Melongok Keelokan Candi Songgoriti
BERKUNJUNG ke Kota Batu, nampaknya tidak lengkap bila tidak mendatangi dua peninggalan sejarah di sana. Ya, di kawasan Songgoriti itulah, Candi Songgoriti dan Makam Mpu Supo berdiri. Saat ini, memang masih banyak wisatawan, utamanya mancanegara yang datang, kaget setelah melihat dua peninggalan sejarah ini masih kokoh berdiri di Kota Batu yang dikenal sebagai de Kleine Switzerland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa.
CANDI Songgoriti, berada di Desa Songgokerto, Kota Batu. Lebih tepatnya berada di areal kompleks Hotel Songgoriti. Sepanjang bulan atau tahun, candi ini nyaris sepi dari kunjungan wisatawan.

Candi Songgoriti
Menurutnya, legenda Kota Batu dan bahkan sejarah masa lalu negeri ini, tak bisa dilepaskan dari keberadaan dua tempat tersebut. Ketika itu, wilayah Batu (Songgoriti) dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan Raja Sindok (Mpu Sendok). “Awal berdirinya, petinggi kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Raja Sendok untuk membangun tempat peristirahatan berdekatan dengan sumber mata air panas yang dikenal sekarang ini kawasan Candi Songgoriti,” lanjutnya.
Dijelaskan pria yang berprofesi sebagai juru kunci sejak tahun 1985 itu, dalam kamus Jawa Kuno, Candi Songgoriti diartikan sebagai timbunan logam. Candi ini ditemukan kali pertama oleh Van I Isseldijk tahun 1799 M, kemudian didalami renovasinya oleh arkeolog Belanda lainnya, Rigg tahun 1849 M dan Brumund pada tahun 1863 M. Tahun 1902 M, Knebel melakukan inventarisasi situs Candi Songgoriti dan dilanjutkan dengan renovasi besar-besaran tahun 1921 M. dan terakhir tahun 1938.
“Candi ini banyak menyimpan peninggalan agung. Di dalam tanah dekat dasar candi, ditemukan empat peti batu yang berisikan lingga dari emas, yoni dari perunggu, mata uang dan kepingan emas yang bertuliskan nama dewa-dewa,” urai Harioto. Kawasan candi yang tak jauh di samping kolam renang dan di belakang Hotel Songgoriti itu, juga memiliki bukti sejarah berupa prasasti, Sangguran atau Batu Minto bertahun 800 (lebih tua daripada candi Borobudur tahun 822).
“Candi ini banyak memiliki keunikan dibanding candi-candi lainnya. Ini bagus untuk referensi sejarah. Candi Songgoriti dibangun di atas sumber mata air panas yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Terbuat dari batu andesit dan pondasinya dari batu bata. Ukuran candi ini hanya 14,50 meter x 10 meter dengna tinggi yang ada adalah 2,5 meter,” tambahnya.
Masih di areal candi itu, sebenarnya pengunjung bisa melihat arca Ganesha dan arca Rsi Agastya, yang berlatarkan agama Hindu aliran Siwa. Tak seperti kawasan wisata lainnya, untuk masuk melihat Candi Songgorti ataupun Pesarean Mpu Supo, tak dipungut biaya tiket masuk alias gratis.
Mitos Air Pasang Giri
CANDI Songgoriti juga menyimpan keunikan lain tiada tara yang tak ditemukan di kawasan wisata purbakala lainnya. Yakni, sumber air Pasang Giri yang dingin dan menyembul di tengah-tengah bangunan candi dan kolam kolam kecil ukuran 75 cm x 75 cm, dikelilingi sumber air panas.
“Sangat unik dan sulit dimengerti akal sehat. Candi yang dikelilingi sumber mata air panas, di tengah-tengahnya menyembul sumber air mata dingin. Sumber air ini juga tak ubahnya sebagai patokan untuk stabil tidaknya pemerintahan di Malang Raya, Jawa Timur dan bahkan Indonesia. Dulu ketika ada gonjang-ganjing kerusuhan politik tahun 1998, air di sumber Pasang Giri ini langsung meluber dan beriak-riak,” jelas Mbah Cukup, juru kunci lainnya di Candi Songgoriti tersebut.
Namun, bila suhu politik di tanah air kondusif, sumber air tersebut tenang dan volumenya tetap terisi 50 persen dari total 1 meter tinggi kolam kecil itu. “Sumber air ini banyak mendapat kunjungan khusus para pejabat di masa lalu. Entah hanya untuk sekadar semedi atau melihat-lihat saja. Sumber air Pasang Giri ini sudah hampir 11 tahun ini tidak lagi beriak, setelah zaman reformasi lalu,” tambah pria yang sejak tahun 1978 menjadi juru kunci tersebut.
Letaknya persis di tengah-tengah bangunan candi bagian belakang. Sumber air dingin ini dikelilingi sumber air panas yang mengitari Candi Songgoriti. Namun tak banyak wisatawan, seperti diungkapkan Mbah Cukup, dari mereka yang mengetahui keunikan tersebut.
“Jangankan soal Sumber Air Pasang Giri, candinya saja tak banyak yang tahu kalau ada di sini. Seminggu bisa dihitung yang datang kesini, sekitar 5 hingga 10 orang. Itu pun dari kalangan universitas atau sekolah dan turis asing yang datang,” tukas pria asal Pujon itu.
Legenda Mpu Supo

Makam Mpu Supo
“Rumah ini dikenal sebagai Pesarean Mbah Pathok atau Mpu Supo. Beliau moksa di tempat ini dan pertama kali diketahui berdasarkan wangsit tahun 1930-an, kalau beliau moksa di tempat ini,” jelas juru kunci, Supardi Harjoko.
Tak banyak yang kenal siapa sesungguhnya Mpu Supo itu. Yang pasti, dimasa pemerintahan Raja Mpu Sindhok, selain menjadi petinggi kerajaan, Supo juga seorang pembuat keris kenamaan.
Asal usul beliau pada akhirnya tinggal dan moksa di kawasan Candi Songgoriti, ketika diperintahkan mencari pusakan kerajaan yang menghilang. “Pusaka itu bernama Keris Sangkelat. Artinya Sang Komo Lati atau Sang artinya sifat tinggi, Komo berarti hayat hidup, dan Lati sebuah ucapan. Ketika beliau pada akhirnya sampai menemukan pusaka di kawasan ini, kemudian memutuskan tetap tinggal di sini sampai moksa dan tak kembali ke pusat kerajaan,” tambahnya.
Namun demikian, sejak awal abad IX itulah, Mpu Supo bersama Rosowulan, istrinya dan Supondiro, putra tunggalnya memulai hidup baru dan membangun pesanggrahan peristirahatan bagi keluarga kerajaan dan dirinya. Hingga sekarang, kawasan ini dikenal dengan nama Songgoriti atau sangga bumi. (nov/mar/malangpost)
Keywords: info-wisata-malang, sejarah, Songgoriti- Berita Lainnya :
- Pasar Batu Akik di Jalan Majapahit Tetap Eksis Puluhan Tahun
- Dukung FFI, PHRI Diskon Tarif Hotel 50%
- Potensi Wisata Pemandian Sumberringin di Tumpang
- Kisah 'Kiamat' 2012 Difilmkan, Raup Penghasilan Rp 2 Triliun
- Baru Dilantik, 12 Anggota Dewan Gadaikan SK
- Dispartabud Pastikan FFI di Batu Digelar 6 Desember
- Realisasi PJU 2009 Baru Bisa 10 Desa

















Leave your response!