Home » Kabupaten Malang

Terbaik Tangani HIV/AIDS

6 Februari 2009 No Comment

Predikat ‘sarang‘ HIV/AID yang diberikan kepada Kabupaten Malang tidak lantas membuat Badan Narkotika Kabupaten (BNK) berkecil hati. Bahlkan, kini kabupaten berpenduduk 2,5 juta ini menjadi wilayah terbaik yang mampu mencegah berkembangnya penyakit mematikan itu.

Terbuti, setiap bulan tak kurang dari dua kabupaten dan kota di Tanah Air aktif melakukan studi banding tata cara mencegah berkembang biaknya HIV/AIDS. Bahkan, Direktur Family Health Internasional (FHI) untuk Indonesia Robert Magnani bersama dengan tiga rekannya secara khusus megunjungi Lokalisasi Suko, keamrin. Lokalisasi Soko adalah pusat rehabilitasi penyadang HIV/AIDS.

“Kami kesini untuk melihat cara penanganannya, untuk selanjutnya kami tularkan di daerah lain,” kata Magnani.

Menurut dia, cara penanganan yang mendapat dukungan dari semua pihak mulai agamawan, eksekutif, legislatif, yudikatif dan masyarakat sekitar tidak pernah ditemui sebelumnya di tempat lain.

Data di Dinas Kesehatan, menyebutkan jumlah penderita HIV/Aids di Kabupaten Malang sejak tahun 1991 tercatat 298 orang. Tapi, sejak 2005 lalu tingkat penularan dan jumlah penderitanya mulai berkurang. Sepanjang kurun waktu itu hanya tercatat 78 orang, sementara yang meninggal sebanyak 16 orang. Tahun 2007 tinggal 57 orang dan korban meninggal dunia sebanyak 19 orang. Sedangkan tahun lalu naik meninggak 86 orang, dengan korban meninggal 12 orang.

Kepala Dinas Kesehatan, Agus Wahyu Arifin, mengatakan semua biaya pengobatan ODH dibiayai oleh APBD. “Jadi, anti retriforal (ARV) sebuah vaksin penambah kekebalan tubuh disiapkan oleh Pemkab yang disalurkan lewat puskesmas yang ditunjuk,” papar Agus.

Karena, imbuh dia, penderita ODH tidak bisa diobati tapi hanya bisa dihambat berkembang biaknya virus yang siap melumatkan kekebalan tubuh.
Sementara, penyebab utama penularan penyakit mematikan ini, pertama karena jarum suntik narkoba 42 persen, kedua akibat berganti-ganti pasangan 37 persen. Seadangkan penderita HIV yang tertular akibat tato mencapai sekitar 10 persen lebih. (han/dutamasyarakat)

Keywords: ,

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar