Home » Kabupaten Malang, Kota Malang, Malang Raya

Industri Rotan Stagnan

23 September 2008 No Comment

Meski potensial sebagai pendapatan daerah, industri rotan Malang belum bisa bangkit. (FIONNA MEDIONY/MALANG POST)

Meski potensial sebagai pendapatan daerah, industri rotan Malang belum bisa bangkit. (FIONNA MEDIONY/MALANG POST)

Menyusutnya perajin rotan di Kota Malang secara signifikan berdampak terhadap berkurangnya aset kebanggaan Kota Malang. Sebelumnya, Malang pernah dikenal sebagai pengekspor mebel rotan yang cukup populer. Jangkauannya bahkan hingga negara uni Eropa, Prancis, hingga negara-negara Timur Tengah. Namun sejak 2002, perlahan-lahan rotan menghilang dengan jumlah perajin yang menyusut hingga 75 persen.

Kepala Bidang Koperasi & UKM Dinas Perindagkop Kota Malang, Wadjdi Syah mengatakan, dari 300an perajin rotan di wilayah Kota Malang, saat ini hanya tersisa seperempatnya saja, sekitar 75 perajin saja. Itupun, tidak lagi mengekpor ke negara luar. “Banyak sekali yang menjadi faktor penghambat stagnannya industri rotan ini. Salah satunya, peristiwa Bom Bali yang menghilangkan potensi buyer luar negeri yang biasanya memesan rotan Malang melalui Bali,” kata Wadjdi saat ditemui Malang Post kemarin.

Dengan hilangnya kepercayaan buyer, pasar rotan ini diambil alih oleh negara tetangga yang juga menggunakan rotan Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena illegal logging yang marak terjadi. Desain mebel rotan yang hanya begitu-begitu saja menjadi faktor utama terhambatnya pengembangan industri rotan ini.

“Kita memerlukan inovasi, bisa dari pelaku industri sendiri maupun dengan perguruan tinggi atau lembaga desai yang membina pengusaha rotan,” jelasnya.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, ungkap Wadjdi, bukan tidak mungkin nasib rotan akan sama dengan nasib keramik yang kalah dengan keramik Cina. Menurutnya, untuk mengembalikan kejayaan rotan di Malang cukup sulit karena membutuhkan kerjasama dari berbagai unsur dan instansi. Yang pasti, lanjutnya, perlu adanya pembinaan terpadu bagi pengusaha rotan, serta terbukanya akses terhadap pengembangan pasar baru di skala regional, nasional, maupun internasional. Pengembangan jaringan pasar melalui multimedia serta proteksi impor juga diperlukan agar industri rotan Malang tidak semakin terpuruk.

“Saat ini, industri di Malang hampir sama rata. Semuanya biasa-biasa saja. Tidak ada yang benar-benar menonjol menjadi andalan Kota Malang,” tukasnya.(fio/lim) (Fionna Mediony/malangpost)

Keywords: , ,

Tidak ada Komentar »

  1. Sama dengan keadaan Cirebon. Malahan sekarang banyak yang tutup, pengangguran bertambah. Walaupun kata pemerintah, kebijakan pro ekspor, tapi tetap saja ekspor bahan baku rotan diperbolehkan.

    Tonton

    Komentar oleh tonton — 15 Oktober 2008 @ 08:11

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar