Distro Tetap Eksis di Tengah Krisis
Sebanyak kurang lebih 40 label khas distribution outlet (Distro) and Clothing dipamerkan di ajang Bazar Distro and Clothing di DOME Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Beragam produk kreatif itu merupakan hasil karya pebisnis muda yang mencoba membentuk komunitas sendiri sebagai seorang pebisnis.
Menurut Koordinator Lapangan Ego Production, Bondan Arimurti, bazar yang digelar sejak kemarin hingga 8 Maret ini, tak hanya bertujuan untuk meraup omzet tapi juga sebagai ajang penyamaan visi dan misi para pelaku bisnisnya.
“Selama ini bisnis Distro cenderung egois, dimana masing-masing pebisnis menjalankan bisnis sendiri-sendiri. Karena itu melalui ajang ini kami mencoba menyamakan visi mereka untuk bisa bersaing secara sehat dan terus menciptakan produk kreatif yang dibutuhkan pasar,†ungkapnya.
Ajang pamer produk ini diikuti oleh beberapa distro terkenal dari berbagai kota, ada Yogyakarta, Jakarta, Malang, Surabaya dan Bandung. Beberapa merek yang ditampilkan seperti Chisel, Barbel, Premium Nation, Noin Brand, Inspired dan Realizm. Pameran ini adalah rangkaian tour mereka di delapan kota. Malang adalah kota ketiga setelah pameran di Purwokerto, dan Palembang. Tujuan berikutnya adalah kota Yogya, Salatiga, Semarang, Bandung dan Denpasar.
Sementara itu Store Manager Noin Brand dari Jakarta, Prabu, menuturkan industri bisnis Distro terus tumbuh dengan pesat. Alasannya sederhana, sampai kapanpun bisnis baju akan terus tumbuh karena kebutuhan. Bahkan sehebat apapun teknologi, baju tidak akan pernah ditinggalkan. Karena itu tantangan pebisnisnya adalah tetap kreatif sehingga bisa memuaskan keinginan pasar.
“Trend tetap harus diikuti untuk memuaskan pasar, walaupun sebenarnya trend itu berputar saja. Cardigan yang tahun 70 an yang dulu dipakai nenek saya, kini ngetrend lagi. Dan itu harus diikuti,†ungkapnya.
Distro diakuinya sebagai salah satu usaha yang tetap tumbuh di tengah krisis sebagai usaha kreatif. Pertumbuhan jumlah distro di setiap kota menunjukkan grafik yang cukup bagus. Kondisi perekonomian yang melemah belakangan ini tidak membuat perkembangan distro tersendat. Bahkan jumlahnya semakin banyak. Sebuah distro dapat memproduksi 5000-10.000 kaus setiap bulan. Sekitar 5 persen dari kaus yang diproduksi distro itu dikirim ke luar negeri dengan nilai Rp 25 juta hingga Rp 35 juta per bulan.
Sebenarnya terdapat dua macam usaha tersebut, yaitu distro dan clothing. Distro merupakan toko yang menjual produk mode bermerek independen. Adapun clothing adalah usaha yang hanya mengeluarkan produk-produk bermerek tersebut.
Sementara itu salah satu Distro asal Malang Revolver, dalam pameran kemarin menampilkan beberapa produk andalan mereka. Salah satunya celana kempol pendek yang sedang in. Celana ini sederhana saja hanya didesain dengan tambahan saku besar sebagai pemanisnya.
“Pangsa pasar kami fokus pada anak muda, jadi kami hadirkan produk yang sesuai dengan selera anak muda,†ungkap karyawan Revolver, Bagus Bahtiar. (oci/han)
(Lailatul Rosida/malangpost)
- Berita Lainnya :
- Open Casting Presenter, Uji Talenta Membawa Berita
- Kompas Gramedia Fair, Turut Cerdaskan Bangsa
- Bintang Bimasakti Pulang Kampung Sebelum Ikuti Seleknas
- Tingkat Kelulusan SMA tak Masuk 10 Besar
- Tak Hanya Manusia, Hewan juga Periksa Kesehatan
- Kredit Perbankan Rp 50 Miliar, salurkan ke 531 UMKM
- TPS Unik Berbahan Daur Ulang
















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar