Wisata 1000 Bunga di Desa Sidomulyo
INGIN merasakan agrowisata bernuansa simbol cinta? Datanglah ke Sidomulyo di Kota Batu. Desa Sidomulyo identik dengan Desa Bunga. Ada lebih dari 1000 jenis bunga dibudidayakan di tiga dusun yang ada di desa itu. Berwisata di desa yang sekitar 50 persen tumbuh bunga mawar ini, hampir seluruhnya serba gratis, kecuali Anda membeli bunga.
Itu pun dengan harga murah meriah. Letaknya tak jauh dari jantung Kota Batu. Hanya sekitar 8 km dari pusat kota. Untuk menjangkaunya juga tak sulit. Memasuki Desa Sidomulyo, identitas bunga sudah menyambut pengunjung.
Di tepi kiri dan kanan jalan, penuh tanaman bunga. Sampai ke relung desa, tepatnya di tiga dusun, Tinjumoyo, Tonggolari dan Sukorembug, bunga tumbuh subur. Jangankan di lahan pertanian, di pekarangan rumah pun bunga tumbuh subur hingga membentuk taman alami.
Sejak zaman kolonial Belanda, Sidomulyo sudah terkenal oleh aneka bunga, terutama mawar. Ini karena kesejukannya. Secara geografis terletak diketinggian 1100 meter diatas permukaan laut dengan suhu sekitar 18 sampai 23 derajat celcius. Berwisata bunga di Sidomulyo memang lengkap. Mulai dari cara penanaman bunga, penyiraman hingga bunga mekar ada di desa yang dipimpin Djatmiko itu. Bahkan transaksi penjualan bunga pun menjadi pemandangan menarik.
Tidak hanya mata dimanjakan oleh aneka warna bunga-bunga segar, lengkap dengan aroma wanginya saja, namun deretan Gunung Banyak hingga Gunung Panderman menjadi panorama yang menyertai wisatawan saat berwisata ke Sidomulyo. Sudah mata dan suasana hati dimanja oleh indahnya hamparan pertanian bunga, kepala tak perlu pusing karena ongkos. Wisata ke Desa Bunga ini hampir tak mengeluarkan ongkos kecuali ingin membeli bunga.
Cukup jalan kaki sepanjang 3 km dari Jalan Bukit Berbunga menuju lahan-lahan pertanian bunga, jiwa sudah terhibur. Hitung-hitung, sekalian olah raga jalan sehat di tengah kebun bunga.
Fasilitas gratis yang tersedia diantaranya guide. Darmanto, Sumardi dan Naim adalah tiga guide gratis. Ketiga petani bunga itu sangat hafal jenis bunga dan lahan mana saja yang ditanami bunga sesuai jenis yang ingin dikunjungi. “Di sini tidak ada biaya, kami tidak pasang tarif,” kata Darmanto.
Fasilitas gratis lain yang tersedia yakni etalase bunga. Untuk mengetahui jenis bunga apa saja yang ada di Sidomoulyo, cukup datang ke Sub Terminal Agribisnis (STA) yang ada di desa itu. Di STA, sudah tersedia contoh aneka jenis bunga yang ditanami petani bunga. Capek keliling dusun melihat bunga, bisa istirahat di Pasar Bunga yang berhadapan dengan STA. Di pasar itu, ada 13 stan yang menyediakan bunga sebagai etalase raksasa dari kebun bunga. “Kalau mau beli dalam jumlah sedikit, bisa di pasar. Tapi kalau dalam jumlah yang banyak, bisa diambil ke lahan pertanian yang ada di belakang,” terang Darmanto yang juga ketua seksi pemasaran gabungan kelompok tani (Gapoktan) Bunga Kota Batu.
Harga bunga di tempat ini sangat murah. Satu tanaman bunga dalam polybag, seharga sekitar Rp 200 sampai Rp 1000. Harga ditentukan dari jenis bunga. Deretan jenis bunga yang dibudidayakan petani diantaranya, mawar, agape, bambu air, lavender, wali songo, ceplo piring, cemara, beringin putih, sakura, anggrek, nusa indah. Bahkan bonsai pun tersedia di rumah-rumah penduduk.
Mawar Candy Lebih Populer
MAWAR adalah tanaman bunga yang paling banyak dibudidayakan di Desa Wisata Sidomulyo. Hampir 50 persen tanaman bunga adalah mawar. Mawar Candy merupakan jenis mawar yang paling dicari jika dibandingkan mawar jenis lain seperti Mawar Holland dan Mawar Lokal.
Mawar Candy bagaikan batik. Diwarna dasar mawar merah, ada bercak-bercak warna-warni. Aneka motif warna inilah yang membuatnya mahal. Mustakim, salah seorang petani Mawar mengatakan, satu potong mawar yang dibeli di Sidomulyo seharga Rp 1200.
