Venom Band: Main Musik dari Hati
Genre musik popular selalu berganti setiap tahun. Salah satu kunci band yang ingin cepat terkenal adalah dengan memainkan musik sesuai dengan mainstream. Saat ini aliran pop melayu merajai setiap chart musik.
Popularitas pada akhirnya akan mencapai titik jenuh, band-band yang sekedar menikuti trend tanpa memiliki idealisme tentu akan dengan sendirinya meredup, istilah populernya berlaku hokum alam, yang lemah akan kalah.
Prisnsip itulah yang kemudian dipegang teguh oleh Venom Band. Memilih aliran musik rock, band yang digawangi Dimas (vocal), Rully (gitar), Rendy (bass), Brilli ( drum) dan Meru (keyboard) mencoba unjuk gigi ditengah kuatnya mainstream pop melayu.
Meru, si keyboardist ini mengatakan, pada dasarnya Venom Band memainkan musik dari hati. Dengan begitu, alunan nada yang keluar setiap kali mereka tampil akan membeikan kepuasan tidak hanya bagi penonton tetapi juga bagi diri mereka sendiri.
Musik rock memang bukan musik popular, bahkan kejayaannya makin meredup pada era sekarang. Namun banyak keiistimewaan rock yang membuat personel Venom menikmati alunan musik yang dianggap keras ini.
“Saat memainkan musik rock, rasanya semua beban jadi ringan. Stress pun bisa hilang,†tegas Brilli, si penggebuk drum.
Bukti keseriusan band ini ditunjukkan melalui beberapa lagu yang telah mereka ciptakan. Total ada 4 lagu yang lahir dari band yang terbentuk tahun 2006 ini. 3 lagu telah sempurna dan sering dimainkan dalam even yang mereka ikuti, sedang satu lagu lagi masih dalam proses penciptaan.
“Dua dari 3 lagu itu murni ciptaan Venom. Sedangkan yang satu lagi ada partisipasi dari salah satu teman,†ungkap Meru.
Lagu hasil ciptaan Venom Band sendiri adalah Dimana Dirimu dan pergi dariku. Bisa ditebak, tema dari dua lagu tersebut adalah cerita percintaan yang sedih. “Ide lagu memang berasal dari pengalaman pribadi personel yang waktu itu sedang patah hati,†ungkap Meru lagi.
Dream Theatre dan Drive menjadi band yang berhasil mempengaruhi karakter bermusik Venom Band. Meru mengatakan, dua band tersebut mampu menampilkan suguhan musik yang benar-benar dari hati.
“Lagu-lagunya sangat pas dengan kami, feel-nya dapet,†tegas pemilik nama lengkap Ahmad Annashrullah Girimeru itu.
Untuk mengasah kemampuan dan meninkatkan jam terbang, band yang sebelumnya bernama Venom Fang ini rajin mengikuti setiap even musik. Di sisi lain, even musik juga memberikan manfaat lain pada mereka.“Kita mempelajari karakter penonton karena ditiap kota berbeda. Nantinya akan digunakan sebagai strategi pemasaran jika kami tampil di kota tersebut,†ucapnya.
Awalnya Venom Fang
Venom Band terbentuk pada 14 Februari 2006. Namun bukan berarti Venom band identik dengan karakter yang menye-menye alias melankolis. Dipilihnya hari itu berfungsi sebagai pengingat bagi personelnya.
Head master band ini ada tiga orang. Rully (gitar), Arga (Drum), dan Anton (gitar). Ketiganya kemudian sepakat membentuk Venom Fang pada 2006. Namun sebuah band tidak mungkin akan berjalan tanpa kehadiran bassist dan vokalis, maka masuklah Dimas (vocal) dan Rendy (bass). Penambahan keyboardist dilakukan terakhir kali.
Ketidakcocokan mewarnai awal perjalanan karir band yang bermarkas di jalan Pelabuhan Ketapang itu. Di tahun yang sama, Anton, pentolan band pemegang gitas cabut dari Venom.
“Waktu itu dia terlalu sibuk. Banyak kegiatan, salah satunya adalah kerjaan sehingga jarang berkumpul dengan kami,†kenang Meru.
