Home » Kota Malang, Pendidikan

SMKN Dituduh Serakah, SMK Swasta Diminta Introspeksi

6 Agustus 2009 One Comment

Sejumlah SMK swasta di Kota Malang ibarat sedang meregang nyawa. Masa depannya semakin tidak jelas karena ditinggalkan asetnya paling berharga, yakni siswa. Beberapa spekulasi penyebab kondisi ini. Bisa jadi karena kualitas SMK tersebut kurang bagus, juga adanya keserakahan SMK Negeri yang mengeruk siswa sebanyak-banyaknya.

Siang kemarin Radar berkunjung ke SMK Sri Wedari Jalan Bogor. Di sekolah yang megah itu terlihat sejumlah siswa sedang belajar di kelas. Deretan bangku kosong berjajar rapi di kelas itu. Kemudian di kelas sebelahnya kosong, sudah tidak ada muridnya.

Walaupun memiliki fasilitas lengkap dan terakreditasi A, SMK Muhammadiyah 1 tak luput dari krisis jumlah siswa (ist/smkm1malang.blogspot.com)

Walaupun memiliki fasilitas lengkap dan terakreditasi A, SMK Muhammadiyah 1 tak luput dari krisis jumlah siswa (ist/smkm1malang.blogspot.com)

Yumi dan Caca, dua siswi kelas tiga jurusan administrasi perkantoran keluar dari ruang hendak pulang. Dua siswi ini tak terlihat sedih, keduanya masih terlihat semangat belajar di sekolah yang dulu memiliki murid di atas lima ratusan itu. “Ya kami masih tetap semangat, di sini gurunya juga rajin kok,” ujar Yumi diiyakan Caca.

Kepala SMK Sri Wedari, Sugeng Triwarsono mengatakan, dulu di sekolah itu jumlah siswa kelas satu saja sekitar 200 siswa, kini tinggal belasan. Menurut dia, jumlah siswa itu akibat penerimaan siswa baru di SMK Negeri yang terus digenjot. “Kami berharap pengambil kebijakan bisa melihat kondisi ini,” ujar dia. Sehingga tahun-tahun ke depan tidak ada lagi SMK yang mati.

Menurut dia, pengelola sekolah itu kini harus menanggung 22 guru dan karyawan. Dulu jumlahnya lebih banyak lagi, tetapi karena siswanya terus menurun, maka banyak guru yang keluar.

Kondisi sama juga terjadi di SMK Nusantara di kawasan Klayatan Janti. Di sekolah ini lebih nahas lagi. Saat Radar berkunjung di sekolah itu tinggal ada kepala sekolah satu guru dan satu tenaga tata usaha (TU). Sedangkan siswanya tinggal kelas tiga berjumlah 39 siswa. Untuk kelas dua dan kelas satu sudah tidak ada siswanya. Padahal, tahun 2002/2003 lalu, di sekolah itu terdapat 1.306 siswa. “Sejak dibuka SMKN di wilayah Sukun, sekolah ini terus mengalami penurunan peminat,” ujar I Gusti Ayu Putu Nurlikawati, kepala SMK Nusantara kemarin.

Menurut dia, sejak kehabisan murid ini, kondisi sekolah semakin tidak terawat. Karena sudah tidak ada biaya untuk perawatan. Dari pengamatan Radar, halaman sekolah itu ditumbuhi rerumputan. Kelas-kelas kosong dan banyak debu menempel di jendela. “Tapi kami masih akan terus berusaha untuk bangkit, kami tidak ingin sekolah ini mati,” ujar Nurlikawati.

Selain itu, kemarin Radar juga berkunjung ke SMK Muhamadiyah 1 di Jalan Galunggung. Dulu, sekitar lima tahun lalu, sekolah itu begitu ramai. Malahan untuk masuk harus pagi dan sore. Tetapi kemarin tidak demikian, sekolah itu terlihat sepi. Mesin-mesin praktik yang ada di sekolah itu banyak yang ditutupi terpal, siswanya juga tidak banyak lagi. Sekolah itupun terlihat kurang bergairah.