Tapi jika sudah di daerah pemasarannya, harganya sudah melambung. Di beberapa kota tempat pemasarannya, seperti di Medan, harganya mencapai Rp 10.000 per potong. Di Papua, harganya sudah berbeda lagi, yakni mencapai Rp 25.000. “Bahkan bisa sampai Rp 75.000. Ini karena ditambah ongkos pesawat untuk pengiriman,” jelasnya. Keunggulan lain Mawar Candy adalah daya tahannya. Bunga yang dibudidayakan selama enam bulan itu bisa bertahan 15 hari. “Bunga ini memang tahan rontok. Karena itu disukai untuk dekorasi,” tambah Tatik, petani bunga lainnya.
Belajar Budidaya Mawar
SIDOMULYO tidak hanya jadi tempat wisata dan pasar bunga. Wisata sekaligus belajar tentang bunga sudah lama berlangsung di Sidomulyo. Para petaninya pun bersedia menjadi instruktur tanpa menarik ongkos belajar. Pangat, Suliadu dan Saniyah, adalah tiga dari sejumlah petani yang selalu menjadi guru gratis. Sudah ratusan siswa dan masyarakat umum belajar cara menanam bunga, terutama mawar.
“Saya mengajarkan tentang cara penanaman, kemudian penyiraman dan pemupukan,” katanya. Belajar budidaya bunga mawar memang menyenangkan karena semua bahan belajarnya sudah tersedia di alamnya. Sejumlah siswa dari Kalimantan Timur dan berbagai kota lain di Jawa Timur pernah belajar kepada petani Sidomulyo.
“Ya mereka belajar disela-sela kami menanam bunga,” katanya. Tidak hanya belajar saja, di lahan pertanian bunga sesekali menjadi laboratorium yang paling nyata untuk mahasiswa. Tak sedikit mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang menjadikan Sidomulyo sebagai tempat penelitian untuk pembuatan skripsi. “Penelitian juga gratis. Ya tidak ada biaya selain membeli bunga di sini,” terang Pangat.
Menginap di Rumah Penduduk
DARI Sidomulyo terasa kurang lengkap bila perjalanan wisata dilanjutkan ke kawasan petik bunga di Dusun Ngebruk, Desa Gunung Sari. Jaraknya hanya 2 km dari Sidomulyo. Desa ini bagaikan desa mawar. Hampir seluruh hamparan dusun ini ditanami bunga mawar. Berkunjung ke tempat ini tak hanya melihat indahnya mawar dari berbagai jenis saja.

Pertanian bunga mawar di desa Sidomulyo, Batu, Jawa Timur (Antara/ Ari Bowo Sucipto)
Kepala Dusun Ngebruk, Sujono menerangkan, suhu 19 derajat celcius di Ngebruk dan letaknya di lereng Gunung Preteg membuat wisatawan betah ke dusun yang dipimpinnya. Dari lahan pertanian bunga mawar saja, di dusun berpenduduk 219 kepala keluarga (KK) itu menyediakan sejumlah pesona wisata. Diantaranya wisata menanam bunga hingga sayuran dan kehangatan warganya.
Sikap warga Dusun Ngebruk setidaknya telah menghangatkan wisatawan yang berkunjung ke daerah dingin itu. Warga sangat menjaga kenyamanan setiap wisatawan yang berkunjung. Bahkan lebih dari itu, warga merelakan rumahnya menjadi tempat penginapan gratis. Wisatawan boleh saja memberi uang untuk keperluan makan minum sehari-hari saat menginap di dusun itu. “Kalau tidak memberi uang untuk keperluan makan minum, tetap diajak makan bersama warga,” kata Sujono bersemangat.
Menurut Sujono, jangankan menginap semalam, sampai lima malam pun tetap digratiskan. Namun, ada sejumlah prosedur standar yang harus dipenuhi wisatawan yang menginap gratis di rumah penduduk. Seperti menyerahkan surat atau keterangan tentang identitas, pengantar dari RT, RW, kepala dusun dan kepala desa. “Tamu atau siapa saja yang menginap disini tetap dijaga kenyamanan dan keamanannya,” katanya. (van/mar/malangpost)
Keywords: agribisnis, desa, info-wisata-malang, tanaman hias, wisata belanja- Berita Lainnya :
- Pasar Batu Akik di Jalan Majapahit Tetap Eksis Puluhan Tahun
- Dukung FFI, PHRI Diskon Tarif Hotel 50%
- Potensi Wisata Pemandian Sumberringin di Tumpang
- Kisah 'Kiamat' 2012 Difilmkan, Raup Penghasilan Rp 2 Triliun
- Baru Dilantik, 12 Anggota Dewan Gadaikan SK
- Dispartabud Pastikan FFI di Batu Digelar 6 Desember
- Realisasi PJU 2009 Baru Bisa 10 Desa

















[...] Aneka warna bunga segar, lengkap dengan aroma wanginya menjadi pemandangan khas begitu memasuki Desa Sidomulyo, Kec Batu [...]
Leave your response!