Musim Layangan, Perajin Panen Permintaan Ekspor
Musim panas membuat perajin layangan aduan (combat kite) panen besar. Pasalnya permintaan ekspor layangan yang digunakan untuk kompetisi tersebut pada musim panas seperti saat ini ramai. Pemilik Ahoed DC, Juhud Arianto mengatakan, order ekspor combat kite sebenarnya sudah mulai meningkat sebelum musim panas datang. Tetapi begitu memasuki musim panas, jumlah permintaan semakin tinggi.
Kebanyakan layangan aduan ini diminat oleh negara-negara di Eropa seperti Belanja dan Perancis, benua Asia, yakni Hongkong dan Cina serta Australia.
“Permintaan layangan aduan di musim panas memang selalu tinggi. Karena order cukup banyak, pengiriman terkadang harus dilakukan secara bertahap.Misalnya saja seperti order dari Perancis sebanyak 100.000 lembar, maka kami harus mengirim per 10.000 lembar karena keterbatasan tenaga,†tutur pria yang akrab disapa Ahoed ini.
Tak hanya permintaan dari luar negeri yang tinggi, permintaan dari pasar dalam negeri juga meningkat. Pasalnya selama musim panas berlangsung, banyak agenda kompetisi layangan aduan yang digelar. Ahoed mengaku beberapa daerah yang sering meminta pengiriman layangan aduan darinya adalah Bali, Gorontalo dan beberapa daerah di Kalimantan serta Jawa.
“Meski permintaan sama-sama tinggi, tetapi ada perbedaan orderan. Untuk order dari Eropa biasanya mereka memilih layangan yang menggunakan bahan-bahan berkualitas. Sedangkan permintaan dari dalam negeri biasanya tidak terlalu memperhatikan bahan,†ungkapnya.
Seiring dengan meningkatnya order layangan, lanjut Ahoed, jumlah permintaan untuk benang gelasan juga ikut merangkak. Mulai dari benang yang harganya Rp 500 hingga Rp 500.000 diborong. Khusus untuk benang gelasan yang harganya ratusan ribu rupiah, kebanyakan diminta oleh pelanggan dari luar negeri.
Sementara itu akibat keterbatasan kemampuan dan kreatifitas, Ahoed mengaku jika perajin layangan di Kota Malang masih belum mampu memproduksi layangan hias. Untuk mendapatkan layangan hias berbagai bentuk, kebanyakan masih mendatangkan dari Cina yang memang merupakan pusat dari layangan hias. “Memang sudah ada beberapa perajin yang memproduksi layangan hias. Tetapi jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan masih mengimpor dari Cina,†pungkasnya. (nda/mar/malangpost)
Keywords: ekspor, kerajinan, layang-layang- Berita Lainnya :
- Open Casting Presenter, Uji Talenta Membawa Berita
- Kompas Gramedia Fair, Turut Cerdaskan Bangsa
- Bintang Bimasakti Pulang Kampung Sebelum Ikuti Seleknas
- Tingkat Kelulusan SMA tak Masuk 10 Besar
- Tak Hanya Manusia, Hewan juga Periksa Kesehatan
- Kredit Perbankan Rp 50 Miliar, salurkan ke 531 UMKM
- TPS Unik Berbahan Daur Ulang
















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar