Home » Indonesia, Kota Malang, Malang Raya, Pendidikan

Siswa Akselerasi Cenderung Egois

19 Juni 2008 7 Comments

Siswa kelas akselerasi (percepatan) cenderung memiliki masalah dalam interaksi sosial. Dalam hubungan sosial, siswa-siswa akselerasi kurang memiliki sikap toleran terhadap lingkungan. Itu sesuai dengan karakter siswa akselerasi yang masuk dalam kategori anak cerdas istimewa (CI).

Masalah interaksi sosial itu ditemukan tim Fakultas Psikologi (FPsi) Unmer selama melakukan pendampingan terhadap siswa kelas akselerasi di tiga sekolah. Yakni SMAN 1, SMAN 3, dan MAN 3. Pendampingan tim Unmer berlangsung mulai 2007, sejak ditunjuk Ditjen Dikmenum (Pendidikan Menengah Umum) Depdiknas.

“Problem paling menonjol pada CI adalah interaksi sosial. Siswa akselerasi egonya memang tinggi. Tingkat IQ-nya tinggi sehingga ada perasaan lebih pintar dibandingkan siswa-siswa biasa. Lebih egois-lah,” kata Dekan Fakultas Psikologi Unmer Budi Siswanto di ruang kerjanya, Senin (16/6).

Dalam waktu dekat, sekolah yang dibina FPsi Unmer bakal bertambah. Itu karena SMAN 5 sedang mengajukan pendampingan. Sasaran pendampingan bukan hanya siswa, namun juga para guru pengampu kelas akselerasi.

Budi mengatakan, pendampingan untuk siswa lebih diarahkan pada pengembangan kepribadian. Konkretnya, siswa-siswa akselerasi tetap bisa mengikuti pembelajaran dengan sistem percepatan, tapi tidak sampai menghambat kehidupan sosialnya.

Ada tiga kriteria untuk anak CI. Yakni, mereka yang tergolong IQ tinggi atau high superior, tingkat kreativitas baik, dan komitmen baik terhadap tugas. Mereka yang berpeluang masuk kelas akselerasi. “Kegiatan kami mulai pengadaan tes psikologi. Baik untuk siswa dan guru. Sebab, tidak semua guru bisa mengajar di kelas akselerasi,” ujarnya.

Setelah identifikasi masalah tersebut, sekolah -terutama para guru dan BP/BK (bimbingan penyuluhan/bimbingan konseling)- bisa membantu para siswa. Dalam mengajar, misalnya, guru harus menyelipkan materi sikap toleransi dan bagaimana cara menghargai orang lain. “Setiap bulan kami evaluasi persoalan-persoalan yang kami temukan. Selama penanganan ini, kami menemukan ada satu siswa yang akhirnya memilih keluar dari kelas akselerasi. Alasannya tidak kuat,” ungkap Budi.

Terhadap persoalan itu, Budi mengingatkan para orang tua agar tidak memaksa anak masuk kelas akselerasi demi mengejar gengsi. “Harus murni keinginan anak ditambah kemampuan si anak benar-benar mampu masuk kelas akselerasi. Saat wawancara, kami biasanya membantu menyadarkan para orang tua. Jangan sampai mengintervensi anak,” ucapnya. (hap/yn)

Keywords: , ,

& Komentar »

  1. gwe ga setuju kalau anak akselerasi selalu dianggap sulit bersoasialisasi , karena anggapan itu nggak selalu benar. Buktinya banyak juga teman kami di akselerasi yang pandai memanage waktunya untuk bergaul dengan teman sebayanya. Saya sendiri mantan aksel keluar dari aksel bukan karena tak tahan namun melainkaan mengikuti kepindahan ortu gwe….. isu apaan aksel bikin minder

    Komentar oleh alvan rizaldi ramadhan — 5 Oktober 2008 @ 23:45

  2. maaf, saya tidak setuju dengan anggapan bahwa siswa akselerasi cenderung egois. saya sendiri siswa akselerasi namun kenyataannya berbeda dengan apa yg ditulis diatas. saya tidak suka membeda-bedakan teman. asal orang itu baik dan mau berteman, pasti saya tidak segan untuk berteman dengannya. sebab saya tidak ingin teman-teman lama saya menjadi minder dan menjaga jarak dengan saya.
    jadi mohon untuk tidak menyimpulkan bahwa siswa akselerasi egois, gengsinya tinggi, dsb.

