Djakimin, Legenda Seniman Topeng Malangan yang Kini Tergolek Lemah
Bebeda dengan Soetrisno, Djakimin memiliki kisah pengalaman lain soal kehidupannya sekarang. Pegiat seni padepokan Sri Margo Utomo yang berdiri sejak 1939 ini sangat kurang beruntung. Penderitaannya makin memprihatinkan akibat komplikasi darah tinggi yang dia derita sejak 15 tahun lalu.
Usia Mbah Min -sapaan akrab Djakimin- sudah sangat senja. Tepat 1 Januari nanti, usianya genap 86 tahun. Meski demikian, semangatnya untuk mempertahankan kesenian tari topeng Malangan tetap membara. Semangat itu dia tunjukkan kepada Radar yang siang kemarin berkunjung ke rumahnya di RT 08 RW 04, Dusun Glagahdowo, Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang.
Saat kain selendang cokelat muda sudah diselempangkan ke pundaknya oleh cucunya, Abdul Rochman, 33, Mbah Min lekas tanggap. Tanpa diperintah, pria dengan rambut yang sudah memutih ini lekas menari. Gerakan tariannya masih gemulai, layaknya penari wanita. Ujung jarinya melentik saat mengapit ujung kain selendang. Ketika memeragakan gerakan melepas kepitan ujung selendang ke belakang, tangannya yang sudah keriput itu cukup tangkas melakukannya. “Ayo Kiai (demikian Mbah Min disapa cucu-cucunya, Red), terus menari,” ujar Rochman memberikan semangat kepada sang kakek tercinta untuk terus unjuk kebolehan.
Mendapat support sang cucu, bapak tiga anak ini bukannya terus menari. Dia malah berhenti, lalu kedua bola matanya berkaca-kaca. Sejurus kemudian, buliran-buliran air mata itu keluar membasahi pelupuk mata dan pipinya. “Lho kok malah menangis. Maaf ya mungkin kakek teringat kala muda sebagai penari andal,” imbuh Rochman yang kesehariannya tinggal serumah dengan Mbah Min.
Melihat lemah gemulai gerakannya, Djakimin membuktikan bukanlah seniman anyaran. Pengalaman yang cukup lama di bidang seni sanggup mengantarkannya ke beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk menghadiri acara seminar tentang budaya daerah. Sebagai bukti, dia masih menyimpan sejumlah piagam penghargaan dari berbagai instansi pemerintahan dan perguruan tinggi. Misalnya hadir sebagai peserta seminar dan pagelaran wayang topeng Malang yang digelar Akademi Pariwisata Satya Widya Surabaya dan Museum Mpu Tantular (milik Pemprov Jatim) di Surabaya pada 4 Januari 1997 silam. Juga ada piagam penghargaan dari kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jatim pada 15 Juli 1988 sebagai peserta pawai kesenian daerah dalam ajang Festival Seni Daerah Jatim. Piagam penghargaan tersebut disimpan dalam map khusus.
Dengan nada suara pelan dan intonasi terbata-bata, Djakimin mengatakan bahwa menari adalah napas dalam hidupnya. Utamanya saat muda. Tiada hari tanpa menari dengan memainkan lakon-lakon cerita dalam tari topeng Malangan. “Jika tidak menari, anak istri saya tidak bakal makan. Dari kesenian inilah, saat itu kami bisa makan,” ungkap dia. Makanya, setelah meninggalkan aktivitas kesenian itu sejak 15 tahun lalu karena serangan darah tinggi, Mbah Min banyak merenung.
Sejak saat itu dia tidak lagi bisa beraktivitas dan menolak banyak tawaran tampil di sejumlah acara, baik di dalam atau di luar kota. Semangat yang tetap membara di dada tidak lagi sebanding dengan kekuatan fisiknya yang kian lama kian menurun dan sakit-sakitan. Namun, meski sakit, hingga sekarang, dia belum pernah menjalani rawat inap di rumah sakit. “Jika sakit, cukup panggil mantri, disuntik, dan alhamdulillah sembuh,” katanya.
Sejak tak lagi aktif di kesenian, praktis untuk hidup kesehariannya, Mbah Min mengandalkan hasil jerih payah anak cucunya. Apalagi sejak tiga tahun lalu, istrinya, Reti, meninggal. “Sekarang saya tidak bisa bekerja keras. Aak-anak saya sudah hidup sendiri-sendiri,” tutur kakek 5 cucu dan 5 cicit.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya berobat, Mbah Min terpaksa menjual beberapa barang kesenian miliknya. Misalnya keris yang ia gunakan manggung. Sawah seluas seperempat hektare juga terpaksa dijual untuk merehabilitasi rumahnya yang sudah reot. “Saya sendiri bekerja sebagai pegawai honorer penjaga SDN Pulungdowo II. Sepuluh tahun bertugas, per bulan digaji Rp 250 ribu,” ungkap Rochman, sang cucu. Dengan pendapatan sebesar itu, dia mencukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhan hidup lima anggota keluarga.
Sebagai seniman di Tumpang, Mbah Min tergolong senior. Dari tiga orang yang eksis berkecimpung di seni tari topeng Malangan dari Padepokan Sri Margo Utomo, Tumpang, hanya dia yang masih hidup. Sedangkan Mbah Rasimoen dan Mbah Gimun sudah meninggal. Sementara Soetrisno yang kini tergolek sakit di RSSA lebih dikenal sebagai sosok penyungging (pembuat) topeng Malangan. Sementara untuk penularan jiwa seninya, Mbah Min mengakui sendiri kurang. Ini karena keahlian yang dia miliki adalah penjiwaan seni peran para tokoh lakon dalam seni pertunjukan tari topeng Malangan.
Mardi Sampurno
(yn/radarmalang)
- Berita Lainnya :
- Banjir Mengancam 22 Desa di Kabupaten
- Potensi Wisata Pemandian Sumberringin di Tumpang
- 300 Penambang Tak Berijin
- Diusir Pemilik Lahan Sekolahan, 195 siswa SDN Sumberkerto 1 telantar
- Berkat Tukar Guling Pemkab-Perhutani, Aset Tanah Kota Batu Bertambah
- Aspal Runway 17 Bolong, Jadwal Penerbangan Terganggu
- Penderita Tipes dan Influenza di Kabupaten Malang Meningkat

















Leave your response!