Home » Kota Malang

Pembangunan Stand Buku Velodrome Terancam Molor

19 Juni 2009 No Comment

Pembangunan 81 stand buku eks PKL Sriwijaya pasca direlokasi di Stadion Velodrome Sawojajar tampaknya bakal molor dari deadline yang ditentukan, 22 Juni mendatang. Itu karena fakta di lapangan menyebutkan, hingga kemarin pembangunan stand untuk PKL baru terbangun sekitar 50 persen. Molornya pembangunan itu karena ada beberapa pedagang yang belum melunasi pembayaran stand kepada pemborong.

Seperti perjanjian antara pemborong dan PKL Buku Sriwijaya sebelumnya, dengan harga per stand sebesar Rp 7 juta pedagang buku Sriwijaya berhak atas stand buku yang berada di bawah track sepeda di Velodrome Sawojajar Malang. Setiap stand akan dilengkapi dengan listrik serta pintu rolling door, dengan ditambah kanopi yang memayungi halaman depan stand agar tidak terkena piasan air hujan secara langsung.

Awalnya, pemborong menjanjikan stand akan segera dihuni pada 22 Juni, setelah seluruh pedagang melunasi uang muka masing-masing, sebanyak Rp 3 juta per stand. Namun karena pembangunan sempat mandek sekitar satu minggu terakhir, deadline pembangunan pun terancam molor.

”Kami sadar deadline akan molor selama satu minggu, mungkin karena pembangunan sempat mandek sekitar satu minggu kemarin,” ujar Mochamda Abdur Rahman Humas Pedagang Buku Sriwijaya pada Malang Post kemarin.

Mandeknya pembangunan karena pihak pemborong menagih sisa uang muka yang belum terbayarkan oleh beberapa pedagang buku. Di lapangan kemarin stand pedagang buku masih terlihat rampung sekitar 50 persen. Pintu rolling door, listrik, serta kanopi di depan stand belum juga terlihat akan segera dibangun. Beberapa stand terlihat lebih baik dengan warna tembok kuning menutup dinding yang berwana putih di bagian dalam stand. Sementara sebagian besar stand masih terlihat polos, hanya berbentuk ruangan kosong bersekat saja.

Konsekuensi atas molornya deadline pembangunan menurut Achmad juga dirasa berat oleh para pedagang buku. Mereka harus setiap hari memindahkan buku dari gudang penyimpanan pada tenda penjualan mereka. Waktu berjualan pun belum dapat sepanjang ketika berjualan di dalam stand. ”Berjualan di tenda kan gelap, tidak ada lampunya. Jadi jam berjulan hanya terbatas hingga pukul 18.00 WIB saja,” ujarnya.

Setelah relokasi, tidak semua pedagang yang bisa berjualan di pelataran velodrome. Menurut Achmad sebagian kecil pedagang memilih berhenti berjualan dan fokus pada kegiatan lain secara sukarela karena terbatasnya jumlah tenda yang ada.

Budiono, seorang pedagang di Velodrome mengatakan jumlah pedagang buku yang berjualan sekitar 30 pedagang. ”Yang lainnya secara sukarela tidak berjualan, karena tenda yang terbatas. Kemarin pengurus sempat meminta tambahan 7 tenda pada dinas pasar, tapi belum direalisasi hingga sekarang,” ujarnya dibenarkan oleh seorang pedagang lain di sampingnya.(pit/lim/malangpost)

Keywords: ,

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar