MOS Zonder Perpeloncoan, Siswa Diajak Outbound
Ratusan siswa baru SMK Negeri 2 Singosari di Jalan Perusahaan 20 tampak bergembira. Tak tampak ketegangan di wajah-wajah lulusan SMP itu meski tengah mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) di halaman sekolah. Demi peningkatan mutu dan mental siswa, MOS SMKN 2 Singosari zonder (tanpa) perpeloncoan, lalu seperti apa praktiknya?
Jumlah siswa yang mengikuti MOS di halaman sekolah mencapai 240 anak. Mereka dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok, beranggotakan delapan sampai sepuluh anak. Masing-masing dipimpin satu koordinator. MOS hari ketiga ini, ratusan siswa wajib mengikuti outbond.

Sekolah Tidak Bedakan Siswa Normal dan Inklusif
Panitia yang didominasi siswa kelas dua (sebelas), diantara anggotanya merupakan gabungan pengurus OSIS dan siswa pecinta alam (Himpaskas). Panitia telah menjalani outbond yang dibiayai sekolah, kini mereka mereplikasikannya dalam MOS. Adik-adik baru yang bakal bergabung dalam almamater tercinta bakal diberi enam permainan.
‘’MOS ini totalnya enam hari, dua hari pertama pengenalan lingkungan sekolah dan pembelajaran. Hari ketiga mereka mengikuti penghijauan dan outbond,’’ ujar Kepala Sekolah SMKN 2 Singosari Mohammad Qodri.
Hari keempat (hari ini), siswa bakal mengikuti PBB dan kesamaptaan, akhirnya ditutup dengan pentas seni dan ESQ oleh Diamond in you. Membahas soal MOS, menurut Qodri para siswa diarahkan untuk membentuk kerjasama dan kecintaan terhadap almamater.
‘’Para siswa membawa bibit pohon sendiri dari rumah, satu anak satu. Disamping itu ada bantuan dari pihak luar sekitar 300 bibit. Selesai penghijauan, mereka mengikuti outbond,’’ imbuh Ketua Penerimaan Siswa Baru (PSB) SMKN 2 Singosari Bambang Purwoko.
Sementara itu, di lapangan sekolah, para siswa baru sedang asik mengikuti outbond dibimbing para seniornya. Panitia menyiapkan enam permainan yang mendorong kerjasama tim. Diantaranya meniti jembatan bambu dengan bantuan seutas tali.
Jembatan bambu tersebut sengaja dipasang diatas permukaan kolam ikan yang dimiliki SMKN2. Selain tali dan bambu, panitia tidak menyediakan peralatan lain untuk menyeberang kolam. Para siswa harus bekerjasama atau terjebur dalam kolam.
‘’Agar selamat, saat satu peserta menyeberang bambu, maka peserta yang lain harus memegang tali yang berfungsi sebagai titian. Hal itu dilakukan secara bergantian hinggga seluruh peserta bisa menyeberang,’’ urai koordinator outbond Benasir Rofiah.
Selain game tersebut, ada pula permainan memindahkan air, yel-yel, merayap dengan mata tertutup, memindahkan kelerang, dan bakiak kaki seribu. Tentu saja, seluruh permaian bakal menguji kerjasama tim, dan mencerahkan pikiran peserta.
‘’Seperti merayap dengan mata tertutup, mereka bakal melewati rintangan berbentuk zig zag. Supaya bisa lolos harus ada kerjasama tim, artinya teman yang lain bakal mengarahkan,’’ imbuh Benasir Rofiah.
Tidak Bedakan Siswa Normal dan Inklusif
MASA Orientasi Siswa (MOS) di SMPN 18 Malang boleh dibilang cukup istimewa. Sebab, MOS di sana diikuti empat siswa berkebutuhan khusus (inklusif). Diantaranya ada siswa autis, dan juga slow learner. Bagaimana suasananya?
Halaman SMPN 18 yang berlokasi di kawasan Soekarno Hatta Kota Malang siang kemarin tampak ramai. Beberapa siswa berseragam SD berbondong-bondong menuju musala untuk menunaikan ibadah salat Dhuhur.
Diantaranya ada seorang bocah bertubuh besar yang nampak berjalan santai bersama temannya. Ia pun tidak canggung mengambil air wudhu dan mengenakan sarung untuk salat.
