Home » Kabupaten Malang, Kota Batu

Pedagang Cilok Boleh Jualan dengan Syarat

4 April 2009 No Comment

Pro kontra penjualan cilok, tampaknya menjadi masalah serius di Pemkot Batu. Terutama menyangkut kesehatan siswa yang mengkonsumsi cilok tersebut.

Dalam rapat instansi terkait di lingkungan Pemkot Batu kemarin, pedagang cilok dipersilakan berdagang dil ingkungan sekolah dengan syarat. Yakni mendapat pembinaan dari pemkot.

‘’Keputusan rapat tadi (kemarin, Red.) sepakat untuk membina para pedagang cilok. Jenis pembinaannya, mereka akan diajarkan tentang cara memasak yang higienis sehingga tidak membahayakan kesehatan,’’ jelas Mistin, Kepala Dinas Pendidikan, Kota Batu.

Rapat yang dihadiri Plt Sekkota Batu Sundjojo itu tidak hanya diikuti Diknas dan para kepala sekolah saja. Sejumlah instansi terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian, Kantor Lingkungan Hidup, Bagian Perekonomian juga hadir.

Lebih lanjut Mistin menjelaskan, setelah Pemilu 9 April mendatang, semua pedagang cilok yang berdagang di sekolah didata. ‘’Dari data pedagang akan diketahui keberadaannya dan memudahkan untuk pembinaan kesehatan,’’ jelasnya.

Dari data itulah lanjut dia, para pedagang cilok diberi tanda sebagai pedagang di sekolah yang mudah di kontrol cara memasaknya. ‘’Untuk teknis pembinaan kesehatan segera disiapkan,’’ sambungnya.
Diakui Mistin, selama ini tidak pernah mendengar adanya kasus kesehatan tertentu di Batu karena cilok. Karena itu sebelum muncul masalah serius, sebaiknya dilakukan pembinaan.

Selain mendapat pembinaan, para pedagang cilok dilarang berdagang di lingkungan sekolah saat jam pelajaran berlangsung. Mereka hanya boleh berdagang pada saat sebelum dan setelah jam sekolah serta saat jam istirahat.

Khusus tempat berdagang juga diatur. Yakni tidak boleh menjajakan jualan di tepi jalan karena membahayakan keselamatan siswa. Begitu juga ketentuan tidak boleh membuang sampah disekitar tempat berdagang harus dipatuhi.

Sementara itu dalam rapat kemarin, sempat terungkap kekhawatiran cara menyajikan jualan yang tidak sehat. Yakni cilok yang tak terjual sehari sebelumnya dikhawatirkan akan dijual lagi pada keesokan harinya.

Secara terpisah, pedagang cilok berharap pembinaan dari Pemkot Batu segera direalisasi. Sebab dagangan yang sehat justru semakin menguntungkan mereka. ‘’Belum diteliti saja sudah laris, kalau kesehatannya diteliti, ada yang ngawasi, pasti semakin laris,’’ kata Purnadi, salah seorang pedagang cilok yang ditemui di Junrejo.

Dia mengakui menjual cilok tidak berdasarkan panduan kesehatan. ‘’Dulu orang tua jualan begini. Sekarang saya yang melanjutkan, ya belajarnya dari orang tua,’’ katanya sembari menegaskan tidak pernah menjual lagi dagangan yang tak laku sehari sebelumnya.

Sementara di Kota Malang sendiri, mengkonsumsi cilok dianggap biasa-biasa saja dan belum pada taraf mengkhawatirkan. Jajanan berupa penthol daging dengan bentuk lumayan kecil yang sering dilengkapi dengan tahu, gorengan ataupun berbagai olahan yang sering ada di dalam menu bakwan Malang, namun dalam bentuk yang lebih kecil, tetap dapat berjualan terutama di halaman sekolah SD hingga SLTA.

Humas Kota Malang, Subkhan mengatakan, hingga saat ini belum ada sinyal negatif yang perlu dikhawatirkan dari praktek para pedagang cilok yang banyak mengambil tempat strategis di lingkungan sekolah.

Menurut Subkhan, sekolah di Malang banyak menerapkan kantin sehat UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) sebagai tempat jajanan siswanya yang terjaga kesehatannya.

‘’Kantin sehat UKS hampir ada di setiap sekolahan. Dengan kantin itu, saya kira pihak sekolah sudah bisa menerapkan standart makanan yang sehat untuk dikonsumsi oleh siswanya dalam lingkungan sekolah,’’ kata Subkhan di kantornya kemarin.

Sehingga Pemkot Malang, dalam hal ini Dinkes belum turun untuk memeriksa kelayakan cilok yang dijual, apakah mengandung zat yang membahayakan atau tidak.

Terkait dengan kemungkinan itu, Subkhan berpendapat pedagang di Malang tidak akan sembrono mencampur zat yang berbahaya dalam barang dagangannya.

Sebab warga Malang yang kritis pasti akan menjauhi produk mereka dengan sendirinya. ‘’Kan mereka juga berkompetisi dengan berbagai makanan lain. Warga Malang meski konsumtif tapi juga pintar dan berhati-hati. Jika mereka memakai zat yang berbahaya pasti akan berimbas pada tidak lakunya produk mereka,’’ ujar Subkhan yakin. (pit/van/avi/malangpost)

Keywords: , , , , ,

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar