Petani Kubis Menjerit, Harga Per Kilo Rp 500, Serangan Hama Menggila
Belum selesai masalah hama, petani kubis sudah didera kesulitan lain. Harga jual kubis mendadak anjlok menjadi Rp 400 sampai Rp 500 per kilogram. Akibatnya petani merugi hingga Rp 50 Juta untuk sekali musim tanam. Sudah begitu, serangan hama lebih besar lagi sudah menunggu di bulan Maret mendatang.
Harga jual kubis turun drastis sejak awal Januari. Bila bulan Desember lalu harga jual kubis per kilo sekitar Rp 1500 per Kg, sekarang turun menjadi Rp 400 sampai Rp 500 per Kg.
Adi Gunawan, petani kubis di Dusun Junggo, Sumberbrantas, mengatakan, akibat jatuhnya harga jual kubis, dia mengalami kerugian sekitar Rp 5 Juta setiap hektare lahan pertanian kubis.

(foto:kafesantai.com)
Adi memiliki 10 hektare lahan kubis. Bila ditotal jumlah kerugian setiap hektarnya Rp 5 Juta, maka dia mengalami kerugian hingga Rp 50 Juta untuk sekali musim tanam. Kerugian ini tidak dialami Adi Sendiri. “Ada sekitar 100 petani kubis yang mengalami kerugian seperti yang saya alami,” ujarnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, kerugian yang diderita petani karena harga jual kubis menurun. Sementara biaya produsksi tetap, bahkan cendrung meningkat. Untuk 1 hektar lahan pertanian kubis saja, dia harus mengeluarkan ongkos sekitar Rp 10 Juta sampai 12 Juta.
“Biaya itu untuk membeli pupuk, sewa buruh tani dan perawatan tanaman,” jelas dia.
Penurunan harga jual kubis yang sangat rendah ini memang sangat memukul petani di Batu. Sebab bila harga kubis dijual Rp 1000 per Kg saja, petani bisa mendapat keuntungan sekitar Rp 30 Juta.
Jatuhnya harga jual kubis, kata Adi disebabkan karena banyaknya petani kubis. Sementara pasar untuk penjualan kubis tidak bertambah. “Jumlah petani yang menanam kubis semakin banyak. Sekarang di Pare, Kediri, Blitar juga menanam kubis,” kata warga Ngaglik, Batu ini.
Padahal sebelumnya sentra kubis hanya di tiga tempat saja. Yakni di Junggo, Pujon dan Jurang Kuali, Sumberbrantas. “Penurunan harga kubis bukan karena hama, tapi ya itu banyaknya petani yang tanam kubis,” tambah Adi Gunawan.
Sementara itu, hama ulat menyerang tanaman kubis milik petani. Di Junggo, ulat merusak akar, batang dan daun kubis. Misman, petani yang ditemui di Junggo, kemarin siang menunjukan tanaman kubis yang rusak akibat ulat. “Karena ulat menyerang akar, tanaman mati. Kalau menyerang daun, ya daunnya berlubang-lubang,” kata Misman sambil menujukan kubis yang mati.
Dikatakannya, ulat yang menyerang kubis saat ini belum seberapa, yakni hanya sekitar 5 persen dari 1 hektar lahan kubis. Saat Maret hingga April mendatang, kata Misman, ulat yang menyerang kubis akan lebih banyak lagi. “Karena musimnya pada Maret dan April,” kata dia.
Soal hama, Adi Gunawan melanjutkan, busuk daun merupakan jenis penyakit yang paling menyerang kubis. Ini disebabkan tingginya intensitasnya hujan, sementara pupuk yang biasa digunakan, Za dan SP sempat langkah.
Karena pupuk langkah, petani memilih menggunakan pupuk urea yang kandungan nitrogennya terlalu tinggi. Adi menduga, karena menggunakan pupuk urea inilah daun kubis menjadi busuk lantaran tingginya kandungan nitrogen. (van/eno) (vandri/malangpost)
Keywords: agribisnis, hortikultura, pertanian
















Leave your response!