Home » Malang Raya

Ovan Tobing, Master of Ceremony (MC) Spesialis Peredam Kerusuhan

9 Februari 2009 No Comment

Dunia MC sudah digeluti Ovan Tobing atau yang akrab dipanggil OT sejak muda. Suaranya yang keras dan menggelegar merupakan ciri khasnya kala memulai karirnya menjadi MC sekitar 1980-an lalu. Karakter suaranya itulah yang kemudian dimanfaatkannya untuk meredam kerusuhan di acara-acara yang banyak mengundang massa.

Di usianya yang sudah setengah abad lebih, OT membiarkan rambutnya yang memutih tetap gondrong. Baginya, rambut gondrong sebahu merupakan trade mark-nya. Beberapa tahun yang lalu, dia sempat mencukur pendek rambutnya karena ingin merasakan sesuatu yang beda. Namun, dia malah mendapatkan protes dari teman-temannya.

Ovan Tobing, sebagai MC sekaligus pembakar semangan Arema dan Aremania  (dok. ongisnade.net)

Ovan Tobing, sebagai MC sekaligus pembakar semangan Arema dan Aremania (dok. ongisnade.net)


Penampilannya yang santai diperkuat dengan gelang berbentuk rantai yang cukup besar dari perak. Aksesoris itu menghiasi pergelangan kedua tangannya yang berkulit kuning langsat. Gaya bicaranya ceplas-ceplos. Tak ada yang dirahasiakan, kecuali usia dia yang sebenarnya dan nama aslinya.

Kelahirannya 22 Januari, namun OT enggan membeberkan tahunnya. “Yok opo kabare, ayo mlebu (Bagaimana kabarnya, ayo masuk),” kata OT, saat ditemui di kantornya di Radio Senaputra yang terletak di Jl Belakang Rumah Sakit.

Kendati menyapa dengan cukup santun dan pelan, namun karakter suaranya sangat terasa. Di stasiun radio yang didirikan 1968 tersebut, OT memang sudah menjadi penyiar. Karirnya menjadi penyiar di Senaputra dimulai sekitar 1975-an.

Saat ini di Senaputra, suaranya mengudara setiap Senin hingga Jumat pada pukul 08.00 hingga 11.00 dalam acara bertitel Ngledom. Suaranya juga bisa dinikmati pada Rabu pukul 17.00 hingga 20.00 dalam acara musik rock. Malam harinya mulai pukul 22.00 hingga 24.00, OT membawakan acara musik blues. Dan pada Jumat, pukul 22.00 hingga 24.00 di acara musium (musik ora umum).

Berbekal menjadi penyiar itulah, suami dari Sri Cahyawati tersebut akhirnya menerjuni dunia MC. Pertama kali menjadi MC sekitar 1980-an saat God Bless manggung di GOR Pulosari (kini berubah menjadi Giant Supermarket) di Jl Kawi. Tapi, saat itu dia bukanlah MC resmi. Karena dirinya memang tak diundang panitia. Statusnya dalam konser itu hanyalah sebatas sebagai penonton.

Namun, di pertengahan konser, tejadi sebuah keributan yang cukup besar. Karena tak tahan dengan adanya keributan itu, OT lalu memutuskan untuk naik panggung meredam kerusuhan. “Saya ingat, saat itu tak ada microphone di tangan saya. Tapi, saya berusaha bersuara sekeras mungkin untuk meredam dan akhirnya berhasil,” jelasnya.

Dari Pulosari itulah akhirnya namanya secara perlahan naik ke jajaran papan atas MC di Indonesia. Untuk konser musik grup band asal Indonesia, hampir semuanya sudah pernah dipimpinnya. Mulai dari Slank, Dewa, Peterpan, Jamrud, Power Metal, hingga konser musik dangdut seperti Elvi Sukaesih.

Untuk grup musik luar negeri, dia pernah menjadi MC konser Metallica, Sepultura, Helloween, Skid Row, White Lion, dan Europe. “Hampir di semua konser pasti ada keributan. Entah itu konser rock, pop, ataupun dangdut. Itu menjadi tantangan bagi saya untuk meredamnya,” ucap bapak dua putra tersebut sambil menghisap rokok.

Kendati MC dan penyiar merupakan profesi yang sama-sama mengandalkan kualitas suara, namun OT tak mau meninggalkan kebiasaan merokok. Dua bungkus rokok dengan merk berbeda dihisapnya secara bergantian saat berbicara. Selama ini, papar dia, kebiasaan merokok tak mengubah kualitas suaranya. Sebab, setiap hari dia mengimbanginya dengan banyak minum air putih dan berolahraga.

