Aliefianto Wakili Malang Di Ajang IMSO

Alief bersama kepala SDN Purwantoro I Onih Sukaenih menunjukkan beberapa piala yang berhasil ia sabet.(foto:Lailatul Rosida/Malang Post)
“Seleksi IMSO ini dimulai sejak tingkatan Pengawasan. Waktu itu nama saya tidak ada di urutan pemenang. Kepala sekolah saya Bu Onih merasa curiga kenapa saya tidak menang. Lalu saat dicek kembali ternyata ada kesalahan penjumlahan nilai,†ungkap Alief saat ditemui Malang Post di sekolahnya kemarin.
Onih Sukaenih S.Pd, Kepala SDN Purwantoro I yang kemarin mendampingi Alief membenarkan penuturan siswanya itu. Menurut Onih selama ini Alief sangat menonjol untuk mata pelajaran IPA. Karena itu ia merasa aneh, kalau siswanya tidak bisa lolos di tingkatan pengawasan gugus II Purwantoro. Dan saat ia memberanikan diri mengecek nilai, ternyata memang ada poin yang belum dijumlahkan. Protes Onih pun berbuah manis. Kini Alief, bisa membawa nama harum Kota Malang di ajang internasional.
Menjelang IMSO nanti, ada banyak kesibukan yang dilakukan putra pasangangan Widjatmoko Seno Apriyanto dan Nani Widayanti ini harus bolak-balik Malang-Jakarta untuk mengikuti tahapan pembekalan menjelang ajang internasional yang akan digelar November mendatang di Mataram. Pada 8 September besok, ia harus balik lagi ke Jakarta untuk mengikuti pembinaan tahap ke enam.
“Karena harus bolak-balik Malang Jakarta ya cukup capek juga. Selain itu saya harus lebih rajin lagi belajar untuk mengejar ketinggalan di kelas,†ungkapnya.
Siswa kelahiran Malang 8 Mei 1997 ini mengaku yang paling membuat stress saat pembinaan di Jakarta adalah saat menghadapi soal Fisika. Baginya soal ini paling rumit. Karena itu ia merasa stress jika berhadapan dengan Fisika. Alief pun sempat sakit gara-gara Fisika. Lalu apa obatnya kalau sedang stress? Menurut dia obat penawarnya adalah membaca buku Biologi. Cukup unik memang, tapi itulah Alief. Ia sangat menyukai Biologi dan tak suka Fisika. Meski demikian ia bertekat untuk berjuang keras agar bisa meraih medali di ajang IMSO nanti. Selain mengikuti pembinaan di Jakarta, ia juga rajin mengikuti privat di rumah. Privat bahasa Inggris dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuannya berbahasa inggris. Sebab soal-soal di ajang IMSO nanti berbahasa Inggris. Selain itu ia juga mengikuti bimbingan belajar di Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) supaya bisa mengejar ketinggalan di kelas.
“Targetnya supaya bisa lulus UASBN dengan nilai bagus,†ungkapnya.
Sementara itu Onih menuturkan prestasi yang dicapai Alief merupakan wujud kerjasama yang baik antara sekolah, siswa, orang tua siswa, komite, dan juga dinas pendidikan (Disdik) Kota Malang. dan ia berpesan agar siswanya tidak puas dengan prestasi yang sudah diraih, sehingga terus belajar untuk mengikuti tingkat berikutnya. (oci/sir/eno) (Lailatul Rosida/malanpost)
Keywords: lomba, prestasi- Berita Lainnya :
- Satukan Bangsa Melalui Busana Adat
- Lupakan Persipura, Fokus pada Persela
- Pengaman Saat Pilwali Diperketat
- Pemanfaatan Air Wudhu untuk Tanaman
- Duta Bhawikarsu SMAN 3 Harus Jadi Teladan yang Baik
- Kemungkinan Rotasi Sangat Besar di Lini Tengah-Belakang
- Yohana Turut Meriahkan Pameran Wedding di MOG
















Kasihan, anak sekecil Alief dibebani dengan berbagai hal yang mayoritas hafalan yang melebihi kapasitas otaknya. Padahal ilmu2 paksaan itu belum tentu bermanfaat dalam perjalanan hidup Alief yang masih panjang.
Apapun yang diraih dalam lomba IMSO, hanya kebanggaan sesaat, dan itu tak bermanfaat apapun bagi perkembangan otak Alief, bahkan cenderung banyak mudharatnya.
Kasihan, ….Sebaiknya kita selamatkan anak2 kita dari “penyiksaan otak” seperti yang dilakukan terhadap Alief.
Hentikan lomba-lomba penyiksaan otak itu hanya Proyek Mercusuar bidang pendidikan yang hanya menguntungkan segelintir panitianya.
Komentar oleh Haji Muhammad Suharto — 19 September 2008 @ 14:50