Home » Jatim, Kabupaten Malang

Evi Yulia: ‘Suami Saya Dikorbankan’

19 Februari 2009 No Comment

Penggerebekan pabrik sabu-sabu di Jalan Cucak Rawun II, langsung mencuatkan dua nama Dedy Syarifudin dan Nugroho Dewanto. Padahal, keduanya dikenal sangat baik terhadap warga sekitar. Terutama Nugroho, yang menurut keluarganya tidak pernah beruat neko-neko. Lantas bagaimana pandangan sang istri? Berikut cuplikan wawancara dengan Evi Yulia.

Evi Yulia, 34, istri Nugroho Dewanto yang di duga membantu Dedy Sarifudin mengelola pabrik sabu-sabu (SS) (dok. malangpost)

Evi Yulia, 34, istri Nugroho Dewanto yang di duga membantu Dedy Sarifudin mengelola pabrik sabu-sabu (SS) (dok. malangpost)


Sudah lima hari suami anda diamankan di Polda Jatim, dengan tuduhan terlibat dalam kasus peredaran narkoba. Bagaimana menurut anda?
Sebetulnya dari awal saya tidak percaya, jika Nugroho terlibat dalam kasus ini. Saya mengenalnya dan tidak pernah melihat dia neko-neko. Jangankan terlibat narkoba, merokok saja dia tidak pernah. Suami saya hanya sebagai orang yang dimanfaatkan dan akhirnya dikorbankan dalam penangkapan ini.

Tapi menurut pengakuan Dedy, sirkulasi keuangan diatur oleh Nugroho!
Ya. Soal rekening itu memang tidak bisa dipungkiri, Dedy menggunakan rekening suami saya untuk keperluan pribadinya, lantaran dia sudah di black list oleh bank karena kasus kredit macet. Dedy menerima transfer uang dari Gogom (saat ini DPO) melalui rekening itu. Saat pinjam rekening tersebut, Dedy mengaku jika dia menerima transfer dari salah satu nasabah asuransinya. Karena saat itu Dedy mengaku bekerja di salah satu perusahaan asuransi.

Keterlibatan Nugroho dalam jaringan SS ini juga dibuktikan dengan beberapa kali Nugroho mengantarkan Dedy saat mendatangi rumah teman-teman Dedy. Menurut Anda?
Antara Dedy dan suami saya hubungannya memang dekat. Keduanya saudara sepupu. Ibu kandung Dedy adalah adik kandung ayah suami saya. Saat Dedy pindah ke Malang satu bulan lalu, keluarga paling dekat rumahnya adalah kami. Bahkan kami yang mencarikan kontrakan buat Dedy, juga sekolah anak-anaknya. Pernah beberapa kali Nugoroho diminta untuk menjadi sopirnya saat pulang ke Pandaan. Tapi bukan setiap hari.

Lalu apa pekerjaan Nugroho?
Sopir. Suami saya adalah sopir pribadi pengusaha alat-alat berat bernama Baban. Baban juga sering tinggal di rumah kami. Tapi semuanya tidak gratis. Baban membayar untuk sewa mobil dan keperluan sehari-hari. Setiap bulan, Baban membayar kami antara Rp 6 – 7 juta. Dari uang itu, kemudian sebagian dibayarkan suami saya untuk sewa mobil. Jadi bersih dalam satu bulan, suami saya menerima sekitar Rp 2 juta.

Lantas bagaimana cerita keterlibatan Nugroho saat menghilangkan barang bukti?
Saya bukan membela suami, tapi saya ingin mengatakan yang sebenarnya. Suami saya tidak akan mengambil barang-barang di kontrakan Dedy (Pabrik SS di Jalan Cucak Rawun II, Red.) jika tidak ditelepon Ary Yuninda (istri Dedy, Red.). Saat itu (Kamis) pukul 21.30, suami saya ditelpon Ary.
Mendengar nadanya, Ary sangat panik. Dia minta suami saya membersihkan barang-barang yang berada di ruang paling belakang rumahnya. Saat itu suami saya sempat menolak, tapi oleh Ary dipaksa.
Selanjutnya barang-barang tersebut semuanya dimasukkan tas. Sampai bersih, suami saya sampai balik tiga kali. Begitu dalam perjalanan pulang untuk ketigakalinya, Ary kembali telepon, agar suami saya mengembalikan barang-barang tersebut, karena Dedy mengakui kepemilikan alat produksi SS tersebut. Itu yang saya ketahui. Saya tetap tidak percaya suami saya terlibat. Suami saya tidak mungkin menyakiti orang tua, keluarga, istri dan anaknya.

Anda juga mendengar kalau Ary menghilang?
Saya tidak tahu apakah dia menghilang atau tidak. Yang jelas, menurut keluarganya Ary tidak ditemukan. Baik di Pandaan, maupun di Bangil. Dua HP miliknya juga tidak bisa dihubungi.

Kalau nantinya anda dibidik sebagai tersangka?
Saya tidak takut. Jika nantinya saya dipanggil, saya pasti datang dan akan saya jelaskan semuanya. Kalaupun saya dijadikan tersangka, saya terima. Tapi yang jelas, saya akan membela mati-matian suami saya. Dia bukan orang yang seperti diberitakan. Dia bukan pengedar, dia bukan pemakai, atau dia juga tidak masuk dalam jaringan peredaran SS baik di Malang, Surabaya, ataupun di tempat lainnya.

Bagaimana kondisi anda Setelah Nugroho ditangkap?
Jelas sulit bagi kami, terutama Dava, anak kami satu-satunya. Dia terus mengigau memanggil nama ayahnya. Kami tidak pernah berpisah sebelumnya. Tidak pernah. Saya dan Mas Nugroho telah menikah 13 tahun, meskipun pernikahan resmi baru kami jalani sembilan tahun terakhir. Rencanannya bulan depan ini, kami akan melakukan bulan madu ke dua, rencanannya akan pergi ke Jogja, dengan mengajak Dava. Tapi mungkin memang Tuhan belum mengizinkan. (Ira Ravika) (ira ravika/malangpost)

Keywords: ,

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.