Rokok Pengantar Menuju Narkoba
Kecenderungan remaja merokok yang semakin meningkat menimbulkan keprihatinan bagi kalangan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya untuk menggelar seminar kesehatan Solusi Alternatif Mengatasi Kecanduan Rokok. Seminar menghadirkan Dr Tri Wahyu Astuti, SpP dari bagian Laboratorium Paru RSSA-FK UB. “Pada usia remaja, mereka dalam masa usia yang produktif yang sangat rentan terhadap berbagai penyakit, terutamanya yang disebabkan rokok yang berdampak di masa tuanya,” ujar Dr. Tri Wahyu dalam seminar kesehatan dengan tema Solusi Alternatif Mengatasi Kecanduan Rokok di Gedung Widyaloka UB Malang, Selasa (7/4) kemarin.

“Seseorang yang merokok didasarkan dari suatu kebiasaan, rutinitas merokok merupakan bentuk ketergantungan nikotin” ujar Tri Wahyu.
Bentuk kecanduan ini secara fisik dan psikologis terhadap nikotin yang merupakan penyebab sulit untuk stop merokok. “Ketika mereka mulai mencoba untuk stop rokok mereka akan lesu dan tak ada semangat, yang menyebabkan mereka kembali merokok lagi. Bahkan bisa mencapai 6-9 kali untuk mencoba stop rokok, tetapi mereka tetap tidak berhasil. Kegagalannya disini karena sudah adanya ketergantungan,” tambah Tri Wahyu Astuti.
Seseorang yang melakukan stop merokok akan menyebabkan ia cepat marah dan gelisah, karena otak telah terbiasa dengan efek nikotin. Semakin sering merokok maka semakin tinggi kadar nikotin yang dibutuhkan untuk sensasi perasaan tenang dan senang. Bahkan yang lebih berbahaya, merokok merupakan pintu masuk menuju penyalahgunaan narkoba. Tri menyebut adanya suatu kecanduan dalam rokok, maka seseorang pecandu bisa melakukan coba-coba dengan yang namanya narkoba. “Yang dicari mereka itu berupa kenikmatan” ujarnya.
Seperti halnya dengan minuman kopi, ia ingin membetulkan presepsi masyarakat yang salah “Orang salah besar jika menafsirkan kopi sebagai penetralisir kandungan yang ada pada rokok, fungsi kopi hanya pemicu untuk merangsang organ-organ untuk menjadi aktif, dengan debaran jantung meningkat, asam lambung meningkat, dan menjadikan pecandu lebih bersemangat dan tidak lesu Seseorang yang merokok disertai kopi, hanya untuk memperoleh kenikmatan,” tambahnya.
Dia menyebut motivasi pribadi merupakan faktor utama untuk berhenti merokok. “Kalau tidak ada keinginan yang kuat untuk sehat, hanya ingin merasakan kenikmatan saja dengan mengabaikan kesehatan, maka keingin untuk Stop Rokok sangatlah sulit. Saya berharap kegiatan ini, setidaknya memberikan gambaran dan ilmunya tentang bahayanya rokok dan kandungan yang ada di dalamnya, sehingga para perokok bisa termotivasi untuk berhenti,” ujar Tri Wahyu menambahkan.
Ada beberapa tips stop merokok yang dipaparkan dalam seminar ini yaitu (1) Buat komitmen dengan diri sendiri, (2) Cari motivasi atau inspirasi untuk stop merokok demi keluarga atau demi kesehatan, (3) Mintalah dukungan orang-orang terdekat seperti teman dan keluarga. Mengingatkan ketika keinginan merokok datang, (4) temui dokter & konsultasikan niat untuk stop merokok, (5) Tetapkan tanggal stop merokok. Beritahukan orang-orang terdekat & dokter , (6) Carilah program2 dukungan stop merokok, (7) Singkirkan hal yang dapat mendorong / mengingatkan Anda untuk merokok seperti korek, asbak dan rokok. (mg1/malangpost)
Keywords: kesehatan, narkoba, rokok, seminar, UB- Berita Lainnya :
- Pasar Batu Akik di Jalan Majapahit Tetap Eksis Puluhan Tahun
- Lima Reklame Besar Dibongkar Satpol PP
- Tingkat Persaingan CPNS Teknis 1:41, Guru 1:15
- KPPU Sinyalir Malang Berpotensi Pelanggaran Tender
- Kisah 'Kiamat' 2012 Difilmkan, Raup Penghasilan Rp 2 Triliun
- Penghuni Wisma Tumapel Resah, Rektor Buka Komunikasi
- Developmentalisme itu Bohong Besar

















Leave your response!