Masih di tahun yang sama Arga, yang berposisi sebagai penggebug drum pun lepas dari teman-temannya. Ketidaksepahaman dengan teman menjadi pemicu utama. Selain itu Arga lebih memilih untuk melanjutkan kuliah ketimbang serius mendalami musik.
Ketimpangan band pun terjadi. Hengkangnya Anton tidak terlalu merisaukan sebab posisinya masih bisa diisi Rully, namun kekosongan drummer pasca perginya Arga cukup merepotkan Venom. Alhasil, additional player pun dipilih saat mereka tampil.
“Drummernya ganti-ganti. Kita minta bantuan dari teman-teman band yang lain,†tambah Meru.
Setelah beberapa bulan muncullan nama Ari alias Brilli. Penggebuk drum yang terdaftar sebaha mahasiswa di salah satu kampus di Malang itu dinilai memiliki karakter yang cocok dengan Venom band.
“Kami (personel Venom) langsung merasa cocok dengan dia (Brilli). Orangnya mau diajak kerja keras. Berjuang dari titik nol,†tuturnya.
Berkaca dari Anton dan Arga, kelima personel Venom Band tidak mau kejadian yang sama terulang. Untuk itu, keharmonisan personel pun wajib dibina melalui Training Center (TC) yang mereka agendakan sendiri.
“Kami selalu meluangkan untuk pergi bersama. Mencari lokasi yang jauh dari rumah masing-masing. Tidak ada orang lain selain kami berlima,†cerita dia.
Di tempat tersebut, personel Venom saling berbagi cerita, dengan kata lain curhat. Kekompakan, saling memahami, dan kebutuhan satu sama lain di tingkatkan dalam TC tersebut.
“Perasaan senasib sepenanggungan karena jauh dari rumah, dari situlah kami mencoba menyatukan hati dan pikiran kami khususnya dalam bermusik,†pungkasnya.
From ZERO to HERO
Pada awal terbentuk, Venom bukanlah band dengan talenta personel yang memikat. Mereka berangkat dari kemampuan standarts dan modal yang cekak. Kenyamanan hidup mereka tinggalkan demi totalitas bermusik.
“Kami tidak minta orang tua, tiap even selalu kami mengusahakan dana sendiri,†tutur Meru saat ditemui usai mengikuti Cool Break Malang Post Band Festival.
Tidak hanya mandiri dalam mencari dana bermusik, Meru dan Brilli pun rela meninggalkan bangku kuliah dengan keyakinan dunia musik menjadi jalan hidup mereka. “Lebih baik keluar sekarang dari pada membebani orang tua,†ucap Brilli.
Pasca melepaskan diri dari subsidi orang tua, Venom band melakukan berbagai cara untuk tetap bisa latihan rutin dua kali seminggu di studio musik yang biasa mereka sewa. Mengamen pun dijabani saat benar-benar tidak ada dana latihan.
“Ngamen di daerah Pakisaji, biasanya sekali ngamen dapet Rp 40 ribu buat sewa studio 2 jam,†ungkap Meru.
Kini seiring dengan meningkatnya prestasi mereka, Venom tidak lagi melakukan aktifitas tersebut. Hadiah-hadiah hasil menjuarai berbagai even musik dikumpulkan untuk membiayai band.
Alat-alat musik telah dimiliki, rencana jangka pendek yang akan segera direalisasikan pemenang pertama Cool Break Malang Post Band Festival ini adalah memiliki studio musik yang akan digunakan sebagai tempat latihan rutin.
“Tempatnya belum dapat yang pas, jadi sementara ini masih pakai salah satu ruangan di rumah saya yang kebetulan tidak di pakai,†imbuh dia.(fia/han/malangpost)
Keywords: band, rock- Berita Lainnya :
- Konser Afgan Bikin Histeris Penonton
- Judika Dipeluk dan Dicium Penonton
- Hip-Hop Bahasa Walikan, Supaya Terasa Nyeleneh
- Maestro Jazz Tampil Total di Tengah Ribuan Penonton Jazz Gunung 2012
- Gwen Priscilla - Duo Mahadewi, Sudah Mandiri sejak SMA
- Grup Rock Elpamas Ikut Ngamen di MTD
- Dodik Iskandar, Musikus Malang Kenalkan Alat Musik Baru Bernama Gethuk
















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar