Dua Jalur Kereta Api Akan Dihidupkan untuk Memecah Kemacetan
Dua jalur Kereta Api (KA) yang lama mati akan dihidupkan guna mengantisipasi ruwetnya transportasi masyarakat Malang Raya. Dua jalur itu antara lain Kota Lama -Turen - Dampit dan Blimbing – Pakis - Tumpang. Konservasi rel mati pada dua ruas potensial itu telah dibahas pada Musrenbang Nasional tahun 2009.
Kabid Pengembangan sarana dan prasarana wilayah Bappekab Malang Dwi Sis Wahyudi membenarkan hal itu. Kata Dwi Siswahyudi, Kereta Komuter untuk transportasi lokal dilakukan dengan menghidupkan rel mati. Kebijakan itu mengacu pertumbuhan penduduk yang harus diikuti sistem transportasi masal.
“Hal itu memang sudah dibicarakan dalam Musrenbang tingkat Nasional,” ungkap Dwi Siswahyudi.
Secara terpisah, Ketua Komisi Teknis Transportasi Dewan Riset Daerah Kabupaten Malang Dr. Achmad Wicaksono mengatakan, jalur Ka lawasn sudah dipetakan. Kata dia, konservasi kedua jalur itu dilakukan dengan memperbaiki rel KA yang lama.
Saat ini, rel lama dalam kondisi tenggelam dalam tanah. “Sehingga tinggal diangkat dan diperbaiki, di beberapa kecamatan malah masih ada stasiun kereta apinya,” ungkap Pembantu Dekat I Fakultas Teknik UB itu.
Menurut Soni, sapaan akrabnya, jalur KA yang sudah mati itu bakal diarahkan menjadi tulang punggung transportasi masal di Malang Raya. Jalur KA yang mati, akan mendukung jalur KA Komuter Lawang-Kepanjen yang sudah digagas. Rencananya, jalur KA Lawang-Kepanjen akan memakai rel ganda.
“Dua jalur yang mati itu, memang dianggap menjadi ruas-ruas potensial,” katanya.
Jalur KA jurusan Kota Lama-Turen-Dampit melewati beberapa stasiun, seperti Bululawang, Turen hingga Dampit. Di Bululawang, Sampai saat ini masih nampak rel mati di daerah utara pabrik gula Krebet.
Sedangkan, bangunan Stasiun Bululawang kini sudah tak nampak, hanya dibadikan menjadi nama jalan (dekat Puskesmas Bululawang). Soal jaringan kereta dibahas dalam penelitian Handinoto Staf Pengajar Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur - Universitas Kristen Petra. Jalur kereta api di Indonesia dibangun mulai tahun 1860 sampai 1920 oleh dua Instansi, pemerintah S.S – Staad Spoorwegen dan pihak swasta NIS – Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij.
“Jalur lama yang akan dihidupkan itu, sebisa mungkin tetap memakai rel yang lama,” pungkas Soni. (ary/eno/malangpost)
Keywords: Blimbing, Bululawang, Dampit, kemacetan, Kepanjen, kereta-api, Komuter, Kota Lama, lalulintas, Lawang, Pakis, transportasi, Tumpang, Turen- Berita Lainnya :
- Pasar Batu Akik di Jalan Majapahit Tetap Eksis Puluhan Tahun
- Banjir Mengancam 22 Desa di Kabupaten
- Dukung FFI, PHRI Diskon Tarif Hotel 50%
- Ujian CPNS Malang Raya Diikuti 27.627 Peserta
- Potensi Wisata Pemandian Sumberringin di Tumpang
- Kisah 'Kiamat' 2012 Difilmkan, Raup Penghasilan Rp 2 Triliun
- 300 Penambang Tak Berijin

















Leave your response!