Bantengan Marakkan Batu
Bantengan Nuswantara yang digelar, Minggu (8/3) kemarin menyulap Kota Batu jadi Kota Bantengan. Ratusan pegiat seni bantengan yang berasal dari 163 kelompok bantengan tumpah ruah dengan berbagai atraksinya di sepanjang jalan protokol Kota Batu.
Berbagai atraksi bantengan, seperti menyeruduk, badan dicambuk hingga berbagai atraksi lainnya ditunjukan sejak dari lokasi strat parade bantengan di luar Stadion Brantas. Aneka atraksi itu ditunjukan sepanjang route parade yang melintas Jalan Agus Salim, Jalan Gajahmada hingga Jalan Panglima Sudirman.

Peserta Bantengan Nuswantara berdatangan ke Kota Batu, kemarin. (vandri van battu)
Disepanjang jalan utama tersebut, puluhan ribu warga memadati menyaksikan parade budaya yang digelar kedua kalinya itu. Wistawan lokal dan sejumlah wisatawan asing pun tak ketinggalan menyaksikan Bantengan Nuswantara.
Arif Syahfudin, salah seorang panitia Bantengan Nuswantara mengatakan, 163 kelompok bantengan berasal dari berbagai wilayah di Malang Raya. Bahkan ada yang berasal dari Mojokerto.
“Jumlah peserta tahun ini lebih banyak dari tahun lalu. Ini menunjukan animo pegiat seniman bantengan dan masyarakat semakin tinggi,” kata Syahfudin. Untuk diketahui, saat kegiatan ini digelar pertama kalinya tahun lalu, diikuti 70 kelompok bantengan.
Kadis Parwisata dan Kebudayaan, Syamsul Huda mengatakan, Bantengan Nuswantara merupakan kegiatan yang digelar masyarakat. Karena sudah dua kali even budaya itu digelar, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mempertimbangkan untuk menjadi agenda wisata tahunan.
“Kami akan mengkaji kemungkinan Bantengan Nuswantara menjadi agenda tahunan wisata,” terang Syamsul.
Untuk diketahui, Bantengan Nuswantara digagas Geng Bantengan Batu. Kelompok ini dipimpin Agus Riyanto yang juga menjadi ketua panitia Bantengan Nuswantara 2009.
Ketua DPRD Kota Batu H Mashuri Abdul Rochim SH MM yang ikut berjalan kaki bersama para seniman bantengan saat parade mengatakan, kegiatan ini digagas seniman untuk seniman dan masyarakat umum.
“Kegiatan ini menghibur masyarakat secara gratis. Semua bisa menyaksikan tanpa dipungut biaya. Bisa dilihat banyaknya warga yang menonton,” katanya. (van/jon) (Vandri/malangpost)
Keywords: bantengan, budaya, info-wisata-malang, kesenian, tradisi- Berita Lainnya :
- Dukung FFI, PHRI Diskon Tarif Hotel 50%
- Potensi Wisata Pemandian Sumberringin di Tumpang
- Baru Dilantik, 12 Anggota Dewan Gadaikan SK
- Dispartabud Pastikan FFI di Batu Digelar 6 Desember
- Realisasi PJU 2009 Baru Bisa 10 Desa
- Tingkatkan Kualitas Lingkungan dengan Tanaman Tegakan
- Warga Temas Terbelah Sikapi Sumur Museum Satwa

















Luar biasa.. Untuk yang kedua kalinya digelar, dua kali pula diguyur ujan ketika acara berlangsung. kalo yang pertama di akhir acara, sekarang di awal acara ujan deres ampa banjir depan PemKot. Tp saya liat di Tribun Penghormatan kok ga ada Pejabat Teras Kota Batu.
Apalagi dari Malang atau Mojokerto, mustinya keterwakilan 3 daerah tersebut (Malang Kota&KAbupaten, Kota Batu dan Mojokerto yang notaben basis berkembangnya kesenian Bantengan) haruslah apresiatif.
Keterwakilan Birokrasi hanya ada SetDa Sundjojo, KadinParBud Kota Batu Syamsul Huda dan Kasie nya.
Padahal kegiatan besar semacam itu sangat memberikan dampak psikologis yang sangat besar lho.
Secara Psikologis Massa, Peserta dan Penonton sangat terhibur dan puas dengan prosesi acaranya. Disisi lain, secara ekonomi perputaran uang yang terjadi di kegiatan kemarin sangat luar biasa juga.
Coba hitung berapa banyak rombongan pedagang kaki lima dan PKL dadakan yang mengais rejeki dari dampak positif kegiatan kemarin.
Benar benar luar biasa… Salut deh
Btw, kemarin tu kegiatannya Komunitas apa Kegiatannya Pemkot Batu ya…?
Leave your response!