakan seorang penari bertopeng. Penari tunggal wayang topeng itu gerakannya lincah, mirip penari Remo.
Tari Gunungsari sendiri melambangkan rasa syukur Wong Tengger atas berkah (sari) yang diberikan Hyang Widhi Wasa melalui gunung, tempat mereka berocok tanam sayur-mayur.
Begitu turun dari panggung, sang penari membuka topengnya. Tampak seraut wajah tua di balik topeng kayu, berwajah ksatria itu. “Saya sudah berusia 65 tahun, menari wayang topeng sejak masih bocah,” ujar Soepoyo, sang penari primadona.
Wayang topeng termasuk salah satu seni budaya yang masih bertahan di lereng timur pegunungan Bromo itu. “Warga di sini yang mayoritas beragama Hindu dan sebagian Islam, semua menyukai wayang topeng,” ujar Kades Wonokerso, Sunaryo.
Terbukti dua kelompok wayang topeng, yang dipimpin Adi Sutjipto dan Sutomo masih tetap bertahan. “Wayang topeng sudah ada sejak lama, turun-temurun di Wonokerso,” ujar Soepoyo.
Di antara seniman Tengger, bisa dikatakan Soepoyo merupakan penari tertua yang masih aktif menari. Sejak kecil, dia gemar menyaksikan pementasan wayang topeng.
Soepoyo muda yang berusia 9 tahun kemudian bergabung dalam kelompok seni Sri Margo Rukun. “Yang pertama mengajari saya menari itu Pak Atok, orangnya sudah meninggal,” ujarnya.
Soepoyo mengaku, kedua orangtuanya bukanlah penari. Namun karena seni wayang topeng sudah merasuki jiwanya, ia mengaku akan terus menari sampai kematian datang menjemputnya.
Diakui tenaganya tidak sekuat dulu lagi. Ia pun tampak menggos-menggos usai menari. “Gerakan wayang topeng itu lincah dan bertenaga, sementara tulang saya sudah mulai keropos, otot-otot sudah mulai mengendor,” ujarnya.
Melalui seni tari wayang topeng, Soepoyo pun mempunyai “jam terbang” cukup tinggi. Sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Malang, Banyuwangi, Jember, hingga Surabaya sudah dijelajahinya. “Saya pun pernah tampil menari di hadapan Pak Gubernur Jatim,” ujarnya.
Meski jam terbangnya cukup tinggi, jangan membayangkan Soepoyo kaya dari berkesenian. “Setiap kali menari paling-paling hanya diberi uang transportasi Rp 100 ribu, terkadang hanya Rp 50 ribu,” ujarnya.
Untuk menyambung hidup, bapak 6 anak itu setiap hari bertani, menanam sayur-mayur seperti kubis, wortel, dan bawang prei di lereng gunung. Dan di usianya yang sudah senja itu, Soepoyo mengaku prihatin karena ke-6 anaknya tidak satu pun yang mengikuti jejaknya sebagai penari wayang topeng. “Anak saya tidak satu pun jadi penari wayang topeng, syukurlah saya masih bisa mengajari remaja lainnya menari,” ujar Soepoyo.
IKHSAN MAHMUDI
dimuat di SurabayaPost
- Berita Lainnya :
- Banjir Mengancam 22 Desa di Kabupaten
- Baru Dilantik, 12 Anggota Dewan Gadaikan SK
- Kembangkan Metode SRI Pada Petani
- Setelah Menunggu 24 Tahun, Menhut Setujui Permohonan Tukar Guling Pemkab
- 23 SMA di Kota Malang Belum Berstandar Nasional
- Dinas Pendidikan Sangsikan Mapel Agama Masuk dalam UN 2010
- Pemprov Alokasikan Kredit Mikro Rp 196 Triliun

















Leave your response!