Konser musik yang pernah ditanganinya dan menurutnya paling rusuh adalah saat Jamrud manggung di Bekasi sekitar 2004 lalu. Di konser itu terdapat dua kubu penonton yang saling melempar bambu runcing. Puluhan atau bahkan ratusan penonton menjadi korban. Bahkan, aparat keamanan tak juga banyak yang menjadi korban.

Saat itu yang ada di benaknya langsung ingat kepada Tuhan. Setelah itu, dirinya berbicara dengan nada keras, namun dengan bahasa yang santun. Intonasi yang digunakan naik turun. Ini dilakukan agar emosi penonton tersentuh dan tidak menjadi bertambah beringas.

Prinsip yang dimilikinya, seberingas apapun manusia, dia tetap manusia. Pasti bisa diajak bicara dengan gaya manusia. Gaya yang saling menghormati. “Bekasi bukan tempat orang-orang kampungan. Jarak Jakarta-Bekasi sangat dekat. Apa Bekasi kampungan? Apa orang Bekasi akan meniru orang kampungan? Jika tak kampungan, taruh bambu kalian di tengah! Tepuk tangan bagi orang Bekasi,” ucap OT mempraktikkan saat dia menjadi MC kala itu.

Selain gaya bicara yang keras, menggelegar, dan mengaduk-ngaduk emosi massa, sebelum memulai pekerjaannya, biasanya dia mempelajari lingkungan sekitar. Misalnya, mencari tahu kebiasaan masyarakat sekitar, kesenangannya, termasuk juga mencari tokoh-tokoh yang dihormati atau orang-orang yang suka menjadi provokator.

Pendukung Arema dan Penyiar Radio Senaputra Malang dari 1975 sampai sekarang. Foto diambil tahun 1979. (dok. Hengkicitra/flickr)

Pendukung Arema dan Penyiar Radio Senaputra Malang dari 1975 sampai sekarang. Foto diambil tahun 1979. (dok. Hengkicitra/flickr)

Setelah mengetahui karakter suatu daerah, dia biasanya langsung menemukan cara untuk meredam emosi bila ada kerusuhan. Termasuk juga mengajak bicara orang-orang yang suka membikin keributan. “Biasanya saya meminta kepada panitia agar-agar orang yang jadi provokator atau yang disegani dijadikan pengamanan. Cara ini cukup efektif,” lanjut pria yang tinggal di Jl Junggo 6 tersebut.

Tak hanya konser musik, dia juga kerap menjadi langganan MC supermotor cross internasional, pengantin, hari ulang tahun, hingga menjadi MC Arema. OT menjadi MC Arema sejak tim berlogo kepala singa ini berdiri pada 11 Agustus 1987.

Secara tak langsung, gaya bicaranya yang khas ini mampu membangkitkan semangat pemain, termasuk juga suporter dalam memberikan dukungan kepada tim. Sehingga akhirnya Aremania menjadi pelopor suporter teladan di kancah sepak bola Indonesia. Sebelum di Arema, dia juga sempat menjadi MC Persema mulai pertengahan 1980-an.

Dalam empat tahun terakhir, pria yang pernah menjadi Manajer Arema dan Asisten Manajer Persik Kediri itu sudah pensiun menjadi MC Arema. Perannya sudah digantikan orang lain. Gaya MC yang satu ini sepertinya juga meniru gaya bicara OT.

Pria keturunan batak tersebut terlihat memegang microphone di Stadion Kanjuruhan pada 13 September 2008 lalu. Saat itu terjadi keributan setelah Arema dikalahkan PKT Bontang 1-2. “Saya langsung menyambar mic karena saya tak ingin kerusuhan terus membesar. Waktu itu saya sebenarnya menjadi penonton. Ketika mengetahui ada kerusuhan, saya langsung berlari,” terang dia.

Hasilnya cukup efektif. Dengan suara khasnya, amuk massa secara perlahan berhenti. Pada saat menjadi Manajer Arema, dia juga menggunakan suaranya yang menggelegar untuk memotivasi pemain. Hasilnya, pada 1992 Arema menjadi juara. Sedangkan pada saat menjadi manajer pada 2004 lalu, Arema bisa kembali lagi ke divisi utama, setelah sebelumnya terlempar ke divisi I.

LAZUARDI FIRDAUS
(*/ziz/radarmalang)

Keywords: , , ,

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.