Home » Pendidikan, Sorotan

Pukul 14.00 PSB Online Ditutup, Nilai Terendah Bergeser Naik

4 Juli 2009 No Comment

Peserta PSB online yang telah terjaring di sekolah pilihan patut was was. Bahkan, peluang tergelincir pada pilihan kedua masih sangat memungkinkan. Ini karena pergerakan NUN (nilai ujian nasional) tidak lagi didasarkan pada menit, tapi detik. Selisih sedikit saja angka di belakang koma, maka posisi bisa terancam.

Berdasarkan rekap hari kedua kemarin per pukul 13.52, posisi NUN terendah di SMAN kompleks Tugu saja telah banyak berubah dibanding hari pertama kemarin. Di SMAN 1 misalnya, jika kemarin NUN 36,652 masih bisa nyantol, tidak dengan kemarin.

Karena NUN terendah di sana sudah naik menjadi 37,00. Begitu juga dengan SMAN 3. Pada hari sebelumnya NUN 37,00 masih bisa lolos, di hari kedua batas NUN terendah sudah bergeser jauh ke angka 37,2. Pun di SMAN 4, NUN terendah semula di angka 35,85 kemarin menjadi 36,32.

Perubahan batasan NUN terendah tersebut hampir merata di semua SMAN peserta PSB online. Bahkan, di SMAN 9 yang awalnya NUN 27,2 masih bisa lolos, kemarin NUN 27,2 telah tergusur dari peta persaingan. Posisi NUN tersebut kini digantikan angka 31,5. Begitu juga dengan SMAN 6 yang semula menduduki rekor NUN paling terendah di antara 8 SMAN lainnya. NUN terendah di SMAN 6 yang semula hanya 22,52 kini bergeser pada 30,552.

Melihat banyaknya pendaftar yang masuk sistem, dipastikan pergeseran NUN tersebut masih akan terus berlangsung. Apalagi, PSB online baru akan berakhir hari ini tepat pukul 14.00. Bahkan, tingkat persaingan akan semakin ketat mengingat banyak calon siswa dengan NUN tinggi sengaja memilih hari terakhir, karena dinilai lebih tepat dalam menentukan pilihan.

Jika ini benar-benar terjadi, siswa yang telah bertengger di posisi bawah pada batas pagu masih terancam. Bahkan, ancaman itu juga bakal melanda posisi-posisi calon siswa di kompleks SMA Tugu. “Peta persaingan masih akan terus berubah. Termasuk di SMAN 1,” ungkap Ketua Panitia PSB online SMAN 1 Drs Junaedi MA, kemarin.

Bahkan, menurutnya, hari terakhir PSB online adalah paling menentukan. Tidak hanya bagi pendaftar yang telah memasukkan data pada hari pertama dan kedua. Tapi, juga bagi pendaftar yang memilih momen hari terakhir. “Saya prediksi, pendaftar di hari terakhir inilah yang akan menang. Karena mereka benar-benar tahu posisi sekolah yang akan menerimanya,” terang dia.

Pertimbangan lain bakal bergesernya posisi siswa yang telah tersangkut di SMAN 1 itu, karena ada puluhan pendaftar belum mengembalikan formulir. Juga, warga Kota Malang lain yang sengaja melakukan pendaftaran di hari terakhir. “Formulir keluar dari SMAN 1 mencapai 500-an, tapi yang mengembalikan belum sampai 500,” kata dia.

Kondisi itu bisa dimaknai bahwa masyarakat lebih memilih hari terakhir atau mengembalikan lewat loket SMAN lain. Jika pilihan pertama yang diambil, maka kompetisi di hari terakhir bertambah ketat. “Beberapa warga malah membeli formulir kosong lebih dulu, padahal NUN mereka tinggi. Kisarannya 37,60 dan 38,40,” tambahnya.

Dinda Dwi Chandrarini, salah satu calon siswa ini juga termasuk dalam jajaran pendaftar yang mengincar peluang di hari terakhir. Alumni SMPN 5 dengan NUN 38,42 itu yakin bakal terjaring di SMAN 1, karena telah mengetahui posisi sebaran NUN di sana. “Kalau tahu peta dan jeli membaca NUN yang sedang bersaing di sekolah tertentu, peluangnya memang sangat besar,” katanya.

Di tempat terpisah, Kabid Dikmen Diknas Kota Malang Sugiharto membeberkan, hari terakhir memang paling menentukan. Hanya saja, pendaftar di hari terakhir ini harus benar-benar cermat. Terutama, dalam menentukan pilihan sekolah. “Kalau sudah yakin tidak terjaring di SMAN 1, 3, dan 4, lebih baik pilihan itu ditempatkan paling akhir. Langkah paling tepat menempatkan sekolah di mana NUN-nya terjaring pada urutan pertama,” terangnya.

Misalnya, pendaftar A memiliki NUN 35,5. Jika dilihat dari posisi persaingan saat ini, NUN 35,5 jelas tidak akan lolos di SMAN 1, 3, dan 4. Peluang NUN tersebut terbuka di SMAN 6, 7, dan 9. “Lebih baik langsung menempatkan SMAN 6 di urutan pertama,” jelas Sugiharto. (nen/ziz/radarmalang)

Keywords: , , ,

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar