Bisnis Factory Outlet Ditengah Persaingan Department Store
PERSAINGAN usaha di bidang fashion dewasa ini semakin gencar. Diskon besar-besaran ditawarkan oleh department store besar untuk menarik jumlah pembeli sebanyak-banyaknya. Menariknya, tengah persaingan Department Store yang sangat ketat, ada beberapa Factory Outlet (FO) yang masih bertahan.
Bisnis FO sempat menjamur di awal era 2000-an. Di Kota Malang sendiri cukup banyak FO yang berdiri waktu itu. Seiring dengan berjalannya waktu, satu persatu FO berjatuhan karena tidak bisa bertahan menghadapi ketatnya persaingan di bidang fashion. Namun ada juga beberapa outlet yang mampu bertahan.

Suasana FO Cargo Malang
Salah satu FO yang bertahan hingga kini adalah Cargo. FO yang berada di kawasan pusat kota ini berdiri sejak 7 tahun yang lalu. Jangka waktu ini merupakan prestasi tersendiri bagi Cargo dan terbilang cukup lama di antara bisnis FO lainnya. Pasalnya kebanyakan usia berdirinya FO tak lebih dari lima tahun akibat kalah bersaing dengan department store yang memiliki kekuatan lebih besar.
Diakui Pimpinan Cabang Cargo Malang, Ari Budi Setiawan, mempertahankan bisnis FO tidak mudah. Selain bersaing dengan department store besar dan memiliki pelanggan tetap, FO juga harus bersaing dengan bisnis fashion yang menggunakan konsep baru, yakni distribution store (distro) yang sudah menjamur. Karena itu untuk tetap mempertahankan diri, setiap FO harus memiliki strategi khusus.
“Tak sekadar memberikan diskon untuk para pembeli, kami juga harus menerapkan strategi khusus agar tetap bertahan di tengah gencarnya persaingan. Apalagi saat ini department store juga terus menghujani pelanggannya dengan diskon besar. Salah satunya yang kami lakukan adalah dengan memberi diskon murni, yakni tidak merubah harga sebelum diskon diberikan,” tutur Ari saat ditemui Malang Post, kemarin.
Selain memberikan diskon besar kepada para pelanggan, Cargo juga memiliki cara tersendiri untuk menarik pelanggan-pelanggan baru. Dengan diuntungkan bangunan berarsitektur ala zaman kolonial, Cargo juga menerapkan konsep wisata belanja di outletnya.
Menurut pria asal Jogjakarta itu, karena memiliki bangunan yang berarsitektur zaman kolonial ini, Cargo banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Jika awalnya wisatawan tersebut hanya ingin melihat-lihat bangunan, pada akhirnya banyak juga yang berbelanja. Apalagi Cargo juga selalu menghadirkan produk fashion yang tak kalah up date-nya dengan toko-toko besar.
“Inilah yang kami sebut dengan wisata belanja. Pembeli tak hanya mendapatkan produk fashion keinginan mereka, tetapi juga bisa menikmati bangunan yang berarsitektur zaman kolonial yang tetap kami pertahankan,” tutupnya.
Bertahan di tengah persaingan
Selain menawarkan harga yang bersaing dan diskon besar-besaran, Factory Outlet (FO) juga menempuh strategi lain untuk mempertahankan diri dari derasnya persaingan di bidang fashion. Salah satunya adalah menjaga keberadaan loyal customer agar tidak berpaling.
Bagi Darmo FO, diskon besar-besaran sudah bukan hal terpenting untuk menarik pelanggan. Sebab hampir semua outlet sudah menggunakan cara ini. Bahkan program ini sudah hampir setiap hari dilakukan. Tapi Darmo FO justru memilih cara lain, yakni dengan mempertahankan loyal customer yang mereka miliki.
Menjaga keberadaan mereka, merupakan hal terpenting untuk bertahan bagi Darmo. Sebab mereka inilah yang membuat Darmo terus bernafas sejak tahun 2002, meski saat ini department store mengancam posisi mereka dengan program-program yang sangat menggiurkan.
Menjaga keberadaan loyal customer bisa dibilang gampang-gampang susah. Perlu usaha ekstra untuk membuat loyal customer tetap berbelanja di tempat mereka.
Supervisor Darmo FO Malang, Vida Wahyuningtyas mengatakan, salah satu upaya yang ditempuh untuk membuat loyal customer ini tidak berpaling adalah dengan memberikan pelayanan berjangka dan terus-menerus yang memanfaatkan jasa SMS atau telepon.
‘’Tak hanya memberikan pelayanan di dalam toko, kami juga memberikan pelayanan di luar. Misalnya saja ketika ada produk baru atau program diskon, kami selalu memberi tahu langsung kepada loyal customer. Entah itu melalui SMS atau telepon. Kebetulan kami selalu mencatat nomor telepon para customer dan menganggap mereka seperti kawan. Hubungan baik ini yang membuat kami tidak ditinggalkan hingga sekarang,’’ ungkap Vida pada Malang Post.
Meski berjuang mempertahankan loyal customer, bukan berarti Darmo FO enggan mencari pelanggan baru. Mereka tetap berupaya mendapatkan pelanggan-pelanggan baru dengan strategi-strategi khusus. Yang sekarang tengah dikembangkan oleh FO yang terletak di Jl Letjen Sutoyo ini untuk mendapat pelanggan baru adalah dengan menggandeng pihak travel.
Gadis kelahiran Malang, 25 Agustus 1980 ini menjelaskan, jika ada tamu atau wisatawan dari luar Malang, biasanya oleh pihak travel akan diarahkan ke Darmo FO.
Strategi ini jelas menguntungkan Darmo FO. Sebab biasanya kunjungan tamu atau wisatawan ini tidak hanya diikuti oleh satu atau dua orang, tetapi hingga puluhan orang.
‘’Memang tidak semua tamu yang berbelanja saat travel mengarahkan kunjungan ke tempat kami. Tetapi beberapa dari mereka pasti ada yang tertarik dengan produk-produk kami. Kalau sudah begitu, biasanya mereka akan memberikan informasi tentang keberadaan kami kepada keluarga atau rekannya di kota asal. Dan ini menjadi efek domino yang bagus bagi kami,’’ tutupnya.
(noer adinda zaeni/sumarga nurtantyo/malangpost)
- Berita Lainnya :
- Pasar Batu Akik di Jalan Majapahit Tetap Eksis Puluhan Tahun
- Lima Reklame Besar Dibongkar Satpol PP
- Tingkat Persaingan CPNS Teknis 1:41, Guru 1:15
- KPPU Sinyalir Malang Berpotensi Pelanggaran Tender
- Kisah 'Kiamat' 2012 Difilmkan, Raup Penghasilan Rp 2 Triliun
- Penghuni Wisma Tumapel Resah, Rektor Buka Komunikasi
- Developmentalisme itu Bohong Besar

















Leave your response!