Sengketa Wonorejo Belum Ada Penyelesaian
Hamparan hijau daun-daun teh milik Kebun Wonosari Kecamatan Lawang, tampak damai berselimut embun. Suasana penuh damai itu rupanya tak menular ke jengkal tanah Desa Wonorejo yang hanya berjarak setengah isapan satu batang rokok putih. Berlokasi persis dibawah areal Kebun Wonosari, lahan Boto Malang Desa Wonorejo telah dilanda konflik tanah sekitar tahun 2002 lalu.
Konflik memanas ketika tiga koordinator Kelompok Tani Rukun Makmur, dilaporkan Kodam V/Brawijaya ke Polres Malang atas tuduhan penyerobotan tanah.
Tiga koordinator itu Sadelan (53 tahun) selaku Ketua Poktan Rukun Makmur, Karno Sekretaris Poktan dan Ngadiono bendahara Poktan. Setelah menjalani sidang sekitar sembilan kali di PN Kepanjen, kasus itu kini seolah membeku.
Nun jauh di bawah Gunung Gebuk, Pedukuhan Gebuk Utara RT 3 RW 14, sekitar 250 KK Poktan Rukun Makmur hidup bahagia. Pedukuhan itu begitu sejahtera, tampak dari infrastuktur aspal yang mengalir hingga ke pedalaman. Lokasi Desa Wonorejo sendiri diapit oleh kompleks Pemakaman Cina yang lebih dikenal dengan sebutan Bong Sentong Raya.
Desa perbukitan tersebut, dihubungkan oleh satu jalur besar yang membujur naik ke arah Gunung Gebuk. Jalur itu seringkali dipakai para pendaki gunung saat hendak mencumbui Puncak Arjuna yang terlihat jauh seumpama titik biru di balik Gunung Gebuk.
Tergambar pula betapa subur lahan di areal desa itu, dipenuhi tumbuhan menghijau, dilindungi deretan teh dan pinus-pinus raksasa dari bagian atas perbukitan.
‘’Wah, dulu ya pernah ‘panas’, saat ini sengketanya membeku. Warga sudah menanam di atas lahan Boto Malang. Sampeyan datangi saja Pak Sadelan, dia itu tahu banyak,’’ ujar salah satu warga yang ditemui Malang Post.
Sedikit menyusur gang desa yang sempit ke jurusan barat, akhirnya rumah Ketua Poktan Rukun Makmur Sadelan tampak juga. Rumah Sadelan amat sederhana, berada di bawah bayangan Gunung Gebuk. Dengan cat luar warna krem, sementara ruang tamunya dipenuhi gambar tokoh Nahdatul Ulama, ada pula satu tulisan NU besar sebagai penanda identitas.
‘’Kami (anggota Poktan) yang berjumlah 250 KK memang telah menanam di lahan Boto Malang seluas 60 hektar. Nggak perlu surat-surat, yang penting bisa dapat hasil bumi, wong itu tanah negara bebas,’’ urai Sadelan dengan suara amat tegas.
Polos dan ceplas ceplos, pria yang sempat menyandang predikat penyerobot tanah itu menyambut Malang Post. Tanpa tedeng aling-aling, Sadelan mengatakan, warga tidak mengantongi acuan hukum. Dia menyerahkan sepenuhnya, soal surat kepada kuasa hukum Poktan, Sumardan SH dan Hari Suprianto.
‘’Podho karo rebutan balung tanpo isi. Semua rebut benar akhirnya nggak dapat apa-apa. Kodam V/Brawijaya juga nggak dapat kekuatan hukum, kami juga nggak dapat penguat hukum. Karena itu kami tetap menggarap lahan,’’ ujarnya saat ditanya perkembangan kasus sengketa itu.
Sadelan mengaku menggarap lahan Boto Malang seluas 2.000 m2, untuk ditanami Mawar, Jagung serta Sengon Basia. Dia sebagai representasi Poktan mengaku tidak akan mempermasalahkan tanah yang dipakai Kodam V Brawijaya. Asalkan Kodam tidak mengutik-utik tanah seluas 60 ha yang kini digarap warga.
‘’Di lahan itu dibangun peternakan AML (Arjuna Mulia Lestari), Peternakan Koperasi Kodam atau AML II serta ada pula Yayasan Kristen. IMB peternakan belum ada itu, biarkan asal tidak utak-atik tanah warga,’’ urainya mantap.
Usai berbincang, Malang Post menyusuri lahan Boto Malang yang berada di perbatasan Desa Tegalrejo - Desa Wonorejo. Penuturan Sadelan, lahan yang dikelola warga, berdiri diantara peternakan Patriot dan peternakan AML.
Memasuki kawasan itu, mau tak mau harus melewati peternakan Patriot terlebih dahulu. ‘’Lewat timur saja mas, nanti lewati makadam sekitar 1,5 km tembus ke Wonosari,’’ petunjuk salah satu warga.
Supaya tak perlu meminta izin, Malang Post memilih masuk lewat arah timur yang tidak melewati pos penjagaan. Setelah melewati jalur makadam sepanjang 200 meter yang diapit pohon randu tua, baru tembus ke areal peternakan. Begitu tiga kandang ayam sayur terlewati, perjalanan mulai memasuki jalur makadam yang sunyi.
Seperti penuturan Sadelan, di kanan kiri lahan memang tampak tanaman Mawar, Jagung dan Sengon. Puas menyusuri Makadam Boto Malang, akhirnya perjalanan sampai juga di Peternakan AML. Peternakan itu dipagari kawat yang memanjang hingga Kebun Teh Wonosari bagian barat, yang tentu saja sangat sunyi. (Bagus Ary Wicaksono)
(bagus ary/malangpost)
- Berita Lainnya :
- Kawanan Pelaku Pencurian, Satroni Toko Pertanian
- Guru Seni Budaya Kota Malang, Buat Karya Seni
- Perampok Bercadar Satroni Dua Sekolah
- Islamic Center, Aset tak Terawat
- Arema Harus Akhiri Paceklik
- Operasi Simpatik, Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Berlalu Lintas
- Bus Mini Jadikan Ruang Kerja Keliling
















Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik
Tinggalkan komentar