    Komentar oleh Sovira Maris — 15 Juni 2009 @ 19:57

  3. siswa-sisw akselerasi sama sekali tidk egois ap lg sombng,sy blg seperti ini krna sya adalah slah satu dari mereka. Mmg susah untuk bersosialisasi sama siswa reguler karena disamping beban untuk menyandang status akselerasi juga cukup buanyak tgas yg harus diselesaikan. jd, pass ktemu ma tmen-tmen laennya g’ bs nyapa saking byk yg dipikrin.

    Komentar oleh dwi restu — 6 Juli 2009 @ 15:17

  4. selamat pagi.
    Saya sekilas membaca tulisan anda mengenai anak yang ikut aksel jadi sombong. Sbenarnnya saya yang memiliki teman anak aksel, merasa itu bukan sombong. Melainkan anak seperti golongan tersebut mentalnnya menjadi berkembang lebih cepat dari usiannya.
    Sehingga tidak menutup kemungkinan, semisal anak yang seusia SD bertingkah laku sebagai anak SMP. Atau anak SMP bertingkah laku sebagai anak SMA. Sehingga mereka berkembang mengikuti dimana lingkungannya. Sebab di situlah tenpat mereka bersosiallisai. Jadi menurut saya kesan sombong itu muncul karena anak itu mentalnya menjadi lebih dewasa dari teman yang sebayannya. Sehingga teman sebayanya berpikir bahwa temannya itu menjadi sombong.
    Sebagai cntoh teman saya. Dia seharusnya sekarang kelas 3SMP.

    Sekarang kelas 2 SMA. Dalam bertingkah laku, dia berperilaku sebagai anak SMA. Tapi cara yang dilakukan, tidak sesuai dengan usianya. Seperti berbicara kasar, gaya bahasa yang selengehan, kurangnnya rasa hormat pada teman-temannya yang padahal lebih tua.

    Jadi saya sarankan kepada anak CL, agar jangan terlalu sibuk bersosialisasi dengan teman sekelas atau seangkatan.
    Jangan sampai mental anda berkembang terlalu dewasa.
    Sebab teman sebaya anda yang berperan lebih baik dalam perkembangan mental anda.

    INGAT, SEGALA HAL DI DUNIA INI YANG BERLEBIHAN ITU JELEK…..
    DAN SEGALA HAL DI DUNIA INI JIKA KURANG ITU JELEK…..
    LEBIH BAIK DI TENGAHNYA AGAR TERJADI KEHARMONISAN…..

    THX,,,,

    ADD saya di fb ya….
    Andreas Robertus Andie Aryabima

    Komentar oleh Aryabima — 7 Juli 2009 @ 10:01

  5. maaf,,, gga setuju. coz dari anak2 aksel yang aku kenal,,, mereka gga egois.
    justru,, anak2 aksel sering bantu-membantu kalau misalnya ada pelajaran yang belum dimengerti siswa yang lain.
    beberapa anak aksel juga ikut berorganisasi, seperti MPK, Pecinta Alam,, Pramuka, de el el……… ekskul juga. bahkan pemenang Putri Sekolah kemaren juga anak aksel,, bukankah dalam Pemilihan Putri Sekolah ada tes kepribadian juga? dia lolos!

    jadi,,,perkembangan sosial anak2 aksel gga tertinggal kan. . . ?

    Komentar oleh nana — 7 Agustus 2009 @ 16:32

  6. ngomong2 soal arogan,,,
    pernah, ketika seorang teman ditanya “kamu dari kelas mana?” teman itu menjawab “X-11″ padahal di sekolah itu kelas X hanya sampai kelas X-10. Seharusnya dia menjawab X-aksel-1,, tapi karena M A L U akhirnya dia menjawab demikian…….. IA TAK MAU DIANGGAP LEBIH PINTAR

    masih ada lagi kisah serupa

    Komentar oleh nana — 7 Agustus 2009 @ 16:44

  7. engga semua anak aksel sulit untuk berinteraksi sosial .
    buktinya , dengan mudah saya bermain dengan kelas lain . .

    Komentar oleh jingga — 14 September 2009 @ 20:34

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URL Lacak Balik

Tinggalkan komentar