‘’Sebenarnya dia adalah salah satu siswa inklusif, tapi masih bisa bersosialisasi dengan temannya. Karena dia mengalami slow learner saja atau lambat belajar,’’ ungkap Koordinator Guru Pendamping Khusus (GPK) SMPN 18 Malang, Dra Kusyiah kepada Malang Post.
Sebut saja namanya Andre, ia tampak menikmati kegiatan di musala. Seperti halnya temannya sesama siswa baru kemarin, ia pun saling bercanda walau tak membuat gaduh.
Di kelas berbeda, beberapa siswa non muslim nampak mengikuti pembinaan agama juga. Di ruangan kecil tempat ibadah mereka yang juga berada di kawasan SMPN 18, tampak beberapa siswa tengah mengikuti bimbingan dari dua guru.
Dari beberapa siswa itu, dua diantaranya adalah siswa Inklusif. Sekilas tak tampak perbedaan diantara mereka. Hanya saja dua siswa inklusif tampak pandangannya kosong.
Kelihatannya mereka menyimak apa yang disampaikan guru, tapi ada hal lain dibenaknya. Karena itu dua siswa itu sengaja ditempatkan di depan sehingga guru bisa mudah mengingatkan mereka untuk tidak melamun.
‘’Karena pandangan mereka kosong, biasanya mereka tidak bisa langsung merespon apa yang kita bicarakan. Hal ini menyebabkan mereka cenderung lamban dan tidak percaya diri,’’ ungkapnya.
Ia pun mencoba menyapa salah satu siswa yang berbadan tinggi kurus. Sebut saja Adi. Siswa itu tidak langsung menangapi pertanyaan guru, melainkan justru meraih susu yang ada di depannya.
Dijelaskan Kusyiah, siswa Inklusi yang diterima di sekolah ini kondisinya memang tidak terlalu parah. Diantaranya hanya karena faktor sosial dimana mereka kurang mendapat perhatian dari orang tua. Atau bahkan ada yang terlalu dimanja. Ada anak yang usianya sudah 14 tahun tapi belum bisa mandi sendiri, makan sendiri dan memakai baju sendiri.
‘’Di sekolah mereka harus dipantau dan didampingi, karena itu setiap kelas ada guru khusus yang mendampingi mereka,’’ ucapnya.
Selama MOS ini, kata dia, guru pendamping juga menyediakan buku penghubung untuk berkomunikasi dengan orang tua. Karena anak-anak inklusi ini tidak bisa langsung menangkap penugasan dari guru.
Karena itu tugas guru pendamping untuk mencatatnya dan menginformasikannya kepada orang tua di rumah. Buku penghubung ini akan terus dipergunakan selama proses belajar mengajar di sekolah.
Selama MOS ini, semua siswa inklusi mengikuti kegiatan yang sama dengan siswa lainnya. Masa pengenalan lingkungan sekolah ini sekaligus dimanfaatkan untuk mensosialisasikan keberadaan siswa berkebutuhan khusus ini kepada siswa lain. Harapannya mereka mau mengerti dan membantu temannya yang punya kebutuhan khusus itu.
‘’Selama ini siswa di kelas iklusif justru yang lebih punya solidaritas tinggi, mereka punya rasa tanggung jawab dan menyayangi temannya walaupun berbeda,’’ ucapnya bangga.
Terkadang, kata dia, guru pendamping juga menitipkan anak inklusi itu kepada siswa lain. Dengan pesan moral agar dibantu dan diawasi, dan ternyata anak-anak usia SMP ini pun sudah mengenal baik toleransi. Tak ada yang mengganggu, justru mereka menyayangi temannya yang terlahir dengan kekurangan itu.
(lailatul rosida/Bagus Ary Wicaksono/malangpost)
- Berita Lainnya :
- NUN Jadi Syarat Masuk PTN, Unas Makin Ketat
- Deadline nominasi Ujian Nasional, Dinas Kalang kabut
- UB dan UMM Gratiskan SPP Mahasiswa Padang dan Jambi
- Rani Sasmita, Mahasiswi Unibraw Peneliti Terbaik se-Thailand
- Sampoerna Academy Setuju Pindah Ke Tlogowaru
- America Dreaming: Bermimpi Ala Amerika
- 23 SMA di Kota Malang Belum Berstandar Nasional

















Leave your response!