Home » Musik

Terinspirasi dan Mengekor Slank

25 Maret 2009 No Comment

Terlahir karena inspirasi dari lagu-lagunya Slank, grup band Brengsek mengaku begitu getol berkarya seirama dengan musiknya Slank. Bahkan, dengan terang-terangan mereka mengakui lagu mereka memang setipe dengan Slank. Bahkan band yang lahir pada tahun 2005 ini dengan bangga menyatakan, karena Slank mereka ada.

Awal tahun 2005 merupakan kilas balik bagi grup band Brengsek untuk memulai karirnya sebagai pemain musik. Saat itu, hampir semua punggawa Brengsek tergila-gila dengan aliran dan teman musik yang diusung grup musik Slank.

Lagu-lagu milik Slank seperti Juwita Malam, Virus, atau Mawar Merah mampu membius semua personel Brengsek. Mereka adalah Yayok pada Drum, Wiwid pada Bass, Heri pada Rhtym Gitar, Keceng pada Lead Gitar dan DD pada Vokal.

Keceng sesumbar, Brengsek bisa memainkan seluruh lagu Slank bahkan sama baiknya dengan Slank. ”Slank adalah band besar dan Brengsek adalah generasi berikutnya. Kami ada dalam artian meneruskan konsep rock n roll dan bukan meniru lagunya,” ucap Keceng dengan nada suara yakin.

Musik rock n roll yang diusung Slank menurut Keceng berbeda dengan rock n roll asal Amerika yang dianggap sebagai negara asal aliran ini. ”Rock n roll ini kan intinya permainan dominan pada Gitar dan Rhythm, aslinya memang kadang ada Saxophone atau Keyboardnya juga. Tapi kami cukup seperti Slank saja. Yang penting semangat rock n roll yang selalu ceria ada di setiap lagu,” beber Keceng ditanggapi anggukan setuju oleh Yayok sang Drumer.

Setelah berjalan setahun usai terbentuk, album Brengsek yang pertama berisi 10 lagu akhirnya keluar. Awalnya Brengsek merekam 16 lagu dalam album yang bertajuk No Mixing. Namun karena pertimbangan teknis, hanya 10 lagu yang terekam dalam CD yang dirilis secara Indie.

Seperti dengan nama albumnya, No Mixing berarti seluruh lagu direkam tanpa ada sentuhan editing sedikitpun. ” Karena tanpa mixing itu musik terdengar aslinya dan tanpa polesan apapun. Jika kurang ya kurang jika salah ya salah,” beber Yayok.

Sikap tersebut bukan tanpa pertimbangan. Sebab dengan rekaman ala kadarnya, Brengsek menganggap mereka telah membuktikan sebuah keberanian untuk unjuk kemampuan musikalitas tanpa sentuhan mixing sedikitpun. (pit/eno)

Apa Arti Sebuah Nama

Frasa itu sepertinya cocok untuk menggambarkan kelompok musik anak muda ini. Tetapi jika nama yang dipilih ternyata berarti berkonotasi negatif, bukan mustahil jika nama yang disandang malah menghadirkan cercaan. Seperti yang dialami oleh Band Brengsek yang dengan suka rela menamakan diri mereka dengan nama yang bermakna negatif.

Banyak cercaan dan cibiran meskipun bergaya lelucon diarahkan pada lima orang personel yang sedikit jarang terdengar sepak terjangnya di Kota Malang ini. Nama Brengsek pun diambil diantaranya karena cercaan Brengsek yang sering dialamatkan banyak orang pada mereka.

”Karena kita sering dianggap Brengsek. Padahal siapa sih yang mau dianggap Brengsek, jadi jangan gampang ngatain orang Brengsek jika tidak mau dianggap Brengsek,” kata Keceng yang memang terdengar sangat ambigu.

Yayok menjelaskan, inti dari nama Brengsek yang memang negatif karena mereka ingin bercermin dari diri sendiri. ”Kami adalah lima pribadi yang suka musik. Masalah Brengsek atau tidak secara pribadi itu normative. Tapi setidaknya dengan nama Brengsek kami bisa bercermin kepada diri sendiri sebelum menunjukkan jari ke arah orang lain dan menilai mereka lebih Brengsek daripada kita,” papar Drumer ber potongan plontos ini.

Selama empat tahun terakhir, Brengsek membuktikan mereka tidak brengsek-brengsek amat dalam hal musikalitas. Pada sebuah festival indie yang digelar sebuah indie label record company, Brengsek terpilih sebagai Band dengan The Best Performance dengan ganjaran berhak membuat Video Clip dari satu lagunya yang akan masuk dalam album kompilasi milik Indie Record tersebut yang bertajuk Only Cross Free Limited Lable, di tahun 2006 lalu. (pit/eno)

Album Kedua Menyusul

Tidak ingin terlena dalam kevakuman, Brengsek berencana akan merilis album kedua yang berisi sekitar 10 lagu di pertengahan tahun 2009 ini. Lagu yang tetap bernafaskan Slank itu kini sedang dalam proses pengumpulan materi. Pada album kedua, Brengsek tetap akan menyuarakan lagu-lagu mereka dengan tema percintaan yang tidak terlalu mellow, sedikit protes, tentang kehidupan secara sederhana, dan tentang mimpi yang tidak muluk-muluk.

Yayok mengaku, pada album kedua ini mereka kembali menggandeng Indie Label di Malang sebagai produser untuk kelahiran jabang bayi mereka yang kedua. Rencananya di album ini, Brengsek akan memasarkan album tidak hanya di Malang tetapi juga di seluruh Jawa.

Wilayah yang relatif luas untuk ukuran Band yang baru berdiri dalam hitungan jari. ”Semangat tidak harus dinilai dengan lamanya jam terbang. Kami tidak butuh jam terbang puluhan tahun untuk merilis album dan menyebarkan ke luar Malang. Kami percaya kualitas kami bisa diadu,” tegas Yayok.

Apakah anti mixing lagi? Kali ini kedua personel Brengsek kompak tertawa. Mereka mengaku album yang kedua akan dipersiapkan dengan lebih baik secara kwalitas rekaman dan permainan musik. Dari 10 lagu yang ada, menurut Keceng beberapa kan ditampilkan secara akustik yang tanpa mixing, sedangkan yang lainnya tetap mengalami proses mixing dan editing karena konsep lagunya adalah Full Band.(pit/eno/malangpost)

Keywords: , ,

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.