SMK Swasta Harus Interospeksi

Menanggapi keluhan SMK swasta ini, Kasi Kurikulum Dikmen Diknas Kota Malang Kunti Nursasiati mengatakan, SMK Negeri tidak menyalahi aturan dalam penerimaan siswa baru (PSB). Menurut dia, semua kebijakan diknas yang diberikan kepada SMK Negeri adalah berdasarkan surat edaran dirjen manajemen pendidikan dasar dan menengah sejak tahun 2006 lalu.

Dikatakan Kunti, berdasarkan SE Nomor 3799/C.C5/MN/2006 tentang peningkatan jumlah siswa SMK sesuai renstra 2006-2009 disebutkan, sekolah harus meningkatkan jumlah penerimaan siswa baru dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada di sekolah dengan cara double shift (pagi sore) tanpa mengorbankan mutu. “Dalam aturan itu, sekolah juga dilarang membatasi siswa,” jelas wanita berjilbab ini.

Menurut Kunti, SE itu juga selalu keluar setiap tahun. Untuk yang tahun 2008, yaitu SE Nomor 1957/C.C5/TU/2008 tentang langkah-langkah strategi untuk mendorong pertumbuhan jumlah siswa SMK dengan perbandingan 70 SMK : 30 SMA.

Dengan dasar itu, SMK Negeri tidak menyalahi aturan. Kunti juga mengatakan, selama ini, sebenarnya diknas juga telah melakukan pembinaan dan mempromosikan SMK swasta. Misalnya, jika ada yang datang ke diknas karena tidak diterima di SMK Negeri, diknas selalu menyarankan agar masuk SMK swasta. Tetapi masalahnya, tidak semua siswa mau. Untuk itu, dia berharap, pengelola SMK swasta interopeksi, kenapa para siswa tidak mau masuk ke SMK swasta. Wanita asal Tulungagung ini punya pengalaman yang unik, ada salah satu kepala SMK swasta yang keras kepala. Sering memarahi para guru dan tidak mau diganti. Tetapi kepala sekolah itu selalu menargetkan siswa yang banyak. Padahal, dengan para guru saja tidak bersahabat. “Ya mana bisa seperti itu. Maka, sekolah itu kini mati,” ujar dia. Untuk itu, membenahi internal sekolah sungguh sangat penting jika sekolah ingin eksis.

Dikatakan Kunti, selain pembinaan, sebenarnya bantuan dari pemerintah untuk SMK swasta juga banyak. Mulai dari BKSM, uji kompetensi, ujian nasional, bantuan operasional manajemen sekolah (BOMM) dan pembangunan renovasi fisik. Hanya, untuk dana pembangunan fisik dilihat dulu apakah sekolah sudah memenuhi syarat atau tidak. Tetapi untuk bantuan selain itu semua SMK swasta juga dapat.

Kebijakan Belum Mengayomi Swasta

Sementara ketua musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS) SMK swasta Kota Malang John Nadha Firmana mengatakan, sebenarnya kondisi semacam ini tidak akan terjadi jika diknas bijaksana. Yaitu, selalu mengajak koordinasi dengan SMK swasta jika ada kebijakan baru. Namun, selama ini para kepala SMK swasta seperti tidak pernah diajak bicara.

John mencoba membandingkan dengan Kota Batu. Di kota wisata itu, SMK swasta dan SMKN bisa saling menghidupi. Semuanya dapat siswa dan tidak ada yang mati. Ini terjadi karena ada kebijakan diknas yang membatasi siswa di SMK Negeri. “Tapi kenapa Kota Malang kok begini,” sesal kepala SMK Prajna Paramitha ini. Menurut dia, sesunguhnya kunci dari semua ini adalah kebijakan diknas yang dia nilai tak peduli dengan sekolah swasta.
(lid/abm/radarmalang)

Keywords: , , ,

1 Komentar »

  1. jangan saling berbecah belah, lebih baik tingkatkan kualitas. masyarakat juga nanti yang menilai

    Komentar oleh yon ade — 19 Oktober 2009 @ 14:16

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar