Home » Berita, Kota Malang, Pendidikan

Diwajibkan Beli Buku, Diprotes Wali Murid

25 Juli 2008 5 Comments

Gara-gara dititipi beberapa penerbit, SDN Klojen diprotes wali muridnya. Kemarin ada wali murid yang mengadukan soal kewajiban membeli buku di sekolah.

Padahal kebijakan itu jelas dilarang. Apalagi menurutnya, harga buku yang dijual sekolah lebih mahal dibandingkan harga buku di luar. Sementara murid, diharuskan membeli karena buku itu adalah lembar kerja siswa, yang memang harus diisi.

‘’Siswa diwajibkan beli buku di sekolah dan saat dicek ternyata harganya lebih mahal dibandingkan harga di luar,’’ ungkap salah satu wali murid, yang keberatan namanya dikorankan.
Sementara saat dikonfirmasi mengenai pengaduan ini, Kepala SDN Klojen Drs Sya’roni membantahnya. Sebab menurut dia, tidak ada paksaan untuk membeli buku paket pelajaran di sekolah. Yang benar menurutnya, sekolah hanya menawarkan untuk membeli buku lembar kerja siswa (LKS) dari beberapa penerbit saja.

‘’Memang ada beberapa penerbit yang titip kepada koperasi untuk menjual buku LKS untuk beberapa mata pelajaran. Tapi saya sudah mewanti-wanti kepada penerbit jika harganya lebih mahal dibandingkan di luar, maka akan saya kembalikan,’’ tegasnya.

Pembelian LKS itu menurutnya, juga tidak bersifat wajib. Namun bagi siswa yang memerlukan bisa membeli. Kalaupun saat ini ada yang mengaku keberatan, ia siap untuk mengembalikan semua titipan buku LKS dari penerbit itu.

Di SD hasil regrouping itu, kata Sya’roni, sekolah berupaya memaksimalkan buku paket bantuan dari BOS Buku. Selain itu semua buku paket juga sudah diberikan gratis oleh Dinas Pendidikan (Disdik) kepada semua murid.

Buku itu dikelola oleh perpustakaan dan dipinjamkan kepada siswa di tiap kelas. Jika siswa sudah naik kelas, buku harus dikembalikan lagi untuk dipergunakan adik kelasnya. Karena ketersediaan buku yang sudah lengkap itulah, ia mengaku tidak akan menerima buku paket dari penerbit.

‘’Terus terang saja, di awal tahun ajaran baru banyak penerbit yang datang. Tahun ini kami hanya menerima buku LKS yang disusun oleh guru Kota Malang. Itupun sifatnya titipan, jadi kalau tidak ada yang beli, kami kembalikan lagi ke penerbitnya,’’ tegasnya.

Soal persenan yang diterima sekolah dari penjualan buku dari penerbit ini, menurut Sya’roni nilainya tidak besar. Itupun digunakan untuk mensubsidi silang siswa yang tidak mampu membeli buku.

Disinggung soal Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang diprogramkan Mendiknas, menurutnya belum bisa dipraktikkan di sekolah. Pasalnya layanan internet di sana sama sekali tidak bisa dipakai. Padahal sudah sering dilaporkan ke penyedia layanan internet. (oci/avi) (Rosida/malangpost)

Keywords: , , , ,

& Komentar »

  1. salam,

    Persoalan buku memang tidak sekedar menyediakan dan membagikan buku ke para siswa. Di sana ada persoalan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses KBM. Yach, inilah negeri kita…indonesianic :)

    wassalaam,

    Komentar oleh pakarfisika — 27 Juli 2008 @ 09:03

  2. Lha Penerbitnya hanya TITIP kok ditawarkan ke siswa apalagi DIJUAL. Tau ngga’ sih Pak, TITIP itu sifatnya gimana? Mestinya Penerbitnya yang bayar pada bapak, bukan Orang Tua Siswa.

    Komentar oleh namakuananda — 29 Juli 2008 @ 00:31

  3. bagiamana sih pak kepsek? jangan ‘kura-kura dalam perahu’. nanti jadi kura-kura sungguhan lho. atau paling tidak, kura-kura ninja. sudahlah pak. kalau jadi makelar jangan di sekolah. nanti korbannya pasti para wali murid. memang betul tidak wajib. tapi kalau guru memakai lks penerbit itu untuk pegangan. apa akhirnya muridnya juga tidak ikut gurunya?

    maaf lho pak. saya juga mengajar di salah satu lembaga pendidikan dasar keagamaan yang tidak memakai lks dalam pbm. alhamdulillah bisa, dan para muridpun dapat menikmati pembelajaran tanpa ikut memikirkan tunggakan lks atau buku ‘pengayaan’ lainnya.

    jangan bodohkan anak. dan jangan bodohkan indonesia. maaf untuk para penerbit lks. bukan berarti menyinggung lho…

    Komentar oleh nuzulul — 29 Januari 2009 @ 17:43

  4. emang bener banget tu para wali murid, saya juga ngalamin seperi itu, adek saya yang masih duduk di bangku SLTP, di pertengahan semester kemaren di wajibkan lagi beli LKS, sebelumnya kan uda di tawari buku paket ama gurunya ,

    karena saya merasa kasihan ama adek saya, akhirnya saya tuk putusin beli itu buku dengan cara mencicil, dari pada adek saya gagap ilmu..? nah ketika cicilan itu buku belom lunas, eh…..datang si LKS, dan saya suruh adek saya untuk meminta dulu dengan pembayaran di belakang, namun kata si GURU, gak di perbolehkan sebelum cicilan buku paket itu di lunasin, padahal saya udah beritikat baik untuk menyelesaikan pembayaran buku paket sebelumnya kalau sudah gajian, namun sia sia saja, tidak satu LKS pun yang di kasih,

    untuk sementara, sambil menunggu datangnya uang gajian, mau gak mau harus foto copy LKS tersebut, meskipun harus ngeluarin biaya lagi, dari pada adek saya gak ngumpulin tugas, ntar malah pengaruh ama kenaikan kelasnya,dan yang lebih di sesalkan lagi, dengan mengelus dada, ketika saya selesaikan pembayaran buku paket yang sebelumnya, dan meminta LKS dg cara pembayaran yang sama yaitu dibayar di belakang, eh……kata si GURU sudah di kembalikan ke pihak penerbit, aku juga heran, pendidikan makin tahun makin kejam saja,

    padahal saya sudah meminta surat keterangan dari kelurahan untuk pembuktian bahwa saya memang dari keluarga yang minus “Anak Yatim” dimana sebelumnya memang diminta dari pihak sekolah, tapi apalah arti itu semua kalo memang kenyataan memang jadi seperti ini,

    YA ALLAH…………..! tabahkanlah hati ini

    Komentar oleh prayogo budiman — 3 Maret 2009 @ 21:19

  5. ya..namanya bisnis ada dimana-mana, salah satunya jualan buku. pihak sekolah baik kepsek/guru pura-pura gak tau… yang saya tau pihak penerbit ngasih discount 30 - 40 %..biasannya nich..komposisinya discountnnya 25% guru, 5 % koperasi,5 % kepsek.. klo emang mau meringankan siswa ,kasih aja semuanya buat siswa,harga buku jadi murah..kasihan ortusiswa klo mahal..n penerbit juga keterlaluan harga asli buku LKS 2500-2750.. lha dijual ke sekolah 5000-7500..
    klo mau meringankan atau meningkatkan pendidikan juallah harga buku yang wajar…tidak memaksa tp menganjurkan..

    Komentar oleh Tigabro — 20 Agustus 2009 @ 15